
Flash back.
Yunda tak bisa melepaskan pandangannya dari seorang laki-laki tampan yang berada di hadapannya. Saat ini ia sedang berada di Mension keluarga Angkasa.
"Angkasa, kenalkan. Ini Yunda yang Mama cerita sama kamu. Dia anak teman Mama" kata nyonya Tinni Mama dari Angkasa.
Angkasa melihat ke arah wanita di depannya sambil tersenyum paksa dan kembali mengalih pandangannya dari Yunda. Dia sama sekali tidak ada ketertarikan sedikit pun pada wanita itu. Jari-jarinya juga sibuk membalas pesan dari Ida kekasihnya, sambil sesekali dia tersenyum tipis.
Yunda yang melihat gaya Angkasa di buat heran. Apa yang membuatnya begitu bahagia?. Batin Yunda.
"Angkasa, Mama berniat ingin menikahkan kamu dengan Yunda," Kata Tinni yang membuat Angkasa kaget.
"Apa maksud Mama? Mama tidak pernah membahas ini sebelumnya dengan ku," Tanya Angkasa mengerut tak ingin jika Mamanya berniat ingin menjodohkannya dengan Yunda.
Tinni melototi putranya takut jika Yunda tersinggung.
"Kok jawabnya begitu? Yunda ini juga orangnya cantik dan manis loh," Tinni Masih berusaha tenang.
"Tidak Ma, tidak! Aku tidak kenal wanita ini, apa lagi aku tidak mencintainya!!" Angkasa menolak mentah-mentah Yunda secara langsung tanpa memperdulikan perasaan wanita itu.
__ADS_1
"Angkasa!! Apa kamu tau cara bersopan santun di hadapan tamu!!" Sentak Mama Tinni karena putranya mulai tak bisa ia kendalikan.
Ini semua karena perempuan kampung itu!. Batin Tinni geram.
Angkasa berdiri dari meja makan. "Tidak! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita ini! Tidak akan!!" Kekeh Angkasa bahkan sampai menunjuk wajah Yunda dan memandang sinis wanita itu. Ternyata Angkasa semasa mudanya a q adalah laki-laki yang angkuh sama seperti Adam sebelumnya.
Setelah itu, Angkasa mengambil kunci mobilnya pergi dari Mension, tak peduli dengan Mama Tinni yang terus memanggilnya.
Laki-laki itu mengarah mobil yang dia kendarai ke arah rumah Ida. Ida juga hanya tinggal berdua bersama ibunya yang sakit-sakitan.
"Kau sedang buat apa?" Tanya Angkasa tiba-tiba dari belakang wanita cantik itu.
Angkasa duduk di hadapan wanita itu. "Mari kita menikah," kata Angkasa tiba-tiba mengajak gadis itu menikah.
Ida hanya melihatnya sekilas. Ia berpikir jika Angkasa hanya sedang bercanda.
"Malam-malam begini kau datang hanya untuk bercanda?" Tanya Ida.
"Tidak, aku serius, aku ingin menikah denganmu,'' Angkasa terlihat bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Besok saja kita bahas ini, aku lagi ngantuk." Elak Ida, karena dia tau jika keluarga Angkasa pasti tidak akan menerimanya. Alasan mereka bisa pacaran, itu karena Angkasa memaksa wanita itu untuk berpacaran dengannya. Tapi lambat laun, gadis itu semangkin nyaman dengan Angkasa.
Seiring berjalannya waktu. Yunda semangkin gencar mendekati Angkasa. Tapi laki-laki itu selalu berusaha untuk menjauhinya. Angkasa juga tidak segan-segan menolak wanita itu.
Seperti hari ini, Yunda membawa makan siang ke kantor Angkasa. Tentu saja atas dukungan dan dorongan nyonya Tinni.
"Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam ruangan saya?" Tanya Angkasa menunjukkan wajah tidak senang dari laki-laki itu.
Yunda tersenyum manis pada Angkasa. "Aku bawa makan siang untuk kamu," jawab Yunda mengangkat makan siang yang berada di tangannya tanpa memudar senyuman.
Angkasa yang sudah muak dengan wanita itu yang tak pernah berputus asa terus mengejarnya. Ia berdiri dari kursi kerja kemudian mengambil makan siang yang berada di tangan Yunda, dan tanpa berpikir dua kali, ia langsung membuang makanan itu ke dalam tong sampah yang berada di ruangannya tepat di hadapan Yunda.
Yunda membeku saat melihat itu. Bola matanya sudah berkaca-kaca.
"Keluar dari ruangan saya!!!" Sentak Angkasa mengusir Yunda sambil menunjuk kearah pintu ruangannya.
Flash Back
Bersambung
__ADS_1