
Ibu Ida mendekati putranya, kemudian berjongkok dan memeluk Vano yang memeluk nisan istrinya.
"Sudah nak, lepaskan istrimu, biarkan dia tenang di alam sana," kata ibu Ida tak sanggup melihat kesedihan anaknya yang begitu mendalam.
"Bagaimana aku bisa melepasnya, bagaimana aku bisa ridho membiarkan dia pergi. Aku belum sempat mengucapkan kata maaf padanya, dan dia belum memaafkan aku. Aku sudah terlalu banyak melukai perasaannya dengan kata-kataku... Di akhir nafasnya juga, aku masih sempat menyakiti perasaannya. Ibu... Aku berdosa pada istriku Bu, aku tidak pernah ingin belajar mencintainya, aku ingin menyusul dia ke sana Bu, alu tidak sanggup berdepan dengan semua kesakitan ini..." kata Vano putus asa.
"Astagfirullah... Istighfar nak, segalanya telah di atur oleh ketentuan Allah, jangan mendahului Allah nak, insyaAllah istrimu sudah memaafkan segala dosa dan kesahan yang pernah kau lakukan padanya. Manusia tempatnya silap nak, tidak ada manusia yang tidak berbuat kesalahan. Masing-masing sudah ada porsinya tersendiri nak," kata ibu Ida bercucuran air mata melihat keputusasaan putra satu-satunya.
"Lalu bagaimana Bu... Apa yang harus aku lakukan... Seperti mana aku akan meneruskan hidup ini dengan rasa bersalahku," memeluk ibunya. Menumpahkan segala rasa sakit yang seperti mencabik-cabik perasaannya. Gambaran yang tidak bisa ia ungkapkan jika dengan kata-kata.
Flash Back.
"Icha? Apa yang kau lakukan?" Tanya Vano melihat istrinya memegang sebuah kotak kecil yang berbentuk hati.
Menarik kotak itu sedikit kasar dari tangan istrinya. "Dimana kau menemukan ini?" Lanjut Vano bertanya dengan rahang yang mengeras, karena ia berpikir jika istrinya berani mengusik barang-barang miliknya.
Padahal gadis itu hanya tak sengaja menemukan kotak tersebut di bawah ranjang, kemudian ia membawanya ke depan meja rias, berniat untuk menyimpan kotak itu, tapi sebelum ia menyimpannya. Vano sudah tiba dan melihat ia memegang kotak tersebut, ia salah paham, mengira jika istrinya sedang mengusik barang-barang miliknya.
Saat ini mereka berdua berada di rumah Mama angkat Vano yang membesarkannya, wanita paruh baya itu tadi malam menghubungi Vano. Dan mengajaknya untuk menginap di rumah bersama istrinya.
"Itu tadi------
Ucapan gadis itu terhenti saat vano memotong ucapannya.
__ADS_1
"Apa kau bisa tidak mengusik sembarangan dalam kamarku?" Kata Vano tak memberi celah untuk gadis itu menjelaskan apa yang ingin dia katakan.
"Kak Vano salah Pah------
Lagi-lagi Vano memotong ucapannya. "Cukup Icha, aku mau berangkat ke kantor," kata Vano membalik badan, laki-laki itu sebenarnya sedang marah padanya, tapi dia mencoba untuk meredam amarahnya, mengingat jika saat ini istrinya sedang berada di rumah kedua orang tuannya.
"Apa kak Vano sebegitu tidak sukanya padaku? Sehingga untuk memberiku kesempatan berbicara saja kak Vano tidak pernah ingin? Apa sebegitu tidak adanya aku di hati kak Vano? Sehingga apapun yang aku lakukan untuk kakak, bagi kak Vano itu hanya seperti angin yang berlalu, atau hanya sebutir debu yang berterbangan," kata gadis itu dengan suara yang bergetar menahan sebak, setelah selama ini menahan unek-unek yang terpendam dalam hatinya. Akhirnya gadis cantik imut itu tak bisa menahannya lagi.
Entah mengapa, Vano yang sedang dalam mood berantakan. Tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang akan dia sesali di seumur hidupnya.
Membalik badan dan menatap dalam bola mata istrinya.
