
Arkan dan Frey akhirnya tiba di Villa. Kedua adik kakak itu manarik nafas berat sebelum melangkah masuk ke dalam.
Ingin rasanya mereka hanya di luar saja dan tak perlu pulang ke rumah agar Mama Dara tak akan bersedih jika mereka berdua membawa berita yang tak sesuai yang di inginkan oleh Mama Dara.
Tiba di dalam. Mereka perlahan ingin menemui Mama Dara di dalam kamar.
"Papa? Mama kenapa?" Tanya Arkan dan Frey berbarengan saat melihat Mama Dara sudah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
Menggeleng lemah. "Mama kehilangan kendali lagi."
Ia menoleh dan melihat kedatangan kedua anaknya yang tak membawa siapapun selain badan mereka sendiri.
"Bagaimana?" Lanjut Papa Adam.
"Maaf, Pa. Tapi kami tidak menemukan gadis itu." Jawab Arkan terdengar lirih.
"Apa yang akan kita jawab nanti pada Mama, Pa?" Cemas Frey.
"Papa juga sudah benar-benar buntu dan bingung ingin menjawab apa lagi." Terdengar putus asa.
"Papa hanya khawatir dengan keadaan Mama jika terus seperti ini, Papa khawatir dengan kondisi kesehatannya." Lanjut Papa Adam merasa seperti ingin gila saja.
Arkan dan Frey juga ikut di buat bingung. Wajah mereka bertiga hanya bisa menggambarkan kesedihan yang mendalam.
Ingin berbuat apa lagi, semua sudah mereka lakukan agar bisa menemukan adik mereka. Tapi tetap saja nihil selama 17 tahun, sama sekali belum membuahkan hasil.
,,,
Dengan wajah yang tak sedap di pandang. Aldi duduk sambil meminum alkohol.
__ADS_1
"Lo kenapa?" Tanya Ed saat melihat Aldi begitu banyak pikiran.
"Gadis sialan itu membuatkan aku masalah. Aku benar-benar merasa seperti ingin membunuhnya. Andaikan saja dia bukan asetku, sudah pasti aku akan membunuh wanita bodoh itu,"
"Kau sedang curhat?" Tanya Ed dengan gaya bencongnya.
Aldi hanya mendengus. Tiba-tiba ponsel laki-laki itu berdering, saat melihat siapa yang menelponnya. Ia buru-buru berlari ke dalam toilet agar bunyi musik yang bising tidak di dengar oleh ibunya yang menghubunginya.
"Hello, Assalamualaikum, Bu," Jawab Aldi berubah menjadi pria lembut yang hangat, sangat jauh berbeda jika laki-laki itu berada di kota.
"Waalaikumsalam. Aldi, kenapa belum kasih kabar sama ibu jika kalian sudah sampai di kota?" Tanya Buk RT.
"M-maafkan Aldi, Bu. Aldi sangat sibuk sampai-sampai lupa memberi kabar pada ibu. Bos tempat Aldi bekerja marah karena Aldi terlalu lama liburnya, Bu,'' bohong laki-laki itu.
"Oh, maaf kalau ibu mengganggu pekerjaanmu. Jadi mana istrimu, nak?"
Aldi berpikir sejenak. "Ayya ada di rumah, Bu. Soalnya Aldi masih berada di kantor. Aldi lembur soalnya, Bu," lagi dan lagi laki-laki itu hanya tahu berbohong.
"Iya, Bu. Nanti Aldi telpon ibu kalau Aldi sudah sampai di rumah. Sudah dulu ya Bu, soalnya Aldi mau meneruskan pekerjaan Aldi. Agar nanti bisa cepat pulang."
"Iya, iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aldi menutup panggilannya. "Menggangu saja!" Ketusnya keluar dari toilet.
"Lo dari mana sih!" Tanya Ed.
"Ada apa kau mencariku?"
__ADS_1
"Itu tadi ada seorang hidung belang yang mau membeli perawan katanya," Ed.
"Serius? Berapa dia sanggup bayar?" laki-laki bejat itu tampak begitu antusias.
"Berapa saja katanya, terserah lo,"
"Apa dia sanggup membayar semahal Bos Delmond?"
"Eh, periuk jelek! Ya enggaklah. Mana ada yang sanggup membayar semahal Bos Delmond kampret," sewot Ed.
"Katanya terserah berapa," ejek Aldi.
"Iya aku bilang begitu, bukan berarti sama dengan si Bos ganteng beo lo." Ed melibas-libas rambut pendeknya sambil berdecak.
,,,
Di rumah Aldi.
Jari-jari telunjuk gadis itu mulai bergerak. Ia mulai tersadar dari pingsannya tadi, darah yang berada di lantai dan juga di kepalanya sudah mulai mengering akibat pingsan terlalu lama.
"Gelap... Kenapa semuanya gelap..." Gumam Ayya mulai mengumpul kesadaran.
Karena dalam gudang itu memang sangat gelap, apa lagi sudah malam.
Saat ingin mendudukkan diri, ia merasa kepalanya begitu pusing, apa lagi dengan kegelapan yang sangat pekat. Tak ada sedikitpun cahaya yang ia lihat.
"Ya Allah... Aku di mana.." gadis itu mulai menangis setelah kesadarannya sudah mulai terkumpul.
Ia meraba-raba lantai yang ia tempati. Tak sengaja tangannya menyentuh rantai yang mengikat kedua kaki gadis itu.
__ADS_1
"Apa ini? Dan kenapa di sini sangat gelap? Mana Mas Aldi?" Ayya terus meraba-raba sambil ketakutan.
"Mas!! Mas Aldi!!" Teriak wanita itu dalam kegelapan, tapi tak ada siapapun yang menyahutinya meski ia terus berteriak berkali-kali.