Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Berlalu


__ADS_3

Mami Yunda terdiam. Karena Adam bisa membaca pikirannya. Adam memang sudah bisa menebak pasti Maminya ingin dia menceraikan Dara.


Tapi bukannya lebih baik jika Dara terus bersama dengan Adam? Karena Adam juga tidak mungkin bisa mencintai wanita itu. Adam kan sangat mencintai Anim. Berarti Dara hanya akan tersiksa dalam rumah tangganya, bukankah itu yang kau inginkan Yunda? Jika si ida sialan itu tidak bisa menderita sepertiku. Lebih baik putrinya saja yang menderita sepertiku yang menjadi istri bayang-bayang Angkasa selama 27 tahun. Batin Yunda mengepalkan kedua tangannya karena selama itu dia masih belum bisa memenangi hati Angkasa.


Yunda tiba-tiba tersenyum, "Baiklah. Tapi yang ingin Mami minta ini, Mami harap kamu harus menepatinya,"


Adam mengangguk hanya bisa pasrah, "Kamu janji?" Tanya Yunda memastikan.


"Ya Mi," jawab Adam tersenyum paksa.


Menggeleng, "Mami mau bilang jika kamu berjanji sama Mami dulu"


"Baik Mi, Adam berjanji,"


"Mami mau, apapun yang akan terjadi kedepannya. Kamu jangan pernah menceraikan Anim. Bagaimana?"


Adam sangat kaget mendengar permintaan Mami Yunda yang tak pernah terlintas di benaknya jika Maminya akan meminta itu. Padahal ia sudah berniat untuk menceraikan Anim jika nanti dinyatakan wanita itu sah hamil.


"Ta--------


"Adam, kau sudah berjanji pada Mami baru saja. Laki-laki sejati itu harus bisa memegang ucapannya."


Mendengar perkataan Maminya Adam jadi lemas. Bagaimana tidak, saat ini Anim sedang hamil. Apa lagi bayi dalam kandungan Anim itu bukanlah darah dagingnya.


Setelah Maminya tidur. Ia melangkah keluar dari ruangan Yunda lemah. Mendudukkan dirinya di kursi tunggu.

__ADS_1


Angkasa yang melihat putranya seperti banyak masalah menghampirinya dan duduk di dekatnya.


"Mana Mamimu?" Tanya Angkasa.


"Mami tidur Pi,"


"Ada apa denganmu? kau terlihat banyak masalah?"


Menggeleng lemah, "Aku tidak apa-apa Pi,"


"Apa yang di sampaikan Mamimu padamu?"


Adam menoleh melihat wajah Papinya. Kemudian kembali menghadap kedepan mengingat Anim yang hamil dari laki-laki lain.


Hanya bisa menarik nafas dan menghembuskan dengan panjang.


Tak terasa sudah 5 tahun berlalu. Putra Dara sudah berusia 5 tahun. Dan putra Anim berusia hampir 5 lima tahun, usia kedua anak itu berselisih hampir satu tahun.


Arkan Ghazhanfar (putra Dara. Dan Frey Azhary (putra Anim)


Wajah Arkan sangat mirip dengan Papanya (Adam) sedangkan wajah Frey malah mirip dengan wajah Dara yang membuat Anim sangat heran setiap kali melihat wajah putranya malah hampir mirip dengan Dara. Wajah Dara hampir mirip dengan ibu Ida, dan wajah Frey mirip nenek kandungnya yakni Ida. Dan jelas saja mirip wajah Dara juga.


Benar saja. Sampai lima tahun berjalannya rumah tangga Adam dan Anim. Laki-laki itu menepati janjinya pada Maminya jika dia tak akan menceraikan Anim.


Hubungan Adam dan Dara tak ada perubahan. Karena semenjak Adam menjadi pengusaha dia sangat sibuk. Bahkan ia kadang berbulan berada di luar negeri untuk mengurus cabang yang sudah berkembang di sana.

__ADS_1


Adam bukan lagi laki-laki yang malas. Melainkan pengusaha sukses yang mampu melebarkan sayapnya ke beberapa negara.


Saat Adam mempunyai kesempatan libur dari pekerjaannya. Ia pasti akan menghabiskan waktu bersama putranya. Dia sangat menyayangi Arkan putra satu-satunya itu. Tapi dia juga tetap meyayangi Frey. Agar anak itu tak berkecil hati jika dia membeda-bedakan mereka.


Tapi tidak untuk Yunda yang sangat membenci cucucnya itu. Seperti hari ini ia datang berkujung ke Villa.


Tampak Yunda melangkah elegan masuk kedalam Villa Adam membawa banyak mainan.


"Nenek!" Teriak Frey langsung memeluk Neneknya.


"Lihat Nenek bawa apa?" Yunda mengeluarkan mainan yang dia bawa untuk Frey.


Sedangkan Arkan hanya berdiri diam. Karena dia sedang bermain dengan Frey semasa Nenek Yunda datang. Arkan sangat tau jika Neneknya itu tak menyukainya, beda dengan Angkasa yang sangat menyayangi cucunya itu.


Arkan hanya berdiri dengan wajah sedih karena Yunda tak pernah datang ke Villa membawakannya apapun. Bahkan memberikannya kasih sayang sedikitpun tak pernah.


"Arkan, kemari sayang, Papa menelponmu," panggil Dara pada putranya yang berdiri di dekat Frey dan Yunda.


Wajah anak kecil itu langsung tersenyum lebar mendengar Papanya menelpon, ia berlari menghampiri Mama Dara.


"Siapa yang datang Dara?" Tanya Adam pada Dara. Karena saat ini mereka sedang VC.


"Nyonya," singkat Dara.


"Bawa putraku naik keatas. Jangan biarkan dia di bawah jika Neneknya berkunjung. Kau masih ingatkan dengan pesanku," kata Adam. Dia tak mau putranya kecewa karena Neneknya. Adam bahkan tau seperti apa Yunda memperlakukan putranya.

__ADS_1


Tapi Arkan sedikitpun tak kekurangan kasih sayang dari Papanya meski sesibuk apapun Adam dia pasti punya waktu untuk putra kecilnya itu.


__ADS_2