Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Ke desa


__ADS_3

Adam sudah tiba di sebuah desa yang di tempati Dara. Ternyata ia berhasil melalui tantangan yang di berikan oleh Papi Angkasa, selama dua bulan bekerja di perusahaan Papinya.


Setelah ia berhasil, Papinya memberikannya alamat ke desa yang di tempati Dara.


Tentu saja sangat mudah bagi Angkasa untuk mendapatkan alamat Dara, meski ibu Ida tak memberitahukannya.


Adam melihat alamat yang berada di tangannya. Menjalankan mobilnya masuk ke dalam desa itu.


Mobilnya yang mewah menjadi pusat perhatian para warga desa. Karena ini pertama kali ada mobil semewah itu masuk ke dalam kampung.


Mobil itu singgah di depan toko sembako milik Oma Ratih.


Dengan elegan Adam turun dari mobil dan mendekat pada toko sembako di depannya.


Ia melihat Dara yang sedang duduk sambil bermain ponselnya dengan kandungan yang sudah membesar.


Dara yang merasa ada seseorang berdiri di depannya, tak mengangkat pandanganya, ia hanya bertanya pada laki-laki itu.


"Mau beli apa?" Tanya Dara masih menunduk melihat layar ponselnya.


Merasa tak mendapat jawaban dari orang tersebut, ia perlahan mengangkat pandangannya melihat siapa gerangan.


DEG!


Dara tertegun. Mengira ia sedang salah lihat, ia mengusap bola matanya berkali-kali, tapi orang di depannya tak kunjung menghilang.

__ADS_1


Tunggu, apa aku tidak salah lihat? Apa ini benar-benar .......


"Hai," sapa Adam.


GLEK


Benar ... Dia memang laki-laki itu. Apa lagi yang dia lakukan di sini? Mau apa lagi dia?. Pikir Dara.


"Ternyata kau bersembunyi di sini?"


"Mau apa lagi kau?"


"Datang untuk menjemputmu, mau apa lagi,"


"Tapi aku memaksa,"


"Terserah kau," Dara berdiri dari duduknya, berniat pulang ke rumah Omanya di belakang toko.


Adam melihat ke perut Dara yang sangat besar di usia kandungannya delapan bulan. Ia juga menyusul Dara berjalan di punggung wanita itu yang ingin ke rumah Omanya.


"Kenapa kamu mengikutiku, lebih baik kamu pergi saja dari sini!" ketus Dara.


"Aku tidak akan pulang jika tidak membawamu bersamaku Dara," kekeh Adam.


Dara mendengus kesal kembali melangkah meninggalkan Adam.

__ADS_1


,,,


Malam hari.


Adam sedang duduk di teras rumah Oma Ratih sambil sesekali menepuk nyamuk yang hinggap di tubuhnya.


Di sini banyak sekali nyamuknya. Bisa-bisa aku terkena demam berdarah nanti. Batin Adam.


Ternyata ia benar-benar belum pulang ke kota, Ia masih berada di desa.


"Dara" Oma Ratih mengetuk pintu Dara dari luar kamar.


"Iya Oma," sahut Dara dari dalam kamar, bersamaan ia membuka pintu kamarnya.


"Kenapa kau tidak memanggil suamimu masuk ke dalam kamar Dara, kasihan dia di luar, banyak nyamuk di teras rumah itu," ujar Oma Ratih. Meski ia tau jika laki-laki itu telah membuat cucunya hamil dan dinikah sirihkan, ia tetap tak berdendam.


Dara menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. "Baiklah Oma," pasrah.


Oma Ratih tersenyhum. Ia tau, jika cucunya itu tak suka suaminya berada di sana.


Oma Ratih kembali ke kamarnya, sedangkan Dara keluar untuk memanggil Adam. "Masuklah kekamar, banyak nyamuk di sini," kata Dara tak ingin melihat ke wajah Adam


Laki-laki itu tersenyum tipis, menangkap wajah tak senang dari istrinya.


Dara kembali melangkah masuk setelah memanggil Adam. Adam menyusul di punggung Dara masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2