
Tampak Vano yang sudah rapi dengan setelan jas, ia melangkah ke ruangan Tuan Abimanyu. Ini pertama kali ia masuk ke kantor, setelah sekian lama.
Tok Tok Tok
Ia langsung saja mengetuk pintu ruangan Tuan Abimanyu.
"Masuk"
Vano membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tuan Abimanyu tersenyum saat melihat Vano sudah masuk bekerja selama dua bulan ini.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah lebih baik?" Tanya Abimanyu pada Vano yang mendudukkan dirinya.
Tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja tuan,"
"Tidak usah memanggilku 'Tuan' tetaplah memanggilku Daddy. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kamu, Vano" kata Tuan Abimanyu.
"Silahkan Daddy, saya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Daddy, tapi Daddy Duluan saja."
Mengangguk, "Baiklah." Menarik nafas berat.
"Daddy memutuskan untuk kembali ke Singapura, dan Daddy ingin tinggal disana saja. Daddy ingin mengangkat jabatanmu, untuk menggantikan posisi Daddy Vano," ujar Tuan Abimanyu menyampaikan niatnya.
Vano terdiam sejenak, kemudian menggeleng. "Maaf, aku tidak bisa Daddy." Mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Kemudian meletakkan di atas meja kerja Tuan Abimanyu.
"Apa ini?" Tanya Abimanyu.
__ADS_1
Menarik nafas. "Itu surat resign, Daddy. Aku memilih mengundurkan diri dari perusahaan," jawab Vano mantap.
Terlihat gurat kecewa dari raut wajah pria paruh baya itu.
"Kenapa, Vano? kenapa kau mengundurkan diri? padahal Daddy berniat mengangkat jabatan-mu, apa gaji yang Daddy tawarkan terlalu kecil?" tanya Tuan Abimanyu kecewa.
Menggeleng. "Tentu saja tidak, gaji yang Daddy berikan sangat lah tinggi. Tapi maaf, aku tidak bisa lagi meneruskan bekerja di sini, aku ingin beristirahat sebentar dari pekerjaan kantoran, Daddy." jawab Vano sudah bertekad ingin berhenti.
Tuan Abimanyu hanya bisa menarik nafas lemah. "Apa kau sudah menemukan pekerjaan yang cocok?" Tanya Tuan Abimanyu sangat sulit melepaskan menantunya yang sangat berprestasi itu.
Tersenyum dan mengangguk, "Sudah, Daddy. Aku hanya melamar menjadi guru TK di salah satu sekolah swasta," jawabnya jujur.
"Kau yakin mau bekerja di sana, Vano? Gaji bekerja menjadi guru itu, sangatlah kecil jika di bandingkan dengan gajimu bekerja di perusahaan ini. Dan sangat di sayangkan dengan kemampuan yang ada pada dirimu..." Abimanyu masih berusaha untuk membujuk menantunya itu, agar mau menggantikan posisinya sebagai pemimpin di perusahaannya.
"Tidak apa, Daddy. Aku tidak masalah soal gaji, aku hanya ingin menenangkan diriku sebentar, melihat anak-anak kecil, itu bisa sedikit mengurangi rasa rinduku pada almarhumah Icha," Lirih Vano di akhir kalimatnya. Bola mata laki-laki itu sudah mulai kembali berkaca-kaca saat mengingat semula istrinya, ia menunduk pandangan agar tak terlihat oleh Tuan Abimanyu. Tapi tentu saja Abimanyu melihat air matanya.
"Maafkan aku, yang sudah terlalu banyak menyakiti hati putri Daddy," ujar Vano masih menunduk dengan suara yang terdengar sendu.
"Jangan di pikirkan, tidak ada siapapun yang bisa memaksa perasaan seseorang. Lupakan masa lalu, cobalah untuk membuka lembaran baru, dan membina kebahagiaanmu. Icha pasti senang jika kau bisa bahagia, meski tidak bersamanya," kata Abimanyu mencoba menenangkan perasaan menantunya.
Vano mengangguk, kemudian mengusap air matanya yang terjatuh, "Terima kasih Daddy."
Mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, jika kau memang ingin berhenti, dan itu sudah menjadi keputusanmu, Daddy hargai. Tapi apa bisa Daddy meminta tolong sesuatu sama kamu?"
"Tentu saja Daddy, dengan senang hati," jawab Vano tersenyum.
"Tolong kamu pilihkan, salah satu karyawan yang bisa menggantikan Daddy untuk sementara waktu di perusahaan ini, Vano,"
__ADS_1
Mengangguk mantap. "Tentu saja bisa, Daddy. Akan segera saya dapatkan seseorang yang bisa menggantikan Daddy,"
Tuan Abimanyu tersenyum senang. Karena dia tahu, menantunya itu tidak mungkin menyimpan orang sembarangan di perusahaannya.
"Terima kasih,"
"Sama-sama"
,,,
Vano sedang duduk di sebuah bangku yang berada di bar, sambil memegang gelas yang berisikan soda non alkohol. Ia memutar-mutar minuman yang berada di dalam gelas miliknya, sambil termenung jauh.
Tiba-tiba seseorang duduk di dekatnya. "Kau terlihat seperti sedang banyak masalah?" Tanya Anim yang juga berada di bar, dan duduk di dekat Vano.
"Apa ada manusia dalam dunia ini yang tidak mempunyai masalah?" Vano balik bertanya tanpa melihat ke arah Anim.
Anim mendorong minuman beralkohol kehadapan laki-laki itu.
"Ini sedikit bisa meredakan masalah yang ada dalam pikiran," ujar Anim.
Vano menggeleng pelan.
"Kau sudah berhenti minum?" lanjut Anim saat melihat Vano menggeleng, karena dia tau, jika laki-laki itu sebelumnya, sangat senang meminum alkohol.
Mengangguk pelan. "Iya, katanya sayangi nyawa selagi masih sehat," jawab Vano terdengar sedikit lirih mengingat ucapan istrinya beberapa bulan lalu saat gadis itu masih hidup.
Anim masih bisa mendengar ucapan Vano meski di sana sangat memekakkan, ia juga melihat samar-samar pria itu sedang mengusap air matanya.
__ADS_1