
Dara memegang perutnya yang bertambah sakit karena di injak oleh para penjahat itu.
"Apa kau mendengar-ku! Aku sedang bertanya mu! Di Mana kau sembunyikan bayimu!" Menarik keras rambut Dara.
Menggeleng. "Bunuh saja aku jika kau ingin membunuhku..." Ujar Dara tak bisa menahan sakit pada sekujur tubuhnya.
PLAK!
Mereka kembali menampar Dara yang sudah benar-benar tak berdaya.
"Kita bunuh saja dia," kata salah satu di antara mereka berempat.
"Kau benar" sahut bos mereka menodong Dara dengan senjata api.
"Dara!" Terdengar suara teriakan Adam yang sedang mencari istrinya dengan beberapa anggota polis. Ternyata supir Adam yang melapor tentang kehilangan istri Tuannya. Adam yang mendengar istrinya hilang detik-detik mau melahirkan, di buat sangat kaget dan cemas.
Ia bergegas mencari keberadaan istrinya di lokasi, dan menemukan beberapa tanda-tanda yang istrinya berada di dalam hutan.
"Sepertinya supir tadi sudah melaporkan kita ke polisi!" Panik para penjahat itu.
"Kita pergi saja dari sini." Kata bos mereka.
__ADS_1
"Terus, bagaimana dengan wanita ini? Apa kita bunuh saja dulu?"
"Goblok, kau ingin kita tertangkap saat polisi mendengar suara tembakan kita nanti! Mari kita segera pergi dari sini." Ajak bos penjahat itu langsung bergegas pergti dari sana tanpa menunggu lebih lama lagi.
Ketiga anak buahnya juga mengikuti langkahnya berlari di tempat gelap.
Penglihatan Dara jadi berkunang-kunang, sedetik kemudian wanita itu jatuh tak sadarkan diri.
Tak berapa lama Adam akhirnya menemukan istrinya yang di penuhi dengan darah di sekujur tubuh wanita itu.
"Dara!" Teriak Adam menghampir istrinya dan langsung memeluk tubuh lemas itu.
"Dara, bangun sayang! Bangun!" Teriak Adam membangunkan istrinya.
,,,
2 Tahun berlalu dengan cepat.
Adam berdiri di ambang pintu kamar melihat istrinya yang duduk sambil memandang kosong kedepan. Ternyata semenjak kejadian dua tahun yang lalu Dara kehilangan putrinya.
Wanita itu di sahkan dengan dokter mengalami gangguan mental karena depresi berat.
__ADS_1
Memang kejiwaan Dara tak separah pesakit-pesakit yang mempunyai gangguan mental lainnya.
Kadang wanita itu terlihat normal seperti manusia bisa pada umumnya, tapi terkadang wanita itu menggila dan berteriak sambil menangis meminta untuk di kembalikan putrinya.
Meski keadaan Dara seperti itu, Adam masih setia menjaga dan merawat istrinya tanpa rasa lelah sedikitpun.
Ia juga tidak ingin mengantar sang istri ke rumah sakit jiwa, karena ia tak tega jika istrinya berada di tempat seperti itu.
Penyesalan Adam satu-satunya, karena dia tidak begitu waspada sebelumnya, padahal dia tahu jika sang Mami masih terus berusaha memisahkan dia dan istrinya. Adam berpikir mana mungkin Maminya melakukan kejahatan yang di luar batas.
Tapi nyatanya dia salah, Maminya memang sepantasnya berada di dalam jeruji besi. Karena Adam sudah memenjarakan sang Mami, karena terbukti dalang dari semua rencana pembunuhan istrinya.
Kapan kau akan kembali seperti dulu lagi sayang? Apa kau tidak kasihan pada ku dan juga Arkan? Kami membutuhkan kamu.... Batin Adam menitikkan air mata melihat keadaan sang istri.
Adam kembali menutup pintu dan turun ke lantai bawah.
"Dara mana?" Tanya Vano yang baru tiba ingin menjenguk adiknya.
Menggeleng lemah kemudian mendudukkan dirinya di sofa sambil mengusap wajahnya, laki-laki itu terlihat sangat lelah.
"Apa yang harus aku lakukan, kak? Sampai saat ini Dara belum juga sembuh, dan putri kami juga belum ada tanda-tanda untuk akan di temukan. Aku benar-benar seperti ingin gila." Kata Adam merasa dadanya sungguh sebak, begitu banyaknya beban yang dia pikul saat ini.
__ADS_1
Vano mendekat dan menepuk-nepuk bahu adiknya. "Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi kau tidak bisa berputus asa. Kau harus kuat menghadapi semua ini, masih banyak yang harus kau selesaikan. Terutama mencari anak kalian, jangan seperti ini." Kata Vano menenangkan Adam.
Tentu saja dia mengerti apa yang di rasakan oleh adiknya saat ini. Dimana semua terjadi secara bersamaan dan begitu mendadak.