
Yunda langsung melarikan Anim ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit Anim langsung di tangani.
Beberapa menit berlalu akhirnya Anim sudah selesai di tangani sama dokter.
Dokter memberitahukan pada Yunda. Jika Anim sedang hamil, beruntung ia segera di larikan ke rumah sakit dan bayinya bisa diselamatkan.
Mendengar Anim hamil. Yunda sangat bahagia, ia mengira jika menantunya itu sedang mengandung cucunya. Tak tau saja si Yunda jika Anim sedang hamil cucu dari wanita yang paling dia benci, yakni ibu Ida. Karena yang berada dalam kandungan Anim adalah anak Vano.
Yunda melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Anim belum sadarkan diri.
Yunda tampak sangat mengkhawatirkan menantu kesayangannya itu.
"Syukurlah kau tidak apa-apa sayang. Semua yang terjadi ini karena si jal*ng itu yang membuatmu tertekan dan hampir keguguran." kata Yunda semangkin membenci Dara.
Karena tadi dokter juga mengatakan salah satu penyebab Anim mengeluarkan darah itu karena dia terlalu tertekan dan begitu banyak pikiran.
"Aku berjanji akan memisahkan Adam dan Dara. Aku akan menyingkirkan wanita p*cur itu dari kehidupan Adam bagaimanapun caranya'' gumam Yunda bertekad ingin Adam berpisah dengan Dara.
__ADS_1
,,,
Dara sudah bisa keluar dari rumah sakit. Dan Adam masih setia menemani wanita itu.
Adam juga mengantar Dara dan putranya kembali kerumah Oma Dara.
Tiba di rumah Oma. Adam membantu Dara masuk ke dalam kamar.
Dara membaringkan bayinya di ranjang bayi yang sudah di sediakan oleh Adam dalam kamar yang di tempati Dara dirumah Oma Ratih.
"Dara. Kita harus bicara," Adam mulai membuka pembicaraan.
Menarik nafas sebentar. Berharap dia tak akan bertengkar lagi dengan Dara tentang apa yang akan dia bahas sebentar lagi.
"Aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku di Villa," ucap Adam.
Dara memaling wajahnya dari laki-laki itu, "Untuk apa anda mengajakku kesana tuan? Saya ingin tinggal disini saja. Lagi pula saya harap anda tidak lupa dengan perjanjian tentang perceraian yang kita sepakati setelah aku melahirkan," ujar Dara mengingat surat perjanjian tersebut.
__ADS_1
Tentu saja Adam tak terima penolakkan Dara, "Bagaimana dengan perjanjian terakhir dalam surat perjanjian itu Dara? Apa kau juga bersedia untuk berpisah dengan bayimu?" Adam sengaja mengeluarkan senjatanya yang paling ampuh. Karena ia tau jika Dara tak mungkin ingin berpisah dengan bayinya.
Dara terdiam, "Anda tidak bisa memaksakan kemahuan anda tuan!" Tolak Dara.
"Baiklah Dara, jika kau benar-benar tidak ingin ikut denganku kembali ke kota. Dengan berat hati aku terpaksa membawa bayimu," ancam Adam.
Dara menatap Adam dengan bola mata berkaca-kaca, "Apa semua orang yang berkuasa itu seperti anda ini? yang ingin melakukan semuanya sesuka hati? Tanpa peduli siapa pun lawannya?" Dara mulai meninggikan nada bicaranya.
Adam yang tak ingin bertengkar dengan Dara. Memilih diam tak menanggapi Dara lagi.
Ia juga jenuh jika ingin bertengkar lagi.
,,,
Setelah beberapa hari berlalu. Akhirnya Dara mengalah dan terpaksa mengikuti kemahuan Adam untuk pulang ke Villa laki-laki itu di-kota.
Adam juga belum tau jika Anim sedang hamil. Karena selama dia berada didesa bersama Dara. Laki-laki itu sengaja menonaktifkan ponselnya, dan selama itu juga Anim dan Yunda belum pernah mendapat kabar dari Adam.
__ADS_1
Di perjalanan menuju kota. Dara hanya diam dengan raut wajah tak bersahabat. Karena ia benar-benar tak ingin tinggal seatap dengan Anim madunya. Tapi karena ancaman Adam padanya dia tak punya pilihan, mengingat wanita 20 tahun itu sudah menandatangani surat perjanjiannya.
Drama baru saja dimulai.... Entah itu drama apa lagi. Batin Dara.