
"Ibu," panggil Vano.
"Ibu," panggil Dara.
"Papi," panggil Adam.
Mereka bertiga serentak memanggil kedua pria dan wanita paruh baya didepannya.
Dara dan Adam melihat kearah Vano yang memanggil ibu Ida dengan panggilan 'ibu' begitupun dengan Angkasa yang melihat kearah Vano saat mendengar anak muda itu memanggil ibu pada Ida.
Vano berjalan kearah ibunya. Dan melepaskan tangan Angkasa yang memegang lengan ibunya.
"Maaf, anda apakan ibu saya," tanya Vano menatap tajam pada Angkasa. Ia berpikir Angkasa sedang menyakiti ibunya.
"Ibu? Kau siapa? Kenapa kau memanggil ibuku dengan sebutan ibu?" Tanya Dara melihat kewajah Vano.
__ADS_1
Ibu Ida jadi kelu. Lidahnya seolah tak bisa ia gerakkan.
"Jujur padaku Ida, apa pria ini anakmu?" Tanya Angkasa menunjuk Vano.
Adam yang juga berada di sana menjadi bingung saat melihat Papinya seperti kenal dekat dengan ibu Ida mertuanya.
"Iya. Saya putranya, kenapa tuan Angkasa mempertanyakan itu pada ibu saya?" Tanya Vano. Tentu saja dia mengenal tuan Angkasa yang seorang pengusaha.
Dara di buat tertegun mendengar ucapan Vano. Akhirnya dia tau, kenapa tempo hari laki-laki itu memanggil dirinya 'kakak' ternyata karena pria itu juga adalah anak dari ibunya.
Adam dan Dara bertambah kaget. Begitu juga dengan Vano.
"Apa maksudnya semua ini bu?" Tanya Vano pada ibunya.
"Apa sebenarnya yang terjadi ibu? Apa yang dikatakan Papi? Ada hubungan apa ibu dengan Papi Angkasa?" Dara juga bertanya. Karena Dara juga memanggil Angkasa dengan panggilan 'papi' beda dengan Yunda yang tak ingin Dara memanggilnya Mami.
__ADS_1
"Pi? Apa sebenarnya yang Papi sembunyikan? Bagaimana bisa Papi mengatakan jika dia ini anak Papi?" Adam bertanya dan menunjuk Vano.
"Cukup!!!! Iya!! Dia ini Vano anakmu!! Anakmu yang kau buang dulu dan memilih menikah dengan Yunda!! untuk mewarisi semua harta kekayaan Ayahmu!!!! Apa kau puas sekarang!!!!! Kenapa kau selalu membuat aku menderita Angkasa!!! Kenapa!!! Pergi jauh-jauh dari kehidupan ku!!!! pergi!!!!" Ibu Ida berteriak kencang mengeluarkan rahasia yang dia sembunyikan selama ini sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Adam tertegun mendengar perkataan mertuanya. Perlahan ia menoleh menatap Vano yang ternyata adalah kakak kandungnya. Hanya saja beda ibu. Begitupun dengan Dara yang juga membeku melihat ke arah Vano yang ternyata saudara sekandungnya, yang lahir dari rahim yang sama.
Bagaimana bisa?. Batin Dara dan juga Adam bersamaan. Karena mereka berdua berpikir, berarti Vano adalah kakak mereka bersama.
Vano tak kalah kagetnya saat mengetahui siapa Ayahnya. Karena selama ini ibunya tak pernah ingin memberitahukan padanya siapa sebenarnya Ayah kandungnya yang sesungguh. Ibu Ida terus mengelak jika dia bertanya kemana Ayahnya. Tapi kenyataan diluar dugaan, tenyata Ayahnya adalah Angkasa Ayah dari Adam juga.
"Ibu, katakan pada Vano bu, apa ibu serius? Dengan yang ibu katakan barusan?" Tanya Vano memastikan sambil memegang lengan Ibunya dengan bola mata berkaca-kaca. Dia tak pernah membayangkan jika dia adalah anak dari Angkasa, itu diluar perkiraannya.
Ibu Ida mengangguk pelan dengan kedua pipinya semangkin deras dibanjiri air mata.
"Angkasa adalah suami pertama ibu, sebelum ibu menikah dengan Ayah Dara dan Ririn. Dari hasil pernikahan itu, ibu melahirkan kamu, dimana saat itu Ayahmu sedang melangsungkan pernikahannya dengan Yunda, Mami Adam," jujur ibu Ida bertambah sesak saat mengingat semua penderitaan yang pernah ia lalui beberapa puluh tahun yang lalu.
__ADS_1