Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Pemeras Ayya


__ADS_3

"Terus? Kenapa kalau kau lulus dengan nilai terbaik?" Sinis Nisa yang sedari dulu lagi tak menyukai Ayya.


Seperti biasa gadis itu hanya akan balas tersenyum meski wanita paruh baya itu terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka padanya.


"Aku dapat beasiswa untuk kuliah di luar kota Tante," jawab Ayya masih tersenyum.


"Siapa yang akan membenarkan kamu untuk pergi? Jika kamu pergi, siapa yang ingin beres-beres dan bekerja untuk menghasilkan uang, dan menghidupi kita di rumah ini!" Sinis Nisa.


Senyuman gadis itu mulai pudar dari wajahnya, tapi ia masih berusaha terus tersenyum.


"Tapi aku pengen sekali kuliah, Tante"


"Tidak usah kuliah, ujung-ujungnya juga wanita memang tempatnya di dapur," sahut Rico anak Tante Nisa.

__ADS_1


"Kalian ini! Biarkan saja Ayya kuliah, Nenek juga tidak masalah kalau Ayya mau kuliah," kata Nenek Sukarni.


"Masuk lah kedalam, bersihkan tubuhmu, Cu. Kalau memang kau mau kuliah, Nenek tidak keberatan." lanjut Nenek Sukarni lembut, ia sangat menyayangi Ayya, si gadis cantik dan ceria itu.


"Makasih, Nek." Jawab Ayya mencium pipi sang Nenek, kemudian berlari masuk ke dalam kamar.


"Ibu ini kenapa sih! Kalau anak itu kuliah keluar kota, terus siapa yang ingin bekerja untuk memberi kita makan!" Murka Nisa tak terima jika Ayya pergi dari rumah.


Karena selama ini, hanya Ayya yang bekerja banting tulang di paruh waktu setelah pulang sekolah untuk memberi makan dan belanja pada Tante Nisa dan juga anaknya Rico.


"Nenek itu selalu seperti itu jika sama aku, taunya hanya marah-marah saja. Siapa sih cucu Nenek yang sebenarnya? Aku apa gadis pungut itu!" Rico juga ikut memarahi sang Nenek.


"Kamu ya, Rico. Sama seperti Mamamu, tidak ada sopan santunnya pada Nenek, jika Nenek bilangin, taunya hanya menjawab semua!" Nenek Sukarni menggeleng melihat tingkah anak dan juga cucunya yang sama sekali seperti bukan keluarga, Ayya yang hanya cucu angkatnya tapi sangat menyayanginya, padahal ia tak pernah membedakan antara kasih sayang Ayya dan juga Rico. Tapi begitulah, Rico adalah pria yang sangat malas dan seringkali memeras Ayya untuk meminta uang.

__ADS_1


"Nenek taunya mengoceh saja jika sama Rico." Ketus Rico melangkah masuk ke dalam menuju kamar Ayya.


Rico memperhatikan Neneknya yang sudah tak terlihat, ia masuk secara diam-diam ke dalam kamar Ayya yang tak berkunci.


"Kak Rico? Ada apa?" Tanya Ayya saat melihat Rico mengunci pintu dengan rapat.


Laki-laki itu tak menjawab, ia melangkah mendekati Ayya.


"Berikan aku uangmu! Malam nanti aku mau keluar bersama teman-teman ku!" Ternyata Rico kembali melakukan aksinya yang suka memeras Ayya.


"Aku tidak punya uang lagi, kak. Kan pagi tadi aku sudah kasih kakak uang, sebelum aku berangkat ke sekolah," jawab Ayya.


"Ck, kau jangan bohong sama kakak, Ayya. Aku tau kau masih punya uang!" Rico mengambil paksa ransel gadis itu, dan menggeledah mencari uang Ayya.

__ADS_1


"Ini apa? Kalau bukan uang!" Sinis Rico mengambil uang 300 ribu dari ransel Ayya. Padahal uang itu untuk membeli obat buat sang Nenek.


"Jangan di ambil uang itu, kak. Itu uang untuk Nenek, kakak juga tau kan kalo Nenek sakit-sakitan. Kemarikan uangnya kak," Ayya berusaha mengambil uang yang sudah berpindah ke tangan Rico.


__ADS_2