
Wajah gadis itu berubah seketika itu juga. Tapi dia berusaha terlihat tenang di hadapan Vano.
"Ada apa kak? Apa aku melakukan kesalahan pada kak Vano?" Tanya Icha menatap dalam bola mata suaminya.
Vano mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman yang sudah ia salin ke dalam ponselnya kemudian memberikannya pada Icha.
"Jelaskan padaku, apa ini?" Tanya Vano menatap Icha. Ia tak habis pikir, ternyata wanita itu tak sepolos yang sering ia lihat.
Icha mengambil ponsel laki-laki itu dan melihat apa yang sedang di tampilkan oleh layar ponsel.
Disana terlihat dengan jelas Icha yang sedang memukul kepala Enal dengan sebuah benda keras. Sehingga membuat laki-laki itu tak sadarkan diri. Setelah itu, Icha terlihat pergi dari sana meninggalkan calon suaminya.
Bola mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca saat melihat sebuah rekaman yang sudah di potong. Dan di hilangkan setengah dari rekaman itu.
"Kau jelaskan padaku, apa itu Icha? Apa semua yang kau lakukan itu hanya untuk bisa menikah denganku? Jelaskan padaku!!" Sentak Vano, membuat gadis itu kaget, bersamaan air matanya tumpah dari kedua bola matanya yang sayup.
"T-tidak kak, ini hanya sebahagia-----------" ucapan gadis itu terhenti saat Vano mengangkat tangan seolah menyuruhnya berhenti untuk menjelaskan apa pun. Laki-laki itu terlanjur tak bisa lagi mempercayai perkataan gadis itu.
"Cukup Icha!! Kau itu tidak benar-benar mencintaiku, tapi kau sudah terobsesi dengan keinginan mu untuk bisa menikah denganku. Kau salah besar Icha, ini bukan yang dinamakan sebuah 'cinta', melainkan hanya sebuah obsesi mu yang terlalu berlebihan!"
"Kak Vano. Dengar dulu penjelasanku kak----"
"Tidak! Aku tidak membutuhkan penjelasan dari seorang wanita pembohong seperti dirimu. Mari kita bercerai!" Tegas Vano.
Air mata gadis itu semangkin deras saat mendengar kata 'cerai' keluar dari mulut laki-laki yang sangat ia cintai. Padahal dia hanya ingin menghabiskan waktunya yang sedikit bersama laki-laki itu. Tapi kenapa semua jadi berantakan seperti ini.
Vano menggeleng kecewa bercampur marah karena menganggap wanita itu ternyata adalah rubah di balik wajah polosnya. Vano melangkah keluar dari kamar Icha.
Icha terduduk lemah di lantai, dengan tubuh yang berguncang hebat.
__ADS_1
Flash back
Sehari sebelum acara pernikahan Icha dan juga Enal.
Drrrttt Drrrttt
Gadis cantik itu menghubungi nomor ponsel Enal.
"Hello," jawab Enal.
"Mas, kita bisa nggak ketemuan sebentar?" Tanya Icha langsung ke intinya saat pria itu menjawab panggilannya.
"Hm, bisa. Kau tunggu aku di lokasi yang aku kirim sebentar lagi ya,"
"Ok Mas." Icha mematikan ponselnya.
Tak lama kemudian, wanita itu mendapat sebuah notifikasi lokasi yang di kirim dari nomor Enal.
Tak berapa lama. Icha sudah tiba di lokasi, disana sudah ada Enal yang menunggunya.
Icha turun dari mobil menghampiri Enal. "Aku ingin bicara sebentar sama kamu Mas," ucap Icha.
"Kita naik saja keatas, nanti disana kita bicarakan," ajak Enal langsung menarik lengan gadis itu berjalan masuk kedalam sebuah gedung.
Gadis itu berusaha menarik tangannya. "Tidak usah Mas, di sini saja," wanita itu menolak dan berusaha melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Enal yang menariknya.
"Diatas saja sayang, biar lebih nyaman kita bicaranya nanti. Aku juga ingin beristirahat," Alasan.
Saat tiba di sebuah pintu Apartemen. Enal langsung menarik tangan Icha masuk kedalam tanpa peduli penolakan wanita itu.
__ADS_1
"Ini Apartemen siapa?" Tanya Icha masih berdiri di ambang pintu tak ingin melangkah lebih ke dalam lagi.
"Apartemenku. Kemarilah, duduk di sini. Bicarakan, apa yang ingin kau bicarakan itu," Panggil Enal menepuk-nepuk sofa di dekatnya.
Wanita itu melangkah waspada kearah sofa yang berada di hadapan Enal. Kemudian duduk di sana.
"Aku ingin membicarakan tentang penikahan kita besok," ujar Icha menggantung ucapannya.
"Kau ingin bicara apa?" Tanya laki-laki itu berpindah posisi duduk di dekat calon istrinya.
Gadis itu menggeser sedikit duduknya merasa tidak nyaman dengan tindakan calon suaminya yang mulai aneh.
"I-itu....." ucapan gadis itu terhenti. Saat tangan Enal mulai naik keatas pahanya.
"Apa yang kau lakukan!!" Icha marah dan ingin berdiri dari duduknya. Tapi secepat kilat, Enal menahannya, dan mendorong wanita itu sehingga terbaring di atas sofa, laki-laki itu langsung menindihnya.
"Lepas!! Apa yang ingin kau lakukan ini!! Apa kau sudah tidak waras!!" Teriak Icha terus memberontak.
"Sssttt apa yang kau takuti sayang... Besok adalah hari pernikahan kita. Bukannya lebih baik jika malam ini kita mendahului malam pertama kita?" Ucap Enal mulai mencium paksa wanita yang terus memberontak di bawah kukungannya.
"Lepas!! Lepaskan aku brengsek!! Aku tidak mau menikah denganmu!! Kau itu ternyata laki-laki bajingan!!" Teriak Icha sekuat tenaga mendorong tubuh laki-laki yang berada di atas tubuhnya.
Saat gadis itu bisa meloloskan dirinya. Ia berusaha melarikan diri. Tapi Enal kembali menangkap tubuhnya. Tak sengaja tangan wanita itu meraih sebuah benda yang tak jauh darinya. Reflex langsung memukul kepala pria itu, yang membuat laki-laki itu pingsan seketika itu juga.
Icha pun bergegas pergi dari sana dengan keadaan yang ketakutan berlari turun kebawah sambil menangis.
Dalam Apartemen itu. Enal ternyata menyimpan sebuah rekaman CCTV yang merekam semua kejahatan yang dia lakukan pada calon istrinya.
Enal yang dendam dengan Icha. Akhirnya memotong sebahagian dari rekaman itu. Dan hanya memperlihatkan setengah pada Vano untuk merusak rumah tangga mereka berdua, karena mantan calon suami Icha tau jika wanita itu sangat mencintai Vano.
__ADS_1
Selesai flash back