Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Yunda siuman


__ADS_3

"Air... Air..." Lirih Yunda yang baru saja tersadar.


Mendengar itu. Dara menghampiri Mami mertuanya itu. Kemudian memberikannya air dengan berhati-hati agar wanita paruh baya yang masih menutup kedua bola matanya itu tak tersedak.


Setelah itu Dara buru-buru keluar dari ruangan Yunda. Kemudian ia memanggil dokter untuk memeriksa Mami mertuanya.


Adam juga baru saja tiba. "Kenapa kau diluar sayang?" Tanya Adam.


"Mami sudah sadar. Dia sedang di periksa sama dokter," jawab Dara.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau Mami sudah siuman,"


"Mari kita masuk." Adam memegang tangan istrinya ingin menariknya masuk kedalam, tapi wanita itu menahan diri.


"Kenapa?" Adam heran.


"Tidak Mas, aku tidak ingin kedalam dulu. Mami mu baru saja siuman. Bagaimana jika emosinya kembali tidak stabil saat melihat aku, Mas juga tau bukan, jika Mami mu sangat tidak menyukai aku," kata Dara.


Adam berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Dara itu benar, bagaimana jika tekanan Maminya tiba-tiba tak stabil lagi saat melihat istrinya.


"Baiklah. Kalau begitu, kau pulang saja dulu sayang, sekalian jemput Arkan di sekolah ya,"


Dara mengangguk. "Iya Mas,"


"Terima kasih karena mau menjaga Mami tadi,"


"Santai saja. Aku pergi dulu Mas,"


Adam mengangguk kemudian ingin melangkah masuk kedalam ruangan Maminya. Tapi dia mendengar Maminya yang berteriak-teriak dari dalam ruangannya.


Adam berlari masuk. "Ada apa dokter?" Tanya Adam panik melihat Maminya yang hanya bisa berteriak tapi tak bisa bergerak, karena sebelah tubuhnya sudah tak berfungsi.


"Adam!!! Mami kenapa Adam!!!" Teriak Yunda menangisi keadaannya.


Adam menatap iba pada Maminya. Mendekat dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.


"Mami... Mami tenang dulu Mi..." Adam berkaca-kaca melihat Yunda.


"Kenapa dengan badan Mami Adam... Mami tidak mau seperti ini!!!" Yunda terus berteriak.


Dokter yang tak punya pilihan. Terpaksa memberikan Yunda suntik penenang, agar tensi wanita itu tidak naik dan akan membahayakan nyawanya.


Setelah Yunda tenang. Dokter juga pamit keluar.


Adam menggenggam tangan Maminya kemudian mencium lembut jari-jari Yunda.


"Kenapa Mami bisa jadi seperti ini Mi..." Lirih Adam menjatuhkan air matanya. Ia tak tega melihat Maminya yang menderita terbaring kaku seperti itu.

__ADS_1


,,,


Setelah beberapa hari berlalu. Yunda akhirnya di bawa pulang ke Mension suaminya. Karena Yunda besikeras tak ingin tinggal di rumah sakit.


Dara datang menjenguk mertunya. Ini pertama kali ia ingin menemui Yunda setelah di bawa pulang dari rumah sakit. Kebetulan ia melihat pelayan yang ingin membawa makanan ke kamar mertuanya. Ia menghentikan pelayan itu.


"Biar aku saja bibik," kata Dara.


"Owh, iya non,"


Dara tersenyum mengambil nampak ditangan pelayan itu. Ia mulai melangkah naik keatas dan masuk kedalam kamar mertuanya.


"Nyonya, anda makan dulu," kata Dara duduk di pinggir kasur Yunda yang hanya diam tak ingin melihat kearahnya.


Dara mengambil sendok dan mulai meniup bubur yang ingin dia suapi untuk Yunda.


"Ayo nyonya," kata Dara mendekatkan sendok ke mulut Yunda. Tapi siapa sangka, wanita paruh baya itu malah mendorong mangkok yang berada di tangan Dara, memakai sebelah tangannya yang masih berfungsi. Bubur tersebut tumpah mengenai betis Dara.


"Allahu Akbar!" Pekik Dara kaget.


"Kau jangan sok baik padaku!! Aku tidak sudi untuk memakan, makanan dari tangan wanita licik seperti dirimu!! Kau itu sama saja seperti si Anim! Perempuan murahan dan munafik!!" Teriak Yunda menggebu-gebu.


Dara dengan sabar mengambil mangkok dan sendok yang terjatuh kemudian keluar dari kamar mertuanya.


Ia ingin segera mencari obat di kamar suaminya untuk mengobati betisnya yang terkena bubur panas.


