Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Tak pernah berubah


__ADS_3

"Iya," jawab Adam singkat menurunkan putranya kemudian melangkah kekamar mandi.


Baru datang saja sudah sedingin itu... Ada apa dengan laki-laki ini?. Batin Dara.


Ia melihat kearah putranya yang tersenyum manis. Dara sedikit curiga dengan anak itu saat melihat tingkah Arkan.


"Apa yang kau katakan pada Papa?" Tanya Dara penuh selidik.


Menggeleng, "Tidak ada Ma, Arkan nggak bilang apa-apa kok, sama Papa," bohong Arkan.


"Kalau orang suka bohong akan.....?" Dara menggantung ucapannya.


"Masuk neraka Ma" menyengir.


"Itu tau... Bilang sama Mama, Arkan bilang apa sama Papa?" Tanya Dara lagi. Ia begitu yakin pasti ada yang putranya itu katakan pada Papanya sehingga wajahnya laki-laki itu sangat datar dan dingin.


"Tadi Arkan bilang sama Papa, kalau Mama lagi telponan sama cowok Ma," jujur Arkan dengan senyuman terbaiknya.


Dara gemes mencubit pipi putranya sehingga memerah. Karena anak itu sangat putih.


"Arkhh sakit Ma, sakit..." Arkan meringis. Tapi Dara masih mencubitnya.


"Masih mau bohong kayak gitu?"

__ADS_1


"Nggak Ma, nggak sudah. Lepas Ma, sakit"


Sebenarnya cubitan Dara juga tak sakit. Hanya Arkan saja yang berlebihan dan wajahnya yang putih membuat pipi anak itu mudah memerah.


"Dara! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mencubit Arkan!" Adam menajam netranya pada Dara kemudian mendorong tangan Dara dari pipi Arkan.


"Anak kamu itu terlalu jahil!" Dara malah tak takut dan ketus pada Adam pergi dari hadapan Ayah dan anak itu. Adam melongo melihat Dara. Bukannya meminta maaf pada Arkan, malah dia marah-marah tidak jelas.


"Ada apa dengan Mamamu itu Arkan?" Tanya Adam melihat anaknya.


Arkan malah tertawa kemudian berlari mengambil ponsel Papanya dan bermain game. Adam hanya menggeleng melihat putranya, ia masih memakai handuk karena baru siap membersihkan tubuhnya.


Setelah itu ia juga melangkah keruang ganti memakai pakaian santainya.


"Apa kau mau makan siang di luar?" Tanya Adam lembut. Hubungannya dengan istrinya itu sangat rumit. Jika bertegur sapa saja nanti bertengkar, karena Dara sangat sensitif. Bukan tanpa alasan Dara seperti itu. Itu karena Dara tak ingin tinggal di Villa itu. Selama lima tahun tinggal di sana tak jarang dia sering bertengkar dengan madunya meski hanya hal sepele.


"Makan dirumah saja. Bibik juga sudah menyiapkan makan siang," jawab Dara.


"Tapi ada Mami dibawah. Kau mau makan satu meja dengan Mami?"


Dara diam tak menjawab.


"Bersiaplah. Kita makan diluar saja."

__ADS_1


"Tidak, dirumah saja," tolak Dara.


"Dara!" laki-laki itu meninggikan nadanya.


"Aku seperti ini saja. Ayo pergi sekarang, aku sudah lapar." Dara mengambil tasnya dan langsung turun kebawa disusul Adam sambil menggandeng Arkan.


"Kau mau kemana Adam?" Tanya Yunda melihat tak suka pada Dara.


"Aku mau makan diluar Mi," jawab Adam.


"Pelayan sudah menyiapkan makan siang dimeja makan Adam. Kenapa lagi mau makan diluar!"


"Aku ikut juga Pa," Frey memegang tangan Dara.


"Tidak! Kau tidak bisa ikut!" Yunda menarik Frey yang memegang tangan Dara kemudian mengelap jari-jari cucunya bekas sentuhan tangan Frey tadi pada Dara.


"Papa pergi dulu sayang. Kamu makan dirumah saja sama Nenek ya," Adam mengusap pipi Frey dan pergi dari rumah tanpa melihat kearah Maminya lagi.


Ia benar-benar muak melihat Maminya yang tak pernah berubah padahal Frey dan Arkan sudah tumbuh membesar. Tapi wanita itu masih tak bisa menerima Arkan yang sebenarnya adalah cucu kandungnya.


Yunda juga sebenarnya tau jika Arkan itu adalah cucunya, melihat dari wajahnya saja sudah bisa tau kalau itu Ayah dan anak. Tapi kebencian dalam dirinya yang begitu besar pada Ida. Ia tak bisa menerima Dara dan putranya meski pada kenyataan Arkan adalah Dara dagingnya juga, karena anak dari putranya.


Frey hanya bisa bersedih melihat Papanya pergi bersama kakaknya. Karena Yunda tak pernah membiarkan Frey keluar jika bersama Dara. Terkecuali ada Anim ibu Frey, tapi saat ini Anim masih bekerja.

__ADS_1


__ADS_2