
Adam masuk ke dalam kamar putranya. Ia hanya bisa menggeleng saat melihat Dara sudah tertidur pulas sambil memeluk putranya.
Ia hanya menarik nafas memperbaiki selimut untuk menutupi tubuh Dara dan Arkan. Ia juga ikut menaikkan dirinya berbaring dipunggung Dara sambil memeluk wanita itu dari belakang.
Mencium rambut istrinya yang terasa beraroma sangat wangi. Kapan kau akan mengerti tentang perasaanku padamu Dara, sampai hari ini selama lima tahun hubungan kita tidak ada perkembangannya sama sekali. Batin Adam.
Ini juga bukan salahnya, kesibukanku di perusahaan, membuat aku sering pergi dan tidak punya waktu luang untuk kita berdua. Tambah Adam masih membatin.
Perlahan ia mulai menutup kedua bola matanya. Ikut terlelap bersama Dara dan putranya.
,,,
Keesokan harinya.
Anim melihat Adam yang baru keluar dari kamar Arkan.
"Mas, kau sudah pulang? Kapan kau pulang?" Tanya Anim.
"Kemarin." Singkat Adam ingin melewati wanita itu. Tapi Anim menahan lengannya.
"Kemarin? Aku tidak melihatmu semalam Mas? Apa kau tidur bersama Arkan?"
"Hm, aku tidur dikamar putraku." jawab Adam kembali ingin melangkah.
Tapi Anim masih belum melepaskan lengannya. "Sampai kapan kau akan dingin seperti ini padaku Mas?" Bola matanya sudah membendung. Karena sudah lima tahun usia pernikahan mereka, Adam semangkin dingin padanya. Jarak di antara Anim dan Adam semangkin dalam jurang yang membentengi.
"Sampai kapanpun, jika kau masih mampu bertahan." Menarik tangannya masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuhnya karena ingin bersiap-siap sebentar lagi ia mau berangkat kekantor.
Air mata wanita itu terjun bebas begitu saja. Hatinya semangkin sakit dan terluka bertahan dalam pernikahan itu. Ia ingin meminta cerai pada Adam, tapi dalam masa yang sama ia juga masih sangat mencintai suaminya.
Tak di sangka ia harus membayar mahal atas semua perbuatannya karena pernah menyelingkuhi Adam. Padahal ia sudah lama mengakhiri hubungannya dengan Vano, tapi kesannya masih sama pada Adam yang sudah terlanjur kecewa padanya.
,,,
"Papa, papa antar Arkan ke sekolah ya Pa," ujar Arkan di meja makan sambil sarapan.
Di meja itu ada Anim, Dara, Frey dan Adam. Mereka semua sedang sarapan.
"Untuk apa Mas Adam mau mengantarmu pergi sekolah. Suruh saja Mamamu, bukannya setiap pagi Mamamu yang mengantarmu!" Anim yang menjawab Arkan dengan nada tak suka.
__ADS_1
"Kan Papa yang sering antar Arkan ke sekolah kalau Papa sudah pulang lagi kerumah tante," jawab Arkan tersenyum.
"Dia itu bukan Pa------
TAKK!
Mereka semua yang berada di meja makan kaget saat Adam memukul meja makan. Karena Anim ingin mengeluarkan kata-kata yang akan menyinggung perasaan putranya.
"Jaga ucapan-mu Anim!!" Bola mata laki-laki itu tampak memerah menahan amarahnya. Andaikan saja di-sana tidak ada Frey dan Arkan. Adam pasti sudah menampar mulut wanita tidak tau diri itu.
"Kau seharusnya bercermin pada dirimu sendiri Anim!" Adam berdiri sudah tidak bernafsu lagi untuk melanjutkan sarapannya. Kemudian melangkah keluar.
Anim terdiam dengan bola mata kembali membendung. Karena laki-laki itu benar-benar sudah berubah seperti laki-laki lain yang tak ia kenal.
"Ini semua karena kamu j*lang!!" Anim meneriaki Dara.
Dara ingin menjawab Anim. Tapi sebelum itu ia terlebih dahulu melihat kearah Arkan dan Frey. Wanita itu mengurungkan niatnya. Berdiri dari meja makan.
"Kau sudah selesai sayang?" Tanya Dara pada Arkan mengabaikan Anim yang diselimuti amarah.
"Sudah Ma," jawab Arkan juga berdiri mengambil ranselnya.
