Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Heran


__ADS_3

"Apa tante punya rencana?" Tanya Mirna pada tantenya yang sampai hari ini masih terkurung dalam ambisi dendamnya.


"Iya, aku punya satu rencana untuk menghancurkan hubungan Adam dengan Dara," Yunda tersenyum penuh arti. Sebahagian tubuh wanita itu sudah sedikit bisa di gerakkan. Hanya saja kakinya sampai hari ini belum memperlihatkan tanda-tanda untuk sembuh.


"Apa tante?" Tanya Kinanti penasaran.


"Tante akan beritahu pada kalian berdua nanti, dan aku berharap itu bisa berhasil," jawab Yunda tertawa jahat.


Mirna dan Kinanti saling melempar pandang dan tersenyum jahat bersama. Meski mereka belum tau apa yang sedang di rencanakan oleh Yunda, tapi mereka berdua yakin. Jika yang sedang di rencanakan oleh wanita itu pasti sesuatu yang bisa menghancurkan ketenangan rumah tangga Dara dan juga Adam.


,,,


Dara baru saja tiba di sekolah. Dia kaget saat melihat putranya tak memakai sepatu di kaki kanannya, sedangkan sebelahnya, kaki anak itu hanya mengenakan kaos kaki.


Dara keluar dari mobil ingin menghampiri putranya. Tapi sebelum ia tiba, tampak Arkan mendekat pada seorang anak gadis cantik.


Arkan menarik ransel gadis kecil itu. "Apaan sih! Kamu kenapa narik-narik ransel aku!" Anak gadis itu memarahi Arkan.

__ADS_1


"Aku tidak akan mencari gara-gara sama kamu, kalo bukan kamu yang mulai! Di mana kamu menyembunyikan sepatuku!" Arkan kesal melihat gadis yang suka menyembunyikan sepatunya itu. Ini bukan pertama kali gadis itu menyembunyikan sebelah sepatunya.


"Jangan asal nuduh kamu! Enak aja kamu main nuduh-nuduh aku! Kamu yang ngilangin sepatu kamu sendiri, tapi malah tuduhnya ke aku," Gadis itu mengelak dan tak ingin mengakui kesalahannya yang sengaja menyembunyikan sepatu Arkan, karena dia senang mencari gara-gara pada Arkan.


"Kamu itu jadi cewek jahat banget! Aku sumpahin kamu! Jadi perawan tua yang tidak akan------------" ucapan Arkan di potong oleh gadis kecil itu.


"Laku-laku. Udah basi, udah berapa kali kamu nyumpahin aku, dengan sumpah yang sama, uekk" gadis kecil itu menjulur lidahnya kemudian berlari meninggalkan Arkan yang benar-benar geram pada gadis itu.


Awas saja kau gadis cacing!. Batin Arkan kesal setengah mati.


"Arkan" panggil Dara mendekati putranya.


"Mana sepatumu sayang?" Tanya Dara.


"Di sembunyikan sama gadis cacing Ma," jawab Arkan yang membuat Dara tertawa mendengar nama yang anaknya berikan untuk gadis yang suka mengganggunya itu.


"Kenapa namanya di panggil 'cacing' sayang? Apa tidak ada nama lain selian nama itu untuk gadis secantik dia?" Ujar Dara menggeleng masih tertawa.

__ADS_1


"Itu udah cocok Ma, mukanya memang kayak cacing," jawab Arkan ketus mengingat kelakuan gadis itu.


"Ya sudah, kita pulang saja dulu. Nanti kita beli sepatu baru lagi ya sayang."


"No Ma, ini tu sepatu kesayangan aku Ma, masak ia mau di tukar Ma, Arkan tidak mau Ma,"


"Baiklah. Nanti Mama akan menghubungi Buk Guru, dan meminta tolong agar Buk Guru bicara baik-baik pada anak cantik yang tadi itu ya," bujuk Dara lembut.


"Janji loh Ma?"


"Yup. Mama janji." Dara menggandeng putranya berjalan ke arah mobil.


,,,


Kediaman Tuan Abimanyu.


Mengetahui istrinya sudah pulang. Vano juga memutuskan untuk kembali ke Mension. Dia juga butuh penjelasan dari istrinya tentang CCTV rekaman yang mantan calon suami Icah berikan padanya.

__ADS_1


Melihat suaminya sudah pulang. Icha tersenyum lebar padanya.


"Kak Vano sudah pulang?" Tanya Icha ingin menyentuh lengan laki-laki itu. Tapi Vano menarik lengannya. Membuat gadis itu mengerut heran.


__ADS_2