
"Kenapa Adam tidak mau menjenguk aku di sini, Mas? Apa dia masih marah padaku?" Tanya Yunda mulai bercucuran air mata memikirkan putranya yang sangat ia rindukan.
Menarik nafas, Angkasa juga iba melihat istrinya yang begitu memprihatinkan karena merindukan sosok seorang anak yang sudah lama tak pernah ia temui. Tapi mau bagaimana lagi, Adam sudah terlanjur marah padanya dan begitu sulit untuk membujuk Adam agar ia mahu menemui ibunya.
"Nanti aku akan berusaha berbicara lagi pada Adam, siapa tau saja dia mau datang kemari untuk menjenguk, Mami." kata Angkasa.
Yunda tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata saat lagi-lagi ia mendengar jika Adam belum sampai saat ini belum bersedia ingin menemuinya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Angkasa pada Yunda.
Menggeleng pelan, "Aku hanya membutuhkan Adam, aku hanya ingin bertemu dengannya." Jawab Yunda terdengar isak tangis dari telepon yang menghubungkan mereka.
"Bersabar dan berdoalah, semoga menantu kita lekas sembuh, dan cucu kita bisa di temukan agar hati Adam bisa luluh dan ingin datang kemari bertamu dengan mu."
__ADS_1
Yunda lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Angkasa menarik nafas berat, meski ia tak mencintai istrinya itu. Tapi tetap saja ia tak tega melihat istrinya berada dalam penjara seperti saat ini dalam keadaan cacat.
Ingin saja rasanya ia membayar dan membeli hukum agar istrinya bisa di bebaskan, tapi mana mungkin juga dia melakukan itu tanpa persetujuan dari anaknya sendiri. Lagi pula yang salah tetap lah bersalah, memang sudah sepantasnya mendapat hukuman seperti istrinya yang sudah keterlaluan. Apa lagi sampai membuat cucunya hilang.
"Aku pulang dulu, nanti aku akan datang lagi menjenguk mu. Maaf jika aku sudah jarang datang kemari. Karena aku juga begitu sibuk di kantor, Adam sudah tidak pernah lagi ke kantor, karena menjaga istrinya yang sakit, Mi" Ujar Angkasa menjelaskan kesibukannya, agar Yunda tak merasa terlalu terabaikan karena jarang di jenguk.
"Mas." Panggil Yunda saat Angkasa ingin meletakkan gagang telepon.
"Titipkan mohon maaf ku pada Ida, aku minta maaf, dan minta ampun karena sudah mengambil miliknya, aku minta maaf karena sudah membuatnya menderita. Jika dia bermurah hati ingin datang kemari, maka aku ingin menyampaikan kata maaf ku padanya secara langsung." Kata Yunda menahan diri agar tangisnya tidak meledak.
"A-aku juga minta maaf pada Mas, karena aku memaksakan kehendak hati ku untuk memiliki mu... Padahal sudah jelas jika sampai kapanpun kau tidak akan pernah mencintai ku, maafkan aku yang sudah terlalu egois, Mas... Aku minta maaf." lanjut Yunda menyimpan gagang telepon dan membalik kursi rodanya berjalan meninggalkan Angkasa yang masih terdiam melihat punggungnya melalui kaca yang tembus pandang.
Tanpa sadar, laki-laki paruh baya itu menjatuhkan bulir-bulir bening dari kedua bola matanya.
__ADS_1
Setelah itu, ia kembali ke mobilnya semula.
,,,
Adam mendekati istrinya yang masih sama seperti tadi, tak bergerak sedikitpun dari tempat.
"Kau sudah makan, sayang?" Tanya Adam memegang lembut kepala sang istri.
Seperti biasa Dara hanya diam sambil menatap kosong.
Bola mata laki-laki itu mulai berkaca-kaca saat tak ada respon dari istrinya. Ia berjongkok di hadapan Dara.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, sayang? Apa kau tidak kasihan pada ku dan juga Arkan. Lihat sayang, Arkan sudah berusia 7 tahun, selama dua tahun terakhir ini, kau sama sekali tidak pernah mengurusnya lagi, apa kau tidak kasihan dengan putra kita? Arkan juga ingin mendapat kasih sayang seperti dulu lagi darimu, sayang... Tolong jangan seperti ini terus, ku mohon..." Kata Adam lembut, berusaha mengajak istrinya berbicara agar wanita itu bisa kembali seperti yang dulu lagi.
__ADS_1