
"Arkh!! Ku mohon lepaskan aku, Mas..." Gadis itu memohon pada suaminya.
Aldi menghempaskan tubuh gadis itu di atas ranjang, kemudian ia berjalan mengambil baju yang sudah ia persiapkan untuk wanita itu.
"Pakai baju itu!" Melempar baju minim yang sama sekali tak layak untuk di pakai, karena pasti akan memperlihatkan semua lekukan tubuh wanita siapapun yang memakai baju minim tersebut.
Ayya menggeleng keras saat melihat baju yang tidak pantas itu.
"Tidak... Ku mohon jangan, Mas... Tolong... Aku tidak ingin memakai pakaian yang terbuka seperti itu..." Ayya semangkin ketakutan menjauh.
"Bodoh!!! Jangan membuang-buang waktu ku, laki-laki yang sudah memesan mu, sudah datang di tempat. Jangan sampai aku menyiksamu lebih parah dari ini lagi!!" Sentak laki-laki bengis itu.
Ayya semangkin menggeleng tak ingin memakai pakaian kurang bahan tersebut.
"Kau!!!!" Aldi di buat benar-benar tidak bisa mengontrol diri.
Ia berjalan mendekat dan ingin menyiksa wanita itu. Tapi ponselnya tiba-tiba saja berdering.
Aldi mengangkat panggilan. "Iya, ada apa?" Tanya Aldi pada salah satu temannya yang juga bekerja sama seperti dia.
"Bos Delmond sudah datang, bagaimana? Apa kau jadi membawa gadis itu datang kemari?" Tanya Ed.
"Tentu saja jadi, apa Bos Delmond sudah masuk ke dalam kamar?"
"Sudah, buruan datang. Jangan sampai dia menunggu."
"Aku segera kesana." Aldi langsung menutup ponselnya kemudian melihat ke arah Ayya dengan amarah yang memuncak, karena orang yang ingin membeli keperawanan istrinya sudah tiba, tapi Ayya belum juga bersiap.
"Kau pilih antara satu, kau ingin aku mengirim orang untuk membunuh Nenekmu malam ini juga, atau kau pilih mengikuti perkataan ku untuk memakai baju itu!!" Aldi sudah tak bisa menahan diri lagi.
Gadis itu menggeleng cepat, "Jangan.... Ku mohon jangan apa-apa kan Nenek..." Kata Ayya dengan mata yang sudah mulai bengkak, karena dari tadi terus menangis.
__ADS_1
"Kalau begitu, pakai baju itu sekarang juga! Dan jangan membuat aku mengulang perkataan ku!!!"
Ayya yang sangat takut jika Neneknya di apa-apakan oleh Aldi si pria gila itu, akhirnya ia memilih mengangguk.
"Cepat!! Jangan sampai aku kehilangan sabarku!" Sentak Aldi lagi.
Dengan terpaksa gadis itu berdiri untuk berniat memakai baju kurang bahan.
Aldi keluar kamar setelah selesai mengancam gadis itu.
Ayya dengan terpaksa memakai baju itu yang memperlihatkan paha mulus, belahan dada dan semua lekuk tubuhnya.
Gadis itu semangkin histeris dan menekan dada tak snaggup melihat dirinya di harapan cermin. Ia merasa dirinya saat ini sangat hina. Bagaimana tidak, seorang wanita yang sudah terbiasa menutup diri dari pandangan laki-laki, tapi kali ini hanya tuhan yang tahu bagaimana perasaannya.
Hanya Allah yang dia harapkan bisa menyelamatkan dirinya dari tercemar kemaksiatan menjadi wanita kotor dan hina.
Ya Allah... Selamatkan lah aku....
Setelah berpakaian, Ayya keluar kamar menemui suaminya yang sudah menunggunya.
Sedetik kemudian, laki-laki itu tersenyum puas karena Ayya terlihat sangat cantik dengan penampilan itu.
"Ayo." Dangan kasar Aldi menarik istrinya keluar rumah.
Selama dalam perjalanan menuju tujuan, gadis itu terus menangis tanpa henti.
Setibanya mereka di sebuah Club mewah yang juga di sediakan Hotel. Aldi langsung menarik paksa istrinya masuk ke dalam.
"Ku mohon, Mas. Jangan lakukan ini padaku..." Ayya masih berusaha memohon pada Aldi, meski ia tahu jika itu hanya sia-sia, karena Aldi benar-benar menulikan telinganya.
"Kenapa kau lama sekali sih!" Kata Ed yang tenyata seorang bencong.
__ADS_1
"CK, mana Bos Delmond?" Tanya Aldi sambil memegang lengan Ayya, agar wanita itu tak bisa melarikan diri.
Ed melihat ke arah Ayya yang sangat cantik. "Oh, cantik, lumayan. Buruan naik sana, Bos Delmond sudah tiba," kata Ed mendorong punggung Aldi.
Aldi bergegas melangkah ke arah lift untuk membawa Ayya ke kamar 203.
"Mas Aldi... Kumohon... Aku enggak mau, Mas" Ayya semangkin kencang dengan tangisnya.
"Bodoh diam! Jangan sampai aku benar-benar akan membunuh Nenekmu malam ini juga!" Kata Aldi ingin sekali menampar Ayya yang terus membuat kupingnya sakit.
Tak berapa lama mereka sudah tiba di pintu kamar 203.
"Apa Bos Delmond sudah ada di dalam?" Tanya Aldi sopan pada laki-laki yang berdiri di depan pintu kamar tersebut.
"Apa ini wanita itu?" Tanya tangan kanan Bos Delmond.
"Iya." Jawab Aldi.
Tangan kanan Bos Delmond membuka pintu untuk Ayya.
Aldi mendekatkan wajahnya di telinga Ayya. "Jika sampai kau berani membuat masalah, aku pastikan. Malam ini juga aku akan membunuh Nenekmu." Ancam Aldi kemudian melepaskan lengan Ayya yang di pegang.
Ayya menggeleng dan kembali memegang lengannya tak ingin membiarkan laki-laki itu pergi dari sana.
"Jangan tunjukkan kebodohan mu jika kau masih ingin Nenekmu bernafas." Bisik Aldi lagi.
Dengan terpaksa Ayya melepas tangan suaminya. Gadis dengan kaki bergetar itu mulai melangkah masuk ke dalam kamar. Dan laki-laki yang berdiri di luar langsung menutup pintu.
Dia berdiri tanpa menghentikan air mata yang terus mengalir dari kedua bola matanya sambil mencari sekeliling kamar tersebut tapi ia tak melihat ada siapa-siapa di dalam sana.
Cklek
__ADS_1
Gadis itu langsung waspada saat melihat seorang laki-laki kekar memakai kimono keluar dari dalam kamar mandi.
"Apa kau pikir aku punya banyak waktu untuk menunggu mu disini?" Terdengar suara bariton dan dingin dari laki-laki itu dengan sorot mata tajam seperti menghunus jantung Ayya. Membuat gadis itu bertambah ketakutan. Meski laki-laki bernama Delmond itu sangat tampan bak dewa Yunani. Tapi sorot matanya cukup membuat orang mati seketika melihat pria itu.