Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Meja Makan


__ADS_3

Adam melerai pelukannya pada Galih. "Kenapa kau baru datang kemari? Padahal aku sudah berapa kali mengajakmu untuk ke sini," kata Adam meninju ringan bahu Galih.


"Aku baru mempunyai waktu luang. Aku juga sibuk bekerja. Tapi ngomong-ngomong, mana adik iparku?" Tanya Galih mencari istri Adam.


Adam memperkenalkan Dara pada Galih. "Adik ipar ternyata sangat cantik. Pantas saja kau betah di negara ini hahaha." Canda Galih pada Adam.


"Tentu saja, kalau dia tidak cantik. Mana mungkin aku mau menikahinya," jawab Adam balas bercanda sambil memeluk bahu istrinya yang berada di sebelahnya.


"Kak Galih? Kak Galih sudah datang?" Tanya Mirna yang baru saja datang menghampiri mereka semua yang berada di ruang tengah.


"Mirna, Kinanti." Sapa Galih tersenyum pada mereka berdua.


"Iya, kakak baru saja tiba," lanjut Galih.


"Galih? Kapan kau datang?" Tanya Angkasa yang baru saja tiba di Mension.


"Paman, aku baru saja tiba paman," jawab Galih.


Mereka semua berbincang-bincang di ruang keluarga sambil sesekali tertawa bersama. Hanya Yunda yang tertawa penuh kepalsuan. Dia terus memperhatikan Galih, berharap pemuda itu ada sedikit ketertarikan pada wajah cantik menantunya.Tapi harapan Yunda tak sesuai dengan kenyataan, Galih tak ada ketertarikan langsung pada istri sepupunya itu. Mungkin karena dia menganggap Dara sebagai adik iparnya. Maka itu laki-laki itu tak menyimpan rasa apa pun meski hanya kekaguman saja pada Dara.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan menghampiri mereka semua yang sedang bercanda di ruangan.


"Maaf nyonya Yunda, makan malam sudah siap," kata pelayan.


Yunda pun mengangguk dan tersenyum ramah. Kemudian mengajak mereka semua masuk ke dalam untuk makan malam bersama.


,,,


Meja makan.


Saat semua sedang menyantap makan malam. Yunda mulai menjalankan rencana busuknya.


Angkasa menyerjit mendengar ucapan istrinya. Dia merasa jika istrinya itu sangat lah aneh hari ini.


Adam melihat ke samping, ia memperhatikan ekspresi istrinya. Tapi wajah wanita itu terlihat tenang saja.


"Nanti Adam akan bicarakan dengan anak-anak dan istri Adam ya Mi," Jawab Adam tersenyum. Tentu saja laki-laki itu tak berani memutuskan, jika ia belum bertanya pada istrinya.


Yunda mengerat pegangannya pada sendok di tangannya saat mendengar jawaban putranya.

__ADS_1


Dia tidak menyangka, jika hati putranya itu benar-benar sudah di taklukkan oleh wanita seperti Dara. Pikir Yunda.


"Anak-anakmu pasti akan setuju jika kamu dan istrimu mau tinggal di sini... Galih juga pasti senang jika kita bisa tinggal seatap, hanya sementara saja kok. Sampai Galih pulang. Iya kan Galih?" Yunda sengaja bertanya pada ponakannya agar Adam mau tinggal di sana bersama Dara.


Galih mendongak saat mendengar namanya di sebut. "Biarkan saja Adam di Villanya tante, nanti adik ipar tidak nyaman jika tinggal di sini," jawab Galih membuat Yunda geram seperti ingin melempar sendok ke wajah ponakannya itu.


Bukan itu yang ingin dia dengar dari mulut Galih. Tapi kenapa laki-laki itu malah berbicara yang tak ingin dia dengar.


"Adam memang sudah tidak sayang sama Mami," Yunda menyimpan sendoknya dengan wajah cemberut.


"Makan dulu Mi. Kan tadi Adam bilang, jika dia mau bicarakan dulu sama istrinya," Angkasa angkat bicara.


Sial. Batin Yunda kesal.


"Adam, bukannya dua hari lagi, kau ada perjalanan bisnis?" Tanya Angkasa menyuap makanan ke mulut.


Mendengar itu, Yunda menarik tipis sudut bibirnya. Karena dia tau, jika Adam sedang ada perjalanan bisnis, paling cepat putranya pulang dalam waktu 3 minggu.


Nasib keberuntungan sepertnya sedang berpihak padaku. Batin Yunda.

__ADS_1


__ADS_2