
Ayya semangkin berlinangan air mata saat mendengar suara bariton laki-laki di depannya.
Laki-laki itu terlihat membuka kimono yang melekat di tubuh atletisnya. Setelah laki-laki itu sudah polos tanpa sehelai benangpun di tubuh, ia berjalan naik ke atas ranjang berbaring di atas sana.
"Kemari-lah, layani aku, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar tangisan tidak bermutu darimu." kata Delmond terdengar mengerikan.
Ayya yang masih berdiri sambil menangis, mundur ke belakang.
"T-tidak... Ku mohon jangan apa-apa kan aku... Aku bukan p*la*r.... Ku mohon... Lepaskan aku..." Kata Ayya menjatuhkan diri si sudut ruangan dan memeluk tubuhnya sendiri untuk melindungi agar laki-laki itu tidak menyentuhnya.
"Jika kau bukan p*la*r, lalu apa yang kau lakukan di sini? Jangan membuang-buang waktuku!" Delmond mulai kehilangan sabar mendengar tangisan gadis yang berada di kamarnya.
"Aku memang bukan *****, suamiku yang menjual-ku... Ini bukan keinginanku... Aku mohon... Kasihanilah aku..." Ayya memohon pada laki-laki itu dengan keadaan sangat mengiba.
Terlihat laki-laki itu kembali mendudukkan diri kemudian berjalan dengan tubuh polos yang membuat Ayya semangkin ketakutan dan memeluk erat tubuhnya.
Ternyata laki-laki itu mengambil pakaian miliknya, kemudian ia memakai pakaiannya. Dan mengambil amplop yang berisikan uang yang terlihat sangat tebal. Ia mendekati Ayya, membuat gadis yang meringkuk itu menggeser tubuh sambil gemetaran.
TAK!
Delmond ternyata melempar uang itu tepat di hadapan Ayya.
"Berikan uang itu pada suamimu." Dingin Delmond melangkah keluar kamar meninggalkan Ayya yang takut juga bercampur lega karena laki-laki itu pergi tanpa menyentuhnya.
"Bos, ada polisi di bawah sedang memata-matai kita," bisik tangan kanan Delmond saat laki-laki itu tiba di luar pintu.
Delmond mengagguk pelan kemudian melangkah turun ke bawah tanpa bersembunyi dari para polisi yang mengincarnya.
Setelah Delmond pergi, terdengar pintu kamar kembali di buka. Membuat gadis di dalam kembali ketakutan.
"Ayya!" Terdengar suara Aldi yang memanggilnya.
Laki-laki itu berjalan mendekat dan langsung saja menarik keras rambut istrinya.
"Apa kau menyinggung Bos Delmond!!" Marah Aldi tak peduli dengan gadis yang memprihatinkan itu, karena berpikir mana mungkin secepat itu Bos Delmond sudah meniduri istrinya.
__ADS_1
Ayya dengan keadaan kesakitan hanya bisa menangis.
Aldi tersadar dengan sebuah amplop yang berada di dekat paha istrinya, ia mengangkat amplop itu kemudian membuka.
Bola mata laki-laki itu berbinar saat melihat sejumlah uang banyak yang sangat menggiurkan.
"Apa Bos Delmond menyentuh mu?" Tanya Aldi tersenyum senang.
Menggeleng, gadis itu hanya menggeleng. Aldi semangkin senang saat tenyata Bos Delmond tidak menyentuh istrinya.
"Berarti aku bisa menjual keperawanan mu lagi besok dengan laki-laki lain. Tapi hanya Bos Delmond yang mampu membayar mahal" ujar Aldi santai yang membuat Ayya bertambah ketakutan.
Karena ternyata suaminya masih berniat ingin menjual gadis itu.
,,,
Keesokkan harinya.
Ayya terbangun dari tidur. Gadis itu merasa tubuhnya sakit semua, ia melihat ada begitu banyak lebam di sekujur tubuh.
Ia juga melihat suaminya yang masih tertidur nyenyak.
Ia memakai jilbab, memakai dengan cepat. Tak lupa juga gadis itu mengambil ponselnya yang suaminya sita semalam.
Dengan tekad dan keberaniannya, akhinya gadis itu kabur dari rumah Aldi. Tak peduli kemanapun kakinya akan melangkah, yang berada di benak gadis cantik itu, asalkan bisa lari dari iblis seperti laki-laki munafik yang menikahinya.
