
Mengingat masa lalu yang pernah wanita itu alami. Ia semangkin membenci Ida dan semua keturunannya. Dengan tekat yang bulat. Dia akan memisahkan Adam dan Dara.
,,,
Lain halnya di Mension keluarga Abimanyu. Icha sudah bersiap-siap untuk tidur. Vano menepati janjinya, jika dia akan menemani gadis itu saat dia ingin tidur, sesuai yang gadis itu minta.
Vano naik ke atas ranjang dan memeluk Icha yang sudah berbaring. Gadis itu tersenyum senang karena laki-laki itu ingin menunaikan permintaannya.
"Apa aku terlihat tidak cantik di mata mu kak Vano?" Tanya wanita itu tiba-tiba.
Vano sebenarnya malas ingin menjawab gadis itu. Tapi dia tetap menjawabnya.
"Cantik, sejak kapan aku mengatakan jika kau tidak cantik," jawab Vano.
Tersenyum tipis. "Lalu? Kenapa kak Vano tidak bisa mencintai aku?"
"Apakah karena seseorang itu cantik, dan laki-laki harus mencintainya? Kau salah Icha, cinta sejati itu tidak harus cantik, dan juga tidak harus memiliki. Meski seberapa dalam manapun perasaan kita pada seseorang itu, kita tidak seharusnya memaksanya untuk bisa mencintai kita. Apa lagi jika seseorang itu mencintai orang lain," ujar Vano menembusi relung hatinya. Seolah laki-laki itu mengatakan padanya jika dia sangat tersiksa berada di sisinya.
"Apakah aku terlalu memaksa kak Vano untuk berada di sisiku?" Icha menatap kedua bola mata laki-laki itu.
__ADS_1
"Tidurlah lebih awal." Kata Vano mengakhiri pembicaraan mereka berdua, baginya itu tidak penting untuk di bahas.
Icha tersenyum kecut saat melihat Vano sama sekali tak ambil peduli tentang perasaannya. Padahal laki-laki itu tau jika dia sangat mencintainya.
Mungkin memang sudah seharusnya aku melepaskan kamu kak Vano. Kamu tenang saja, aku akan pergi dari kehidupan mu, dan tidka akan lagi pernah muncul di hadapan kamu kak. Maafkan aku yang sudah sangat egois. Batin Icha sedih.
,,,
Keesokkan harinya.
Dara berada di dapur sedang membuat sarapan.
"Non Dara, kenapa Non Dara yang membuat sarapan. Itukan pekerjaan bibik," kata bibik pelayan itu menghampiri Dara.
''Jangan begitu Non, nanti bibik bisa di marah sama tuan Adam."
''Ya tidak lah bik, masak dia mau marah''
Tiba-tiba Yunda muncul ke dapur sambil mendorong kursi roda miliknya sendiri menggunakan tangannya yang masih berfungsi.
__ADS_1
"Bibik. Bibik keluar dulu sebentar, aku mau berbicara dengan menantuku," kata Yunda pada bibik itu.
Menantuku? Kenapa aku merasa merinding saat mendengar kalimat itu dari mulut nyonya Yunda. Batin Dara saat Yunda memanggilnya 'menantuku'
"B-baik nyonya." pelayan tersebut bergegas pergi dari dapur, dan membiarkan Yunda hanya berdua dengan menantunya.
Yunda mendekati Dara. Yang membuat Dara kaget, itu karena wanita paruh baya itu tiba-tiba saja memegang pergelangan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Dara ingin menarik tangannya tapi di tahan.
"Dara, Mami ingin meminta maaf sama kamu nak. Maafkan Mami yang selama ini sudah jahat sama kamu. Mami benar-benar menyesal dengan sikap mami, mau kah kamu memaafkan Mami, Dara?" ucap Yunda terlihat penuh penyesalan. Demi memuluskan sandiwaranya, wanita itu juga menjatuhkan air mata.
Dara bingung ingin berkata apa. Sikap Yunda yang seperti itu membuatnya kebingungan.
Melihat Dara hanya diam, Yunda kembali bersuara. "Apa kah kau tidak bisa memaafkan Mami?" Tanya Yunda pada Dara.
Dara tersenyum kaku. "Nyonya tidak usah memikirkan itu lagi, aku sudah lama melupakan yang pernah terjadi dulu," ujar Dara.
Yunda terlihat melengkung senyuman di wajah sambil mengusap air mata ''Terima kasih, karena kau mau memaafkan Mami yang sudah banyak sekali membuat kesalahan pada kamu selama ini."
__ADS_1
"Tidak usah di bahs lagi nyonya,'' masih berusaha tersenyum. Entah mengapa dia merasa ada yang janggal.
"Berarti, Dara mau kan tinggal di sini temani Mami selama Adam tidak berada di negara ini? mami hanya ingin agar hubungan di antara kita bisa dekat, Dara" ucap Yunda mulai mengeluarkan keinginannya.