Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Menghentikan


__ADS_3

"Iya, kak. Kayaknya alamat yang kita cari juga tidak berada di sini," jawab Dara setuju untuk pulang sesuai usulan Galih.


Tak berapa lama mereka sudah tiba di Mension. Galih dan Dara melangkah masuk ke dalam rumah.


Yunda yang melihat mereka berdua. Mulai menjalankan aksinya.


"Loh, kalian sudah pulang? Bagaimana? Apa kalian berdua menemukan rumah teman Mami?" Tanya Yunda.


Mereka berdua saling melempar pandang.


"Maaf tante, tapi kami sudah mencari kemana-mana, dan kami belum juga menemukan lokasi yang tante maksudkan itu," jawab Galih.


Sedangkan Dara hanya diam saja sedari tadi. Ia merasa pusing dan juga mual.


"Ada apa denganmu Dara? Kau baik-baik saja?" Tanya Yunda pada menantunya.


"Maaf Mi. Dara pamit ke kamar dulu," kata Dara.


"Ya sudah, kamu istirahat saja." Yunda tersenyum yang terlihat sangat tulus.

__ADS_1


Dara bergerak ingin beredar. Tapi tiba-tiba ia merasa sangat pusing, tubuhnya oleng dan langsung menahan dirinya dengan memegang pegangan tangga.


"Dara, kau tidak apa-apa?" Tanya Yunda berpura-pura menunjukkan kekhawatiran.


Menggeleng lemah. "Aku tidak apa-apa Mi," sahut Dara kembali ingin melanjutkan langkah kaki, tapi lagi-lagi ia masih merasa sangat pusing dan seperti tidak bisa naik ke lantai atas sendirian.


"Galih, tolong Dara dulu, kasihan dia, antar di ke kamar sebentar," kata Yunda pada ponakannya.


Ternyata keberuntungan sedang berpihak kepadaku, untuk membuat kedua manusia ini menjadi lebih dekat. Batin Yunda tersenyum dalam hati.


Galih menunjuk dirinya sendiri, dengan telunjuknya "Saya tante?" Tanya Galih.


"Ya iyalah, masak tante, tante-kan masih sakit Galih,"


"Aduh Galih... Kamu ini yah, kenapa mau pakai memanggil pelayan lagi sih? Kamu-kan ada di sini, ya kamu sajalah," ujar Yunda mengomeli ponakannya yang sedikit sulit untuk ia kendalikan.


"Aku bisa sendiri Mi." jawab Dara kembali ingin melangkah, tapi tiba-tiba lagi ia merasa bertambah pusing.


"Kamu tidak bisa sendiri Dara. Biarkan Galih yang mengantarmu keatas!" Yunda sedikit memaksa kedua manusia itu.

__ADS_1


Dengan perasaan yang penuh keraguan, Galih mulai melangkah kaki mendekati Dara.


Laki-laki itu terlihat ingin memegang Dara, tapi ia mengurungkan niatnya, kemudian kembali menarik tangan.


"Kau bisa memegang lenganku, nanti aku akan membantumu naik ke atas," kata Galih pada Dara merasa sangat tidak enak, dan memberikan lengannya untuk membantu Dara.


Dara yang tak punya pilihan karena merasa dia sangat pusing. Akhirnya mengangguk, memegang lengan Galih.


Kedua manusia yang di peralat itu, mulai melangkah kakinya naik ke lantai atas.


Saat di pertengahan anak tangga. Dara semangkin bertambah pusing, dan membuat wanita berhijab itu hampir terjatuh. Reflex Galih langsung memegang pinggangnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Galih.


"Aku sangat pusing," jawab Dara risih, seperti menghindari tangan Galih yang memegang pinggangnya.


Menyadari itu, Galih buru-buru menarik tangannya. "M-maaf." Kata Galih benar-benar merasa tidak enak pada Dara. Dan merasa bersalah pada Adam, padahal sepupunya tak berada di sana, tapi ia merasa seperti sedang di kawali oleh Adam.


"Kak Galih, ada apa?" Tanya Mirna datang menghentikan aksi gila tantenya yang ingin menghancurkan hubungan Dara dan Adam, dan secara tidak langsung hubungan Adam dan juga Galih pasti akan ikut sama hancur karena Mirna tau jika Adam sangat mencintai istrinya. Dan tentu saja kehadiran kakaknya akan menghancurkan semuanya.

__ADS_1


Yunda yang melihat Mirna mengacaukan rencananya. Membuat ia mengepal tangan erat. Anak sialan itu, awas saja kau nanti!. Batin Yunda, tak beda jauh dengan Kinanti yang belum sempat mengambil foto mereka berdua, tapi sudah di kacau-kan oleh Mirna.


"Biar aku saja, kak." Kata Mirna mengambil alih membantu Dara naik ke kamarnya.


__ADS_2