Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Hati-hati


__ADS_3

Delmond di sambut ramah oleh pemilik restoran itu.


Laki-laki berahang tegas itu memesan sebuah ruang VVIP.


Pemilik tersebut langsung patuh dan mengantarnya dengan sopan masuk ruangan.


"Apa kau alergi sesuatu? atau vegetarian?" Tanya Delmond mendudukkan diri.


Ayya masih berdiri, ia tak tahu jika laki-laki di depannya itu sedang mengajaknya berbicara.


Pria tampan itu mengambil sebuah asbak yang berada di atas meja dan langsung melempari gadis itu.


Tak!


Tepat mengenai lengannya. "Arkh!" Ia kaget mendapat lemparan tersebut.


"Apa yang kau lakukan berdiri di situ? Dan aku juga bertanya padamu, apa kau dengar?" Ulang Delmond menatapnya dingin.


GLEK


"A-apa yang tuan tanyakan tadi?" lirih gadis itu takut.


"Apa ada makanan yang tidak kau makan?" ulangnya.


Menggeleng. "T-tidak, Tuan." Jawab gadis itu terbata-bata.


"Duduklah, jangan sampai meja ini lagi yang melayang ke wajahmu."


Mendengar ucapan laki-laki itu, Ayya bergegas mendudukkan diri, sebelum meja itu benar-benar melayang ke wajahnya. Pikir Ayya.


Tak berapa lama makanan yang di pesan Delmond sudah tiba.


"Makanlah, sebelum aku yang menyuapimu." Lagi-lagi laki-laki itu mengancamnya.


Ayya mulai memakan makanan yang di pesan oleh pria tak ia kenal itu.


Mula-mula gadis itu terlihat malu-malu dan takut. Tapi saat ia merasa perutnya sangat menuntut, akhirnya ia makan dengan buru-buru sehingga terlihat gadis itu belepotan.


Bagaimana tidak, dari gadis itu tiba di kota, ini pertama kali ia mendapat makanan. Semalam ia tak sempat makan saat suaminya sudah memukulnya setiba dari mini market.

__ADS_1


Selesai laki-laki itu menganiaya dirinya. Aldi kembali menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan menyuruhnya mandi tanpa memberi gadis itu makan, padahal Aldi juga tahu jika gadis itu belum makan dari mereka berangkat di desa.


Delmond juga ikut makan bersama gadis di depannya. Pria itu terlihat cuek saja saat gadis didepannya makan belepotan.


Dia kembali mengkode pelayan untuk menambah makanan.


Pelayan itu segera mengambil makan lagi dan menaruh di depan Ayya. Gadis itu tanpa rasa malu lagi kembali menambah makanannya.


Toh Delmond cuek-cuek saja. Iya sudah, ia makan saja sepuasnya.


Selesai gadis itu makan, akhirnya ia baru bisa merasa bernafas lagi setelah menahan lapar dalam kurun waktu yang sangat lama. Untung saja gadis cantik itu tidak mati kelaparan.


"Kau sudah kenyang?" Tanya Delmond menyimpan sendok di tangannya.


Laki-laki itu juga menghentikan makan saat melihat gadis di depannya sudah selesai.


Mengangguk pelan sambil menunduk. Ia tak berani menatap laki-laki yang hampir saja mengambil kesuciannya tadi malam.


Delmond merogoh sakunya dan mengambil dompet.


"Ambil uang ini jika kau mau" ujarnya menyimpan beberapa juta rupiah di atas meja.


Gadis itu menarik ujung baju Delmond yang membuat ia menghentikan langkah.


"Ada apa?"


"A.... A-apa aku bisa ikut bersama anda, Tuan?" Tanya Ayya penuh harap. Ia sangat takut jika sampai di temukan oleh suaminya, dan gadis itu dapat merasakan jika pria di depannya itu adalah pria baik-baik yang hanya tampak seperti menyeramkan.


Jika laki-laki itu tidak baik, mungkin semalam saja ia sudah di terkam. Pikirnya.


Delmond melepas tangan Ayya yang memegang di ujung bajunya.


"Jangan terlalu percaya dengan seseorang. Apa lagi dia itu adalah seorang laki-laki, hidup di kota itu sangat keras, jadi berhati-hatilah, karena kapan saja laki-laki bisa menerkam mu." Kata Delmond beredar pergi dari hadapan Ayya.


Tentu saja ia tak mungkin membawa gadis itu ikut bersamanya. Apa lagi ia adalah laki-laki yang bebas mengelilingi dunia. Dan lagi ia adalah seorang buronan, kapan saja jika ada yang membelot dan dia lalai, ia akan di ceploskan ke dalam penjara.


,,,


"Kita sudah mencari kemana-mana, tapi kita belum juga menemukan gadis itu, kak" kata Frey lelah tak menemukan hasil apapun setelah mencari adiknya.

__ADS_1


"Kita mampir dulu di depan untuk makan siang." Ujar Arkan menunjuk restoran mewah tempat Ayya mampir bersama Delmond.


"Iya, kak. Aku juga sudah lapar banget."


Arkan memarkir mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran bersama Frey.


Di pintu masuk ke dalam. Delmond dan Red berpapasan dengan kedua kakak adik itu.


Arkan melihat ke arah Delmond yang hanya berjalan lurus ke depan sambil melewatinya.


"Kakak kenal dengan laki-laki tadi itu?" Tanya Frey pada Arkan.


Menggeleng. "Tidak, tapi itu laki-laki yang menjadi buronan polisi sudah sejak lama, entah sudah berapa tahun kakak juga tidak tau, tapi yang kakak dengar dia selalu banyak cara dan akal agar bisa bebas dari para polisi yang ingin sekali memenjarakannya," jelas Arkan.


"Mengerikan." Jawab Frey bergidik ngeri saat membayangkan Delmond yang hidup dengan harta berlimpah, tapi menjadi buronan para polisi dan setiap gerak geriknya sering di awasi.


"Kita di luar sini saja?" Tanya Arkan pada Frey.


"Iya, kak. Di sini saja deh, lebih enak di sini."


Adik kakak itu mendudukkan dirinya sambil memesan makanan.


Di luar restoran.


Aldi memarkir mobilnya sambil marah-marah kemudian turun dari mobil.


"Perempuan gila! Awas saja jika sampai aku menemukanmu! Akan aku buat kau babak belur!" Umpat Aldi menendang ban mobilnya.


Di dalam ruang VVIP.


Ayya menatap uang yang berada di depannya. Ia tak ingin mengambil uang itu, apa lagi tadi laki-laki asing itu sudah memperingatinya jika uang itu tidak 'halal' tapi jika dia tidak mengambil uang tersebut bagaimana ia bisa bertahan hidup? Sedangkan ia tak mempunyai uang sepeserpun di kota yang asing baginya.


Tak ada siapapun yang ia kenal di sana. Ia benar-benar buntu.


Dengan menarik nafas dalam. Gadis itu mulai mengambil uang yang berada di atas meja.


Ya Allah. Hanya dengan uang ini aku bisa bertahan hidup. Batinnya dengan ragu mulai memasukkan uang itu ke dalam sakunya.


Ia berdiri dan mulai melangkah keluar dari ruang tersebut.

__ADS_1


Tiba di luar, bola mata teduh gadis itu tak sengaja bertemu dengan bola mata Frey yang menunggu pesanannya.


__ADS_2