
Angkasa sangat kaget saat mendengar cerita dari putranya.
Yunda memang benar-benar sudah keterlaluan. Batin Angkasa.
"Pi, sebenarnya kenapa Mami bisa sebegitu bencinya dengan keluarga istri Adam, Pi? Adam rasa tidak mungkin Mami bisa sebenci itu pada mertua Adam, jika tanpa sebab yang jelas?" Akhirnya Adam bisa mengeluarkan kalimat yang sebenarnya sudah lama ia ingin bertanya pada sang Papi.
Sebelum menceritakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Angkasa terlebih dulu menarik nafas berat. Kemudian mulai menceritakan apa yang pernah terjadi dulu. Ia juga menceritakan pada Adam, seperti apa kekejamannya dulu pada Yunda saat mereka masih muda, yang membuat timbul perasaan dendam mendalam dalam hati Yunda.
Pria paruh baya itu juga menceritakan, jika sampai saat ini. Dia tidak bisa mencintai Mami Adam, karena sampai saat ini juga, perasaannya pada ibu Vano dan juga Dara. Masih utuh tak mengurangi sedikitpun perasaannya pada wanita itu.
Angkasa bercerita sedetail mungkin, tanpa ada yang ia tutupi.
"Jujur Papi katakan pada kamu, Adam. Seandainya mertuamu masih ingin menerima Papi lagi. Maka Papi pasti akan menikahinya. Papi sangat mencintainya, tapi itu adalah hal yang mustahil untuk bisa bersatu dengan mertuamu. Jangan jadi seperti Papi, Adam. Perjuangkan keluargamu nak, jangan sampai kau menyesal seperti Papi yang tidak berdaya untuk mempertahankan wanita yang Papi cintai"
"Papi juga berharap, semoga kau bisa berdamai dengan Vano, meski bagaimanapun, di sini yang jadi korban itu adalah kakakmu, tapi lihatlah, kakakmu sedikitpun tidak menaruh dendam pada kamu nak, bahkan menuntut haknya saja, kakakmu tidak melakukan itu." Lanjut Angkasa menepuk-nepuk bahu Adam.
Adam terdiam. Ia tak menyangka jika Maminya begitu licik hanya untuk mencapai tujuannya. Dia juga tidak menyangka jika dia memiliki ibu yang begitu kejam.
Setelah dari bawah, Adam kembali ke kamarnya. Ia berbaring di atas ranjang, kemudian memeluk erat tubuh wanita sang pujaan hati.
Yang di peluk terjaga. "Kau dari mana, Mas?" Tanya Dara, karena tadi ia sempat terbangun, tapi ia tak melihat suaminya di sebelah. Ia kembali melanjutkan tidur, sampai ia merasa suaminya sudah memeluknya lagi yang membuat ia kembali terjaga.
"Aku dari bawah sebentar sayang,"
Tiba-tiba wanita itu menajam netra-nya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Adam heran melihat tingkah Dara.
"Mas Adam dari merayap ke kamar wanita tak berbahan itu?" Ketus Dara membuat Adam tertawa.
"Tarzan dong sayang?"
"Jangan bercanda, Mas dari mana sih!"
"Hanya mengambil angin di bawa sayang''
"Besok kita pulang ya sayang, ke Villa," Tambah Adam ingin segera membawa istrinya keluar dari rumah yang akan bisa membahayakan kandungan istrinya jika ia lebih lama lagi berada di sana.
"Kok buru-buru, Mas?"
Tersenyum, "Aku rindu dengan suasana di rumah kita, sayang." Jawab Adam tak ingin memberitahukan pada istrinya tentang kejahatan Mami Yunda.
"Tidurlah, sayang."
Mengangguk, kemudian kembali melanjutkan tidurnya.
Aku tidak akan membiarkan, Mami menghancurkan rumah tanggaku bersama wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak ingin jadi seperti, Papi yang menyedihkan. Jika Mami berani mencelakai istriku, aku tidak akan pernah memaafkan, Mami. Batin Adam mengusap-usap perut istrinya yang mulai terasa ada benjolan yang menonjol keluar.
,,,
"Dara" panggil Vano melangkah mendekati Dara yang sudah besiap ingin kembali ke Villa bersama Adam dan kedua anak mereka.
__ADS_1
Ternyata Vano datang berkunjung ke Mension untuk mellihat putranya.
"Kak Vano?" Dara tersenyum melihat kakaknya.
"Bagaimana kabar, kakak?" Lanjut Dara bertanya.
"Seperti yang kau lihat, kakak masih hidup," canda Vano tersenyum.
"Om!" Frey dan Arkan berteriak memanggil Vano, saat melihatnya.
"Hey! Kalian berdua apa kabar?" Tanya Vano berjongkok di hadapan Frey dan Arkan.
"Kami baik-baik saja, Om." Serentak anak itu.
"Peluk, Om dulu." Vano merentang tanganya memeluk kedua anak itu yang langsung menghambur memeluknya.
Adam baru tiba dari dalam. Ia melihat Vano yang sedang memeluk kedua anak itu. Vano melepas pelukannya saat melihat Adam.
Ia berdiri dan melempar senyuman tipis pada Adam yang sebelumnya, selalu berwajah datar padanya.
Tak menyangka, Adam membalas senyumannya. "Kakak baru datang?" Tanya Adam masih tersenyum.
Vano terperangah melihat perubahan sikap Adam padanya, apa lagi Adam yang memanggilnya 'kakak'
"I-iya, kakak baru datang," jawab Vano melebar senyuman.
__ADS_1
"Om, Mom cantik mana, Om?" Tiba-tiba terdengar suara Frey yang mencari keberadaan Icha. Raut wajah anak itu terlihat sedih saat tak melihat Mom cantiknya.