,,,


Icha tersenyum lebar saat melihat laki-laki itu, ia langsung masuk kedalam mobil. Tapi saat melihat ada dua bocah yang duduk di kursi penumpang, ia menyerjit.


"Siapa bocah-bocah ini kak?" Tanya Icha mengunya permen karet yang berada dalam mulutnya.


"Satu ponakanku, satunya lagi anakku," jawab Vano jujur dengan wajah datarnya.


"Whattt???? Anak??? Kak Vano bercanda ya???" Tanya Icha membuat laki-laki itu mengeram kesal karena telinganya sakit mendengar teriakan gadis itu.


"Aku tidak berbohong. Yang pakai seragam itu ponakanku, di sebelahnya itu putraku." Jawab Vano menjalankan mobilnya.


Arkan dan Frey saling pandang mendengar ucapan Vano. Karena laki-laki itu belum menjelaskan pada mereka berdua siapa sebenarnya dia. Mendengar Vano menyebut Frey anaknya, kedua bocah itu heran.


Pagi tadi Vano meminta nomor ponsel Dara pada ibunya. Setelah itu dia menghubungi Dara untuk meminta izin pada Dara, jika dia ingin mengambil Frey di Villa Adam, serta meminta izin juga pada Dara untuk menjemput Arkan di sekolah. Vano juga tak lupa sudah meminta izin pada tuannya alias mertuanya sendiri, jika hari ini dia hanya bekerja sampai jam makan siang.


Icha membalik badan dan berbicara pada kedua anak itu. "Hai.." Sapa Icha melambai tangannya tersenyum ramah.


"Hai tante," jawab Arkan dan Frey bersamaan.


"Siapa nama kalian?" Tanya Icha tersenyum manis.

__ADS_1


"Saya Arkan tante, yang ini adik Frey" jawab Arkan memperkenalkan dirinya.


"Wow! Nama kalian keren-keren loh, sama kayak ganteng kalian berdua. Oya, nama tante Icha,"


"Arkan, panggil tante, dengan panggilan tante cantik," ujar Icha membuat wajah imutnya. Vano yang mendengar ucapan Icha hanya menggeleng-geleng.


"Kalau Frey, panggilnya aku, Mom cantik..." Kata Icha antusias.


Vano melirik sekilas pada wanita jadi-jadian itu saat mendengar ucapannya. Ada-ada saja. Batinnya.


"Kok Mom, aku kan sudah punya ibu tan---


"Eits... Mom cantik," kata Icha memotong ucapan Frey.


"M-Mom cantik, aku sudah punya ibu," jawab anak itu tersenyum kecut.


"Aku juga Mom cantikmu, loh" kata Icha mengedip-ngedipkan kedua bola matanya.


"B-baik Mom cantik,"


"Kalian mau makan ice cream nggak?" tanya Icha bergaya seperti anak kecil.


"Mau tante cantik," Arkan.


"Mau Mom cantik," Frey.


Bersamaan Arkan dan Frey antusias.


"Kalau begitu, mari kita cari penjual ice cream!" Kata Icha mengepal tangannya di udara dan tertawa lebar pada kedua anak itu.


Seperti anak kecil. Batin Vano.


"Ayo!" Arkan dan Frey juga mengikuti gaya wanita di depannya.


Tak berapa lama Vano menghentikan mobilnya di tempat jualan ice cream.


Saat ingin turun. Frey tak beranjak sama sekali dari duduknya "Kenapa? Tadi katanya mau makan ice cream?" Tanya Icha pada anak kecil itu.


"Frey lupa Mom cantik, ibu melarang Frey makan ice cream. Kata ibu, nanti Frey sakit, dan akan merepotkan ibu." Jawab anak itu sedih.


Mendengar ucapan Frey. Vano mengeratkan pegangannya pada kemudi mobilnya. Ia tak menyangka jika ternyata Anim sangat kejam memperlakukan putranya.


"Apa? Ibumu bilang seperti itu? Wah... Kejam banget... Sudah, mari kita makan ice cream, kalau ibumu marah, Mom cantik akan menggunduli kepalanya, biar dia tambah jelek. Tos dulu" Ujar Icha mencoba untuk menghibur anak kecil itu sambil mengangkat tangannya untuk bertos ria bersama Frey.


Frey mengembang senyumannya dan langsung menepuk tapak tangan Icha.


"Arkan juga," mengalih tangannya pada Arkan. Arkan juga menepuk tangan gadis imut itu bertos ria.

__ADS_1


"Ayo!! kita makan sepuasnya!!" Icha turun dari mobil.


__ADS_2