"Ayo kita keluar, Papa juga mau berangkat kekantor, nanti Papa bisa telat," Dara menggandeng putranya keluar dari meja makan.
Frey hanya bisa menunduk diam. Bukan pertama kali ini ibunya mengabaikannya. Jadi dia sudah terbiasa dengan sikap dingin ibunya padanya.
Di depan Villa Dara membawa Arkan ke mobil Papanya yang menunggunya.
"Jangan nakal di sekolah ya, nanti pulang sekolah Mama yang jemput," ujar Dara pada Arkan.
"Iya Ma," Arkan mencium punggung tangan Mamanya kemudian masuk kedalam mobil.
"Mas, aku juga mau pamit ke toko ibuku ya," Dara pamit pada Adam.
"Naiklah, aku akan mengantarmu"
"Tidak, aku bawa mobil sendiri saja," tolak Dara tak ingin merepotkan Adam karena berpikir laki-laki itu mau kekantor.
Dara memang sudah bisa menyetir sendiri. Adam sengaja membelikannya mobil dan menyuruh supir mengajarinya agar dia merasa lebih mudah jika ada kebutuhannya diluar jika supir sedang sibuk.
__ADS_1
"Naik Dara!" Kata Adam tak ingin di bantah menyorot wanita itu.
"Baik" Dara masuk ke dalam mobil suaminya sambil mengoceh dalam hati, karena Adam tak pernah ingin di bantah olehnya.
,,,
Saat ini sudah menunjukkan pukul enam sore. Dara duduk didepan kursi kayu sambil menunggu Adam menjemputnya. Karena tadi laki-laki itu baru saja menghubunginya dan memberitahukan, jika dia sendiri yang akan menjemput Dara nanti.
Terdengar seseorang sedang menyapanya, "Dara, kau belum pulang?" Tanya Gibran padanya.
"Aku lagi tunggu Papa Arkan untuk menjemputku," tersenyum.
"Owh... Ngomong-ngomong kemana mobilmu?"
"Tadi suamiku yang mengantarku kemari, maka itu aku tidak bawa mobil,"
Adam yang baru tiba melihat Dara bersama laki-laki itu lagi. Entah mengapa emosinya jadi tidak stabil. Ia turun dari mobil menghampiri Dara dan langsung menariknya.
"Ayo pulang," menarik Dara kasar pergi dari hadapan Gibran.
"Maaf. Apa anda bisa lebih lembut jika dengan wanita?" Ujar Gibran menegur cara Adam yang tampak begitu kasar pada Dara.
Adam yang sudah di selimuti emosi karena cemburu, menghentikan langkah kakinya membalik badan.......
BUK!
Tanpa aba-aba langsung membogem wajah Gibran dengan keras.
"Sialan!" Maki Gibran membalas membogem wajah Adam. Adam kembali meninju wajah Gibran, membuat laki-laki itu oleng kebelakang.
"Jauhi istriku sialan!! Kau tau dia sudah menikah!! Kenapa kau selalu ingin mendekatinya, masih banyak wanita di luar sana. Jangan jadi laki-laki pebinor dan merusak rumah tangga orang lain!!" Adam kembali ingin memukul wajah Gibran tapi Dara menahannya.
"Sudah! Ayo kita pulang!" Dara menarik suaminya dengan sepenuh tenaga karena laki-laki itu jauh lebih besar.
Adam mengikuti langkah Dara masih menatap bola mata Gibran dengan penuh ancaman. Ia masuk ke dalam mobil bersama Dara, "Ada apa denganmu! Kau sesuka hati saja menuduh tanpa tau kebenarannya! Gibran itu sahabat aku, kami tidak mempunyai hubungan apapun!" Dara memarahi sikap Adam yang menurutnya terlalu kebudakan.
"Aku tidak suka kau dekat dengan laki-laki! Kau itu harus sadar jika kau itu istri orang!!" Bentak Adam.
"Kau yang terlalu berpikiran negatif!" Suara Dara juga tak kalah tingginya dari Adam.
__ADS_1
"Aku seperti ini, itu karena aku mencintaimu! Aku tidak suka melihatmu bersama laki-laki lain Dara! Kenapa kau tidak mengerti!!" Tanpa sadar Adam malah mengatakan perasaannya yang sudah lama ia pendam.
Dara tersentak kaget mendengar ucapan laki-laki didepannya. Karena ia tak pernah menyangka jika pria itu memendam rasa untuknya.