
"Uek, Uek, Uek," Mirna dan Kinanti memuntahkan semua makanan yang berada dalam perut mereka berdua, sebaik saja mobil itu sudah berhenti dengan keren di halaman Mension Papi Angkasa.
"Perempuan gila!!!" Mirna menghampiri Dara dan mendorong bahu wanita itu dengan keras.
"Mirna!!" Sentak Adam tidak suka dengan kelakuan Mirna yang kasar pada istrinya.
Mirna tersentak kaget saat mendengar bentakan kakak sepupunya. Ini pertama kali Adam membentaknya, karena selama ini Adam selalu menyayanginya.
"Apa yang kau lakukan Mirna? Jangan bertindak tidak sopan dengan orang yang lebih tua darimu," Adam kembali melembutkan nada bicaranya saat sadar dia baru saja membentak adik sepupunya itu (anak dari adik, Mami Yunda)
Mirna menarik kasar kopernya dan melangkah masuk ke dalam Mension dengan wajah tak puas hati dengan Dara, akibat Adam membentaknya karena wanita itu.
Kinanti juga menyusul ke dalam bersama Mirna. Make up di wajah wanita itu sudah benar-benar berantakan karena muntah-muntah barusan.
Adam memberi jempol pada istrinya untuk yang kedua kalinya. "Tadi itu keren sayang... Di mana kau belajar balap mobil?" Tanya Adam menggandeng istrinya masuk ke dalam Mension.
"Tiba-tiba saja aku pintar balapan saat melihat wajah cantik kedua wanita itu," jawab Dara terdengar ambigu.
"Hahahahaha ada-ada saja kau sayang," Adam malah tertawa sumbang mendengar jawaban istri tercintanya.
__ADS_1
Di ruang keluarga Mirna sedang memeluk tantenya yang duduk di atas kursi roda.
"Kalian sudah sampai?" Tanya Yunda tersenyum manis.
Keadaan wanita paruh baya itu masih belum berubah. Tapi dia sudah bisa duduk di kursi roda, meski tubuhnya mati sebelah.
"Iya tante." Jawab Mirna kemudian memperkenalkan Kinanti pada Yunda.
Yunda melihat tak suka saat Dara dan Adam tiba di ruang keluarga. Apa lagi pasangan itu terlihat sangat romantis.
"Untuk apa kau bawa wanita itu ke rumah?" Tanya Yunda tak menutupi sedikitpun rasa tidak sukanya pada Dara.
"Kau baru saja tiba. Kenapa mau langsung pergi? Nanti saja kau pergi. Suruh saja wanita itu yang menjemput anaknya di sana," Yunda sengaja menghalangi anaknya pergi. Karena memang niatnya ingin membawa sahabat Mirna kemari untuk membuat Adam dan Dara terpisah.
Ternyata dia masih bertahan dengan tekadnya untuk memisahkan kedua anak dan menantunya itu. Dia bahkan tidak peduli dengan cucunya. Dia tak peduli dengan apapun, dia hanya ingin memuaskan rasa dendamnya pada keturunan ibu Ida.
"Tidak bisa seperti itu dong Mi. Aku sudah sudah janji sama anak dan istriku untuk kerumah ibu hati ini,"
"Ya sudah, suruh saja wanita itu kesana duluan. Lagi pula Kinanti mau belanja, banyak kebutuhan yang mau dia beli. Mami ingin menyuruh kamu untuk mengantar Kinanti ke mall" Yunda.
__ADS_1
"Kan ada supir Mi, nanti suruh saja supir yang antar," tolak Adam.
"Semuanya supir libur, lagi pula hanya sebentar saja," kekeh Yunda.
"Aku bisa mengantar Kinanti. Aku yang akan mengantarnya nanti," sahut Dara.
"Aku tidak berbicara denganmu!" Sinis Yunda pada Dara.
"Aku tidak mengizinkan suamiku pergi hanya berdua dengan wanita lain, siapa tau saja dia mau menggoda suamiku nanti saat di mobil," jawab Dara sudah mulai melawan Yunda.
Mendengar jawaban istrinya. Adam menahan tawanya, geli dengan pemikiran istrinya sendiri.
"Kau!!! Berani kau!!! Dia itu anakku, aku yang melahirkan dia, kau jangan mencoba untuk mempenagruhi putraku!!" Yunda menunjuk Dara dengan tangannya yang masih normal dengan nada yang meninggi.
"Dia memang anak anda. Tapi aku istrinya,'' jawab Dara lagi.
"Cukup!! Kau ingin membuat tanteku bertambah sakit!!" Teriak Mirna.
"Ya sudah. Kalau begitu, izinkan saya pergi membawa milik saya dari sini." Kata Dara penuh penekanan memberitahukan pada mereka semua, jika Adam adalah miliknya.
__ADS_1
Wanita itu menarik tangan suaminya keluar dar ruang tamu dengan dada yang naik turun karena emosi. Tapi dia berusaha untuk terlihat santai oleh mereka semua.