"Iya, apapun yang kau lakukan itu semua hanya sebutir debu di hadapanku! Kau hanya gadis yang selalu merepotkan ku! Dan aku pertegaskan padamu lagi! Aku tidak akan pernah mencintaimu! Sampai kapanpun itu! Meski ada kehidupan kedua, kau adalah wanita yang tidak akan pernah aku cintai! Jadi berhentilah terus berusaha mendekati ku, yang akan membuat aku muak dengan semua yang kau lakukan!" Kata Vano penuh penekanan dan langsung meninggalkan gadis itu yang membeku saat mendengar setiap kalimat yang dia keluarkan.
DEG!
Air mata jatuh bercucuran tak bisa untuk menahan air mata itu.
"Kenapa kau tega kak Vano... Tidakkah kau tau, jika aku bertahan hidup sehingga hari ini, semua itu aku lakukan, hanya untuk bisa hidup bersamamu...." Lirih Icha terduduk lemah.
Ya Allah.... Aku berjanji pada diriku sendiri. Jika engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup lagi, maka aku berjanji akan melepaskannya, aku akan pergi jauh dari kehidupannya, agar dia merdeka, dan tidak terbebani oleh adanya aku lagi di sisinya. Biarkan rasa ini aku bawa, dan aku kubur kedalam dasar hatiku yang paling dalam, jikapun aku mati, aku ingin cinta ini tetap kekal berada dalam hatiku, karena dia adalah laki-laki pertama, dan terakhir yang aku cintai. Batin Icha menangis tak bersuara, hati terasa sebak, dengan luka yang terkoyak menganga lebar.
Setelah dari rumah Mama angkat Vano. Vano mengantar istrinya pulang kerumah. Di mobil, mereka sama-sama diam, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun dari bibir Vano mahupun Icha.
__ADS_1
Saat tiba di depan Mension. Icah langsung turun dari mobil, tapi wanita itu tak masuk ke dalam Mension, ia memutari mobil suaminya, kemudian membuka pintu mobil tempat duduk Vano.
Laki-laki itu menyerjit, "Ada apa?" Tanya Vano.
CUP!
Icah tiba-tiba mencium pipi laki-laki itu, kemudian dia tersenyum manis seperti biasanya, tak peduli pada hatinya yang baru saja di hancurkan oleh laki-laki itu sehingga menjadi debu bertebaran.
Vano masih terdiam heran menatap wanita itu. Icha mengangkat tangan memegang rahang suaminya. "Aku mencintaimu tanpa syarat, maafkan cintaku yang berlebihan, dan membuatmu tersiksa berada di sampingku," ungkapnya tanpa memudar senyuman.
Ia kembali membuat Vano heran saat Icha memeluknya. "Selamat tinggal, hati-hati di jalan." Bisik Icha di telinga laki-laki itu.
Kemudian melepas pelukannya, membalik badan dan langsung berjalan masuk ke dalam Mension, tanpa menoleh lagi, air mata yang tadinya ia tahan, kembali berjatuhan.
Vano membeku. Kata-kata istrinya seperti sangat mendalam sehingga mampu menembusi dasar hatinya.
Kembali menjalankan mobil. Tiba di kantor, ia tak bisa fokus dengan semua pekerjaannya. Ia sering termenung, kata-kata terakhir sang istri terus terngiang-ngiang di pendengarannya.
Sehingga tiba makan siang, Tuan Abimanyu tiba-tiba menyuruhnya untuk menggantikan dirinya keluar kota, dengan alasan. Dia tidak bisa keluar, karena merasa tidak enak badan. Ternyata mertuanya hanya berbohong.
Istrinya di rumah sudah tidak sadarkan diri, pria paruh baya itu bergegas membawa putrinya ke rumah sakit, ia tak memberitahu pada Vano. Karena dia tau, pasti putrinya tidak ingin suaminya tau, jika dia sedang kritis.
Selesai Flash Back
__ADS_1
Vano semangkin mengencang tangis saat mengingat kata-kata terakhirnya yang telah mengoyakkan perasaan sang istri.
Vano memeluk tanah makam istrinya. "Maafkan aku... Maafkan dosa-dosaku yang sudah menyakiti perasaanmu di sisa hidupmu... Maafkan aku..." Vano menangis seperti anak kecil di pusara istrinya.