Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
.


__ADS_3

Drrrtt Drrtt Drrrtt


Suara deringan ponsel Galih, memecah kesunyian dia antara Dara dan laki-laki itu.


"Hello tante," jawab Galih menyambut panggilan dari Yunda.


"Galih, apa bisa tante meminta bantuan-mu?"


"Tentu saja tante," jawab Galih tanpa curiga sedikitpun.


"Tante mau minta tolong sama kamu Galih, tolong kasih tau sama teman tante, untuk datang dulu ke Mension Paman mu, nanti tante akan mengirim alamatnya sama kamu. Soalnya tante ada penting banget sama sahabat tante itu," kata Yunda agar dia bisa membuat Dara dan Galih semangkin lama bersama dan semangkin dekat.


"Oh, boleh kok tante, tepi Galih antar dulu Dara pulang ke Mension ya," kata Galih kesian jika ia membawa Dara bersama.


"Kasih ponselmu dulu sama Dara," pinta Yunda.


Patuh, laki-laki itu memberi ponselnya pada Dara. "Tante Yunda mau bicara sama kamu."


"Hello Mi,"

__ADS_1


"Dara sayang, kamu bisa kan temani Galih dulu ke tempat teman Mami, soalnya mami benar-benar ada perlu sama teman Mami itu... Bisa iya sayang, soalnya kan kalau nak Galih antar kamu pulang dulu, itu, Mami takut, jika nanti teman Mami itu keburu pergi, karena biasanya kalo sore, teman Mami itu suka ke tempat anaknya. Mami juga sudah menelpon ke nomornya tadi, tapi tidak dapet." Bohong Yunda panjang lebar agar Dara tak ada kesempatan untuk menolak pergi bersama Galih.


"B-baik Mi," jawab Dara terpaksa menuruti keinginan mertuanya.


"Terima kasih... Mami tutup dulu ya." Yunda langsung menutup panggilannya.


"Tante, kenapa harus kak Galih sih yang tante jadikan sasarannya! Kenapa tidak yang lain saja!" Ketus Mirna tak suka dengan tantenya yang menjadikan Kakaknya alat untuk kepentingan pribadinya sendiri.


"Lah, kalau bukan kakak kamu siapa lagi coba?" Kata Yunda tanpa rasa bersalah.


"Kitakan bisa menyewa laki-laki lain untuk pekerjaan itu tan," Mirna berdecak. Karena kakaknya itu sangat baik dan berhati lembut, dia mulai ragu dan tak tega jika memperalat kakaknya sendiri.


"Kamu kenapa bilang seperti itu sih! Kamu ini nggak jelas juga, kamu juga mau kan jika Kinanti nanti yang akan menikah dengan Adam,"


"Iya memang itu yang Mirna mau, tapi bukan berarti Mirna mau merusak persahabatan kak Galih dengan kak Adam!"


"Terus, mau kamu itu apa?" Tanya Yunda.


Mirna hanya berdecak mendengar jawaban tantenya.

__ADS_1


Di lain tempat.


Galih sudah muter-muter mencari alamat yang di berikan tante Yunda, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan alamat itu.


"Itu alamatnya benar di sinikan?" Tanya Galih pada Dara sambil memberi ponsel di tangannya untuk Dara melihat lokasi mereka.


Dara mengambil ponsel tersebut dan melihat alamat yang di kirim Yunda.


"Kayaknya lokasinya memang di sini kak, ini nggak salah kok," jawab Dara kembali memberikan ponsel Galih.


Saat laki-laki itu ingin mengambil ponsel dari tangan Dara. Tak sengaja ia malah memegang tangan wanita itu, karena kedua bola matanya berfokus kearah keluar mobil.


Dara kaget saat Galih menyentuh tangannya.


"Maaf, saya tidak sengaja,'' kata Galih merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kak." Jawab Dara tersenyum paksa.


Galih kembali menghubungi nomor ponsel tantenya. Tapi beberapa kali, nomor wanita itu tetap saja tidak aktif.

__ADS_1


"Nomor tante Yunda juga tidak aktif." Ujar Galih berpikir keras sambil memegang kemudi mobilnya.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja dulu ya?" Lanjut Galih pada Dara. Karena dia juga merasa tidak enak hanya berdua dengan istri sepupunya di dalam satu mobil, apa lagi mereka tidak kenal baik.


__ADS_2