
Dara ucapan suaminya, Dara yang saat itu sedang menatap kosong. Mulai di banjiri air mata. Kenangan 2 tahun itu kembali berputar di benaknya, mengingat di mana saat itu ia dikejar-kejar oleh penjahat sehingga ia melahirkan di pinggir sungai kemudian menghanyutkan bayinya.
"Arkhhh!!! Ini semua karena Mamimu!!! Kemana kau menyembunyikan dia!!! Aku ingin membunuhnya!!!" Teriak Dara memukul-mukul bahu suaminya yang sedang duduk berjongkok di kaki.
Adam menangis kemudian memeluk istrinya yang kembali mengamuk seperti biasa.
"Kembalikan anakku!!! Kembalikan!!! Arkhhhh!!!!!" Dara berteriak sambil memberontak.
"Kembalikan anakku!!! Kembalikan!!!!!!" Dara terus berteriak histeris.
Arkan yang ternyata berada di dekat pintu, menangis saat melihat Mamanya yang sering histeris seperti itu. Karena ini bukan yang pertama kali.
"Mama... Kapan Mama sembuh... Aku sangat merindukan mama" kata Arkan lirih mendekati mamanya.
"Mama..." Panggil Arkan ingin meraih ibunya yang memberontak dalam pelukan Papanya. Tapi Dara sama sekali tidak mendengar panggilan putranya.
"Suster! Suster!" Adam memanggil suster yang merawat istrinya selama Dara sakit.
__ADS_1
Suster yang di panggil bergegas masuk ke dalam kamar Adam.
"Iya, Tuan?"
"Ambil obat penenang, cepat!" Perintah Adam menahan istrinya.
"Baik, Tuan." Suster itu buru-buru mengambil suntikan penenang yang sering ia gunakan untuk pasiennya. Setelah itu, ia langsung mendekati Dara. Dan memberikannya cairan suntikan penenang tersebut.
Dara langsung tertidur sebaik saja cairan itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Terima kasih, suster."
"Tidak, suster bisa keluar dulu."
"Baik Tuan."
Adam mengangkat tubuh istrinya, kemudian membawa ke atas ranjang.
__ADS_1
Setelah itu ia melihat kearah Arkan yang mengusap air mata dari pipi.
Mendekat, ia mensejajarkan diri dengan putranya, "Maafkan Mama ya sayang, Mama tidak berniat untuk menyakiti perasaan Arkan, Mama saat ini sedang sakit. Papa harap Arkan jangan bersedih," lembut Adam tak ingin jika putranya bersedih karena merasa tak di sayang lagi oleh Mamanya.
Arkan mengangguk, "Lalu, kapan Mama akan sembuh, Papa? Arkan ingin seperti dulu lagi, Arkan ingin memakan masakan Mama, Arkan ingin ke taman sama Mama, Arkan ingin makan ice cream sama Mama dan adik Frey, Pa. Arkan merindukan Mama yang dulu, Pa." Lirih anak berusia 7 tahun itu kembali bercucuran air mata yang sudah ia usap tadi.
Adam memeluk erat tubuh putranya. Ya Allah... Hamba mohon, sembuhkan istriku, dan kembalikan keluargaku seperti sedia kala,Ya Allah. Pertemuan aku dengan putriku yang hilang. Batin Adam sedih yang tak bisa di ukur. Laki-laki itu benar-benar di landa kesedihan yang memanjang, benar-benar ujian yang sangat panjang. Andaikan saja laki-laki itu tidak menyibukkan diri dengan beribadah, di pastikan dia juga pasti sudah gila sama seperti istrinya. Siapa kah manusia yang sanggup berada di posisinya? tentu saja tidak ada yang sanggup melalui.
Jika di katakan ia rindu pada ibunya, siapa kah anak yang tak rindu pada wanita yang pernah melahirkannya? Tapi kesilapan yang di lakukan sang Mami, membuat ia menutup diri untuk memaafkan Yunda.
,,,
Terlihat seorang gadis sedang mengayun sepedanya dengan wajah ceria dan senyuman manis yang terukir indah di wajah sang gadis cantik itu.
"Nenek!!!" Teriak Ayya membuang asal sepedanya dan langsung berlari naik di gubuk bambu yang ia tinggali.
"Nek!!!" Ia memeluk sang nenek sambil kegirangan.
__ADS_1
"Hahahahaha. Ada apa Ayya? Kenapa cucu nenek ini begitu gembira?" Nenek Sukarni tertawa melihat kegembiraan cucu angkatnya yang sudah ia besarkan selama 17 tahun.
"Nek!! Ayya lulus dengan nilai terbaik, Nek!!" Ayya tertawa kegirangan sambil mencium seluruh wajah Neneknya. Ternyata gadis cantik itu baru saja lulus dari salah satu sekolah SMA tempat ia menimba ilmu selama ini, ia juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di salah satu universitas ternama di kota.