Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
2


__ADS_3

Vano bungkam mendengar permintaan wanita itu. Dia ingin menolak, tapi dalam masa yang sama laki-laki itu juga dilema.


"Apa bisa kak? Hanya itu...." Terdengar suara lirih wanita di punggungnya.


Perlahan ia mulai mengangguk, mengiyakan permintaan gadis itu. Icha yang melihat Vano mengangguk, tersenyum bahagia yang tak dapat di gambarkan.


,,,


Villa Adam.


Dara melihat ke arah suaminya selesai saja laki-laki itu mematikan ponselnya.


"Ada apa Mas?" Tanya Dara.


"Mami memanggil kita untuk menginap di Mension malam nanti sayang," jawab Adam.


Dara terdiam sejenak mencerna ucapan suaminya. 'kita?' Apa benar orang tua angkuh itu memanggil aku ke sana untuk menginap? Kenapa aku merasa curiga dengannya?. Batin Dara.


"Bagaimana sayang? Apa kau mau kita ke Mension Papi malam ini?" Tanya Adam. Meski ia ingin pergi, jika istrinya tak ingin. Tetap saja laki-laki itu tak akan pergi. Cinta telah membuatnya gila karena menjadi suami yang patuh dan takut pada istrinya. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu semua, ia hanya ingin jika istrinya bisa nyaman hidup bersamanya, dan tak merasa terterkan.


"Terserah Mas saja, kalo Mas mau ke sana malam nanti aku juga tidak malasah," jawab Dara tersenyum.


"Kau yakin sayang?"

__ADS_1


Mengangguk, "Iya, Mas.''


"Baiklah. Kalian sudah selesai?" Tanya Adam.


"Sudah."


Selesai sarapan. Seperti biasa Adam akan mengantar putranya ke sekolah.


Di lain tempat.


Vano juga sedang mengkhayal memikirkan tentang permintaan istrinya sebelum ia berangkat ke kantor.


Kenapa aku merasa ada yang gadis itu sembunyikan dariku? Atau itu hanya perasaan ku saja?. Batin Vano.


Vano tak sengaja menabrak sebuah mobil yang berada di hadapannya saat dia terus melamun.


Vano memarkir mobilnya di pinggir jalan, kemudian turun melihat siapa yang dia tabrak.


"Apa kau punya mata!!" Ketus Anim padanya. Ternyata yang dia tabrak itu adalah Anim.


Semenjak dia bercerai dengan Adam. Wanita itu memilih kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.


"Maaf, aku tidak sengaja menabrak mobilmu," jawab Vano tanpa ekspresi pada wanita itu.

__ADS_1


"Cih!! Kenapa hidupku selalu sial jika bertemu denganmu!" Wanita itu lewat di sebelah Vano dan sengaja menyenggol kasar bahu pria itu.


Vano hanya diam tak menanggapi ucapan Anim. Ia kembali ingin melangkah masuk ke dalam mobilnya.


"Mana wanita cabe-cabean yang mengaku istrimu itu?" Tanya Anim pada Vano.


Laki-laki itu kembali tak menanggapinya. "Kau bisa menghubungiku, jika kau ingin memperbaiki mobilmu, aku yang akan membiayai kerosakkan mobilmu yang tidak sengajaku tabrak." Ujar Vano langsung masuk ke dalam mobilnya tak melihat ke arah wanita itu lagi kembali melaju mobilnya meninggalkan Anim yang masih berdiam diri melihat mobil Vano sehingga menghilang dari hadapannya.


,,,


Adam dan Dara, serta kedua anak mereka sudah bersiap untuk berangkat ke Mension Papi Angkasa.


"Kau tidak apa-apa sayang, jika kita menginap di Mension Papi?" Tanya Adam menarik istrinya, dan mendudukkan wanita itu di pahanya.


"Sudah berapa kali kau bertanya soal itu, Mas? Kita bahkan sudah bersiap semua, tinggal mau berangkat. Dan kau masih bertanya dengan pertanyaan yang sama," Jawab Dara tersenyum pada suaminya.


Adam balas tersenyum lebar mendengar perkataan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Aku hanya tidak ingin jika kau merasa tidak nyaman sayang... Hanya itu,"


"Aku baik-baik saja. Ayo kita turun ke bawah, anak-anak sudah menunggu kita di bawah loh Mas."


"Ya sudah, ayo."

__ADS_1


__ADS_2