Ayya juga tak lupa mengambil kalung yang sering ia sembunyikan dari siapapun, karena harga kalung itu bisa membuat orang yang menjualnya menjadi kaya raya seketika.
Di Mension Papa Adam. Mereka semua sedang duduk di meja makan dan makan bersama. Dara hanya diam sambil menatap kosong makanan yang berada di hadapannya.
"Sayang... Sarapan dulu ya.." Bujuk Adam menatap teduh istrinya.
Arkan dan Frey juga tak ada selera makan, karena tak sanggup melihat kesedihan Mama Dara.
Wanita paruh baya itu mulai berkaca. "Mas, aku yakin jika yang semalam itu adalah putri kita, Mas... Aku sangat yakin, Mas Adam..." Ucap Dara mulai berlinangan.
__ADS_1
"Ma, setelah selesai sarapan, Arkan dan Frey berniat ingin mencari keberadaan gadis yang kita temui semalam itu. Mama jangan khawatir ya..." Arkan berusaha menenangkan sang Mama karena takut wanita paruh baya itu kembali lepas kendali.
Dengan wajah yang bahagia dan penuh harap, Dara menatap bola mata putranya dengan berbinar sambil memegang lengan kedua putranya.
"Apa benar apa yang kalian katakan? Kalian akan mencari gadis itu?"
"Iya, Ma. Makanya, makan dulu" Frey mengambil sarapan Mama Dara kemudian menyuapinya.
"Terima kasih." Dara akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar ucapan putranya. Tentu saja ia sangat berharap bisa bertemu putrinya lagi.
Di rumah Aldi.
Laki-laki itu mulai terbangun dari tidurnya. Ia duduk dan mengusap-ngusap kedua bola mata yang teratas masih sangat lengket, karena semalam ia pulang pukul 4 dini hari dari Club setelah mengantar istrinya ke rumah.
Ia mengedar pandangan, dan tak melihat Ayya di dalam kamar.
Melangkah keluar kamar dan mencari wanita itu ke dapur, tapi lagi-lagi gadis itu tak berada di sana.
Aldi mulai menyadari jika Ayya tak berada di dalam rumah. "Kabur! Sial! Apa gadis itu melarikan diri?" Terlihat pria bajingan itu mulai panik.
Ia mengambil kunci mobil dan mencari keberadaan istrinya di mini market yang ia temui gadis itu semalam. Tapi nihil, Aldi sudah mencari bahkan sampai dalam mini market sekalipun gadis itu memang tetap tak ada.
"Aku akan membunuhmu! Awas saja kau Ayya! Berani sekali kau kabur dariku!" Geram Aldi kembali ke mobil dan berusaha mencari keberadaan istrinya di lain tempat, ia yakin jika wanita itu masih belum jauh dari sana.
Di lain tempat, gadis itu duduk di pinggir jalan sambil menepuk-nepuk tapak kakinya yang mulai terasa sakit, apa lagi ia merasa sangat lapar. Berada di tempat asing itu, membuat Ayya kebingungan ingin pergi kemana. Ia ingin menghubungi nomor ponsel Neneknya, tapi ternyata suami bejatnya sudah mengambil semua kartu yang berada dalam ponselnya.
"Aku mau kemana lagi Ya Allah... Selain sudah lelah aku juga sangat lapar." Gumam gadis itu memegang perutnya yang meminta untuk di isi.
"Apa masih jauh dari sini tempat yang kakak temui gadis semalam itu?" Tanya Frey yang duduk di sebelah kemudi.
"Tidak terlalu jauh, dan juga tidak terlalu dekat," jawab Arkan fokus mengemudi.
"Apa kakak yakin? jika gadis yang kakak temui semalam itu adalah adik?"
Menarik nafas. "Kakak juga tidak begitu yakin, tapi apa salahnya jika kita mencoba dulu. Siapa tau saja itu memang benar" jawab Arkan.
__ADS_1
Saat melewati jalanan yang berada gadis yang kedua kakak adik itu cari. Hampir saja Arkan melihat Ayya, tapi sayang sebuah truk memotong jalan di sebelahnya membuat Arkan tak bisa melihat keberadaan gadis di sebelah truk tersebut.
"Arkh!" Teriak Ayya menjauh dari kendaraan itu sedikit masuk ke dalam rerumputan sambil menghalangi wajahnya dari debu akibat gerakan truk tersebut.