
"T-tapi nyonya---------
"Jangan memanggilku nyonya, panggil saja Mami seperti Adam. Jangan tolak keinginan Mami dong Dara... Apa kau tidak kasihan sama Mami?" Yunda memelas membuat wajah bersedih, agar dia bisa mencapai tujuannya untuk membuat menantunya tinggal di sana.
"Tapi nyo... M-Mami maksudnya---" Dara masih berusaha untuk menolak.
Yunda melepas tangan Dara yang berada dalam genggamannya tadi.
"Iya sudah, kalo kamu tidak bisa memaafkan Mami. Mami tau, begitu banyaknya dosa yang sudah Mami lakukan pada kamu, maka itu, kamu masih dendam sama Mami." Ujar Yunda ingin membalikkan kursi rodanya.
Dara yang merasa tidak enak. Kembali menahan wanita paruh baya itu.
"B-baiklah M-Mami, aku akan tinggal disini temani Mami," jawab Dara tersenyum paksa.
Yunda tersenyum jahat dalam hati. Karena dia sudah berhasil memperdayakan menantunya itu.
,,,
__ADS_1
Tiba saatnya hari yang Yunda dan kedua wanita itu nanti-nantikan, dimana Adam akan pergi.
Dara mengantar suaminya ke bandara bersama dengan Galih.
Alasan Galih juga ikut serta. Itu karena Yunda yang meminta Galih untuk mengantar Dara dan Adam ke bandara. Adam juga sangat senang saat melihat Maminya sudah bisa menerima wanita yang dia cintai. Karena Yunda terlihat benar-benar tulus pada Dara, sama sekali tak terlihat dari wajah wanita paruh baya itu, jika dia sedang bersandiwara.
"Aku datang mengunjungimu di sini, tapi kau malah pergi," kata galih pada Adam.
"Ini juga sangat penting Ga, kau tunggu aku di sini ya, jangan pulang dulu sebelum aku datang," kata Adam pada sepupunya itu.
"Aku tidak bisa janji." Kata Galih memeluk Adam. Setelah itu ia beredar dari dekat Adam dan Dara.
"Jika cepat selesai, aku pasti akan datang secepatnya sayang," lembut Adam memeluk hangat istrinya.
"Kamu janji iya, Mas" wanita cantik itu berkaca-kaca.
"Lah... Kok nangis sayang? Inikan bukan pertama kali aku mau pergi," kata Adam mengusap bulir-bulir bening dari kedua bola mata Dara yang mulai mengalir.
__ADS_1
"Aku hanya sedih saja..." Dara memeluk erat pinggang suaminya.
"Kamu aneh sekali loh sayang?"
"Enggak aneh kok"
"Ya sudah. Mas berangkat dulu ya, jaga hatimu untuk aku sayang," mengecup dahi istrinya.
"Hati-hati," ujar Dara tersenyum.
"Iya sayang." Adam membalik badan dan pergi sari hadapan istrinya bersama Asisten tentunya.
"Kita sudah bisa pulang adik ipar?" Tanya Galih menghampiri Dara yang masih setia melihat punggung suaminya meski telah menghilang di pandangan. Wanita itu seperti begitu berat melepas kepergian suaminya.
Mendengar suara Galih. Dara langsung tersadar dan melihat sekilas pada laki-laki itu. Ia sangat canggung, karena mereka tidak sedekat itu sebelumnya.
"Ah, i-iya kak." Jawab Dara terseyum canggung. Galih juga sebenarnya canggung pada istri sepupunya itu, tadi dia juga tidak ingin mengantar Adam. Tapi karena tidak enak dengan tantenya yang terus memaksanya, akhirnya ia terpaksa pergi.
__ADS_1
Dara dan Galih sama-sama melangkah ke arah mobil Adam yang di kenderai oleh Galih.
Di dalam mobil. Dara hanya diam, begitupun dengan Galih. Mobil itu menjadi sunyi dan di selimuti kecanggungan dari keduanya. Hanya saja, Galih tak memperlihatkan pada Dara jika dia juga canggung. Laki-laki itu terlihat biasa-biasa dan santai.