Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Tangkap Dia!


__ADS_3

Icha menunduk pandangan, saat menyadari sebentar lagi air matanya akan menetes dari kedua bola mata.


Vano masih menatap wanita bercadar yang menunduk. Dia sangat yakin dan tak asing dengan mata itu.


Icha....


Itu lah yang berada dalam pikiran Vano, di mana bola mata gadis itu sangat mirip dengan Icha almarhumah sang istri.


Gadis itu membalik badan ingin pergi dari hadapan Vano.


"Tunggu!"


DEG DEG DEG


Jantung gadis itu berdegup kencang tak beraturan mendengar laki-laki di punggungnya memanggil ia yang sudah berbalik.


Langkah kakinya terhenti, ia ingin berlari meninggalkan suaminya. Tapi ia juga berpikir, jika sampai ia berlari, tentu saja Vano akan curiga.


Akhirnya ia hanya diam seperti manekin bingung ingin bertindak seperti apa.


Tap Tap


Jantung gadis itu semangkin berdebar kencang mendengar langkah kaki mendekatinya.


"Apa ini milikmu?" Tanya Vano memberikan wanita bercadar itu sebuah gelang tangan miliknya yang tak sengaja wanita itu jatuhkan tadi.

__ADS_1


Icha mengangkat tangan mengambil gelang di tangan Vano. Setelah itu, ia bergegas pergi dari hadapannya. Untung saja tadi ia berinisiatif untuk memakai cadar agar mengelak jika sampai ia bertemu dengan Vano. Tapi belum apa-apa, ternyata benar jika mereka benar-benar bertemu.


Vano masih memandang punggung gadis yang berjalan cepat sehingga bayang-bayang gadis itu menghilang, baru lah ia berhenti melihatnya.


Siapa wanita tadi? Kenapa mata dan bola matanya sangat mirip sepertinya? Tapi mana mungkin juga itu adalah dia, bukankah sudah jelas jika Icha meninggal?Batin Vano masih tertanya-tanya siapa gerangan gadis yang dia temui tadi itu.


Menarik nafas lemah. Lebih tepatnya meninggalkan aku sendirian di dunia ini di selimuti kesepian dan rasa bersalahku. Aku terlambat menyadari perasaanku untuknya, setelah ia pergi, barulah aku sadar, jika kehadirannya telah memberi warna dalam kehidupanku. Icha.... Aku mencintaimu, meski mustahil untuk kau mendengar ini, tapi percayalah. Aku sangat mencintaimu. Lanjut Vano masih membatin dengan wajah suram tergambar kesedihan yang mendalam.


Tuan Abimanyu yang melihat itu, hanya bisa menarik nafas, karena ternyata benar jika putrinya sudah mengambil keputusan mutlak untuk tidak ingin hidup bersama dengan Vano lagi. Padahal harapannya tadi, ia berharap jika mereka bertemu, dan bisa bersatu kembali.


Semoga keputusanmu ini benar sayang... Semoga saja kau tidak akan menyesal di kemudian hari dengan keputusan yang sudah kamu ambil. Batin Abimanyu.


,,,


Apa aku akan melahirkan ya? Kenapa rasa sakitnya semangkin tidak bisa aku kendalikan?. Batin Dara.


Wanita itu bergerak mengambil ponselnya, kemudian ia menghubungi nomor Adam. Tapi nomor suaminya tak aktif, karena Adam sedang mengadakan meeting.


"Kemana dia?" Gumam Dara mengatur nafas, ia semangkin yakin jika sebentar lagi dia pasti akan melahirkan.


"Bi!!! Bibik!!!" Panggil Dara saat wanita itu sudah tak bisa menahan rasa sakit yang semangkin menderanya.


"Iya, Non Dara?" Tanya seorang bibik yang berlari masuk ke dalam kamar.


"Bi, sepertinya aku sudah hampir melahirkan. Tolong antar aku ke bawah, aku mau ke rumah sakit, bik." kata Dara dengan suara berat.

__ADS_1


Bibik itu di buat kalang kabut. "Kenapa tidak telpon Tuan Adam dulu Non?"


"Nomor Mas Adam tidak dapat. Ayo bik, antar aku ke bawah."


Bibik itupun bergegas mengantar Dara ke bawah. Supir yang melihat istri Tuannya ingin melahirkan, akhirnya segera membawa wanita itu ke rumah sakit.


Pas di pertengahan jalan, tepatnya di tempat yang sangat sunyi, sebuah mobil berwarna hitam memotong mobil mereka.


"Kenapa berhenti, Pak?" Tanya Dara yang memegang perutnya.


"Maaf No----------


"Turun!!!" terlihat 4 orang yang bertopeng sedang menodong supir itu dengan senjata api, duanya lagi membuka pintu penumpang, dan menarik paksa Dara keluar dari mobil, sehingga membuat perut wanita itu tersangkut di pintu.


"Arkhhhh" Dara berteriak kesakitan tak berdaya.


"Diam! Bawa dia masuk ke dalam mobil." Titah salah satu dari keempat pria bertopeng itu.


Dara yang merasa jika dia sedang dalam bahaya, buru-buru mengambil pasir di tanah, kemudian melempar kepada mereka satu persatu.


"Arkh!" Mereka berteriak kesakitan memegang mata masing-masing.


Pada kesempatan itu, Dara mengambil kesempatan melarikan diri masuk ke dalam sebuah hutan yang tak terlalu besar.


"Kejar wanita itu, dia melarikan diri!!" Kata bos mereka yang masih mengusap mata akibat sakit terkena pasir.

__ADS_1


__ADS_2