Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Kerumah ibu.


__ADS_3

Kantor Majujaya.


"Direktur Vano. Tuan Abimanyu memanggil anda keruangan-nya," kata sekretaris tuan Abimanyu pada Vano.


Jabatan Vano sudah dinaikkan menjadi direktur keuangan di perusahaan Majujaya beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya, Vano hanya menjabat sebagai manager.


"Terima kasih," kata Vano tersenyum kemudian melangkah keluar ruangannya menuju lift, untuk keruangan tuan Abimanyu.


Tok Tok Tok


"Masuk"


Vano melangkah masuk kedalam, "Maaf, apa anda sedang memanggil saya tuan?" Tanya Vano sopan.


"Iya, duduklah dulu," tuan Abimanyu berdiri dari kursi kerjanya, dan melangkah duduk di sofa yang berada di ruangannya.


Vano juga duduk di depan tuan Abimanyu sesuai yang diperintahkan oleh tuannya.


"Saya langsung saja, saya mau kau yang bertanggungjawab mengatur semua resepsi pernikahan putri saya sampai selesai," jawab tuan Abimanyu.


Karena seminggu dari sekarang Icha akan menikah dengan seorang pengusaha juga.


Vano menyerjit. Mengatur semua resepsi pernikahan nona? Apa tuan tidak salah? Itu bukan di jurusanku. Batin Vano bingung dengan permintaan tuannya.


"M-maaf tuan, tapi bukannya lebih baik tuan cari saja yang lain? Tuan juga tau sendiri bukan? jika pekerjaan seperti itu bukan di jurusan saya tuan," tolak Vano lembut sambil tersenyum kecut.


Tuan Abimanyu memegang kepalanya sendikit pusing. Ia berpikir benar juga apa yang dikatakan oleh anak muda didepannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, itu semua permintaan putrinya agar anak manjanya itu mau menikah dengan laki-laki yang dia jodoh bersama Icha.


Menghembus nafas berat, "Kau atur saja, saya akan menyuruh karyawan lain yang akan menggantikan pekerjaanmu sampai kau selesai mengatur resepsi pernikahan putri saya," kata tuan Abimanyu.


"Baik tuan," Vano hanya bisa mengiyakan permintaan tuan Abimanyu tanpa bisa menolaknya.


Setelah itu Vano melangkah keluar ingin kembali ke ruangannya. Tapi Baru saja selangkah, Vano kembali dipanggil oleh tuan Abimanyu untuk menjemput putrinya di kampus. Tentu saja atas permintaan Icha karena gadis itu sudah menyukai Vano dari dia berusia 14 tahun di pertemuan pertama mereka semasa acara ulang tahunnya yang ke 14.


Vano mengeram kesal karena ia pasti akan direpotkan lagi oleh gadis manja itu.


Beberapa menit. Vano sudah tiba di kampus tempat gadis itu belajar.

__ADS_1


Ia sudah menunggu Icha beberapa menit yang lalu. Tapi gadis itu tak kunjung datang juga.


Akhirnya dia berjalan untuk mencari keberadaan gadis itu. Dia melihat Icha yang tersenyum manis menyambut kedatangannya.


"Maaf nona, dari tadi saya menunggu nona diparkiran. Tapi kenapa nona masih berdiri disini?" tanya Vano menyembunyikan kesalnya.


Icha tersenyum lebar, "Aku menunggu kak Vano menjemputku sini," jawab Icha membuat Vano ingin menabok kepala gadis itu.


Ia membalik badan melangkah pergi meninggalkan Icha yang sedang memanggilnya. Tapi ia mengabaikannya.


Terlalu kekanakan!. Batin Vano.


"Tunggu!! Kak Vano tunggu!!" Teriak Icha memanggil Vano. Tapi laki-laki itu tak peduli.


"Arkh!!" Icha berteriak karena ia terjatuh.


Vano menarik nafas mengumpul kesabarannya. Dan menghampiri Icha yang terjatuh.


"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya Vano.


"Lihat! Ini semua gara-gara kak Vano! Arkh... Sakit..." Icha marah-marah mulai menangis.


"Berdirilah nona, mari kita pulang," Vano membalik badan kembali ingin melangkah membiarkan Icha yang berpura-pura menangis.


"Aku akan melaporkan kak Vano dengan Daddy!" Ancam Icha membuat Vano sangat geram dengan tingkah gadis itu.


"Apa yang anda ingin saya lakukan nona?" Tanya Vano kembali mendekatinya.


"Gendong." Mengulur kedua tangannya menunggu Vano untuk menggendongnya.


Pria itu melihat arlogi di tangannya. Tak ingin membuang-buang waktu. Ia terpaksa menggedong tubuh wanita yang sering membuatnya darah tinggi itu.


,,,


Dara memberanikan diri untuk menghubungi suaminya di kantor.


"Hello, Mas" kata Dara saat Adam mengangkat panggilannya.

__ADS_1


"Iya sayang? Ada apa?" Tanya Adam.


"Mas..... Aku...." Dara ragu ingin melanjutkan perkataannya.


"Aku apa sayang?" Tanya Adam lagi.


"Aku bisa nggak, kerumah ibu sebentar?" Dara berbicara penuh keraguan.


Wajah laki-laki itu seperti berpikir. Tiba-tiba Dara mendengar suaminya sedang memanggil sekretarisnya.


Tak lama kemudian ia kembali berbicara dengan Dara, "Aku akan menjemputmu, kita kerumah ibu sama-sama," ujar Adam.


"Tapikan Mas sedang bekerja?"


"Satu jam lagi sayang jam pulang kerja, tunggu sebentar ya di rumah," lembut laki-laki itu.


"Iya Mas" Dara mengembang senyumannya.


Setengah jam menunggu Adam. Akhirnya laki-laki itu sudah tiba didepan Villa. Dara sudah menunggu diluar rumah.


Saat melihat Adam. Dara menghampiri mobil suaminya, dan masuk kedalam.


"Kau dari tadi menunggu sayang?" tanya Adam dengan senyuman terbaiknya.


"Tidak juga Mas,"


Adam mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan Villa, dengan satu tangan menggenggam jari-jari Dara. Dara hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang berlebihan cara mencintainya.


Tiba di rumah ibu Ida. Adam menyerjit karena ada mobil Papinya disana.


"Mas, bukannya itu mobil Papi ya Mas?" Tanya Dara.


"Iya, itu mobil Papi. Ayo" Adam dan Dara turun dari mobil melangkah mendekati rumah ibu Ida.


"Mana putraku kau sembunyikan Ida! Sampai kapan kau akan menyembunyikan anak kita dariku? kenapa kau begitu keras kepala ida! Aku adalah Ayahnya, kau tidak seharusnya melakukan ini padaku!" Angkasa mendesak ibu Ida untuk memberitahukan dimana anaknya berada.


Dara dan Adam yang mendengar ucapan tuan Angkasa yang mengatakan 'anak kita' di buat kaget.

__ADS_1


Bersamaan Vano juga datang ke rumah itu. Karena semenjak Dara dan Ririn sudah tak tinggal lagi di rumah Ibunya. Vano sering datang menjenguk Ibunya.


__ADS_2