
"Terima kasih, dek." Kata Galih pada adiknya sambil tersenyum lembut. Tak sengaja, Dara melihat senyuman lembut laki-laki itu. Buru-buru menunduk pandangannya.
"Iya, kak" Mirna pun membawa Dara ke dalam kamar.
Tiba di kamar, Mirna mendudukkan istri sepupunya itu di atas ranjang.
"Terima kasih," ucap Dara ingin membaringkan diri.
"Hm." Mirna hanya berdehem dan melangkah keluar dari kamar menuju kamarnya.
Ia mengambil obat, kemudian memberikan pada pelayan. Ia menyuruh pelayan membawa obat tersebut untuk Dara.
"Apa yang kau lakukan Mirna!!" Sentak Yunda mengambil obat yang berada di tangan pelayan, kemudian menyuruh pelayan itu pergi.
Mirna memutar bola mata malas. "Tante itu apa-apaan sih! Jangan jadikan kak Galih manusia buruk seperti itu dong tante, kalau Mama Yuni tau apa yang aku lakukan, dan membiarkan kak Galih di peralat sama tante, pasti Mama Yuni akan marah besar!" Ketus Mirna mengingat sikap Mamanya (kakak Yunda) yang sungguh tegas dan tidak bisa bertoleransi.
"Ck, kamu jangan coba-coba untuk mengancam tante dengan Mamamu Mirna! Kalau sampai Mamamu tau apa yang tante lakukan! Itu semua pasti karena kamu yang mengadukan tante!!"
"Ya sudah! Kalau tante tidak mau Mama marah, hentikan semua kegilaan tante ini! Jangan jadikan kakakku sasaran tante dong! Kak Galih itu mustahil akan menyakiti orang lain, apa lagi kak Adam!"
__ADS_1
"Kau mulai kurang ajar sama tante kamu? Kamu mau kalau tante memberitahu semuanya keburukan kamu juga sama Mama kamu! Kamu jangan lupa Mirna, kamu juga yang membawa Kinanti datang ke sinikan! Jika sampai kak Yuni tau apa yang aku lakukan, kamu juga harus menanggung akibatnya!" Ancam Yunda pada ponakannya.
Karena mereka tidak ada yang berani dengan Mama Yuni, ibu Galih dan Mirna. Wanita itu sangat berbahaya jika sampai dia marah. Yunda dan Yuni memang bersaudara, tapi sikap mereka sangat bertolak belakang.
Mirna masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Yunda yang mengancamnya.
Lain halnya di kamar Galih. Kinanti tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar laki-laki tampan itu.
"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Galih pada Kinanti.
"Apa yang kau lakukan di negara ini? Apa kau meninggalkan wanita itu?" Tanya Kinanti.
"Kenapa kau selalu marah-marah? Tapi aku sedikit penasaran, bagaimana ya reaksi tante Yuni, kalau sampai dia tau apa yang pernah dilakukan oleh putranya yang dia bangga-banggakan ini?" Tersenyum miring.
"Kau mencoba untuk mengancamku?" Galih mengatupkan giginya.
"Tidak, aku hanya menebak-nebak saja." Tersenyum, dan keluar dari kamar Galih.
Perempuan bermuka dua. Batin Galih.
__ADS_1
,,,
Di Mension tuan Abimanyu.
Icha tiba-tiba saja terjatuh dan tak sadarkan diri.
Pelayan yang melihat gadis itu, di buat huru-hara dan cemas. Buru-buru memanggil tuan Abimanyu.
"Icha!" Pria paruh baya itu sangat kaget melihat putrinya.
"Cepat, kita ke rumah sakit sekarang!" Menggendong tubuh kecil putrinya. Dan membawa gadis itu berlari keluar Mension. Kebetulan Vano tak berada di rumah, karena dia keluar kota untuk menggantikan mertuanya.
Icha langsung di larikan kerumah sakit.
Setelah kepergian tuan Abimanyu. Laras datang ke Mension, dan mencari keberadaan temannya. Tapi pelayan disana bilang, jika Icah di larikan ke rumah sakit lagi, tapi berbeda dengan sebelumnya. Sekarang kondisi gadis itu bertambah serius.
Mendengar kabar tersebut. Laras tidak langsung kerumah sakit, ia melangkah naik kekamar sahabatnya. Kemudian mencari buku diary Icha.
Setelah menemukan itu. Ia mengambil dan berniat mencari keberadaan Vano.
__ADS_1
"Dia harus tau apa yang terjadi, sebelum dia menyesal. Maafkan aku Icha, aku tidak bisa menjaga rahasia ini lagi dari suamimu." Gumam Laras berlari turun kebawah.