
Dara masih terdiam karena kaget mendengar ungkapan perasaan Adam padanya secara tak langsung.
Adam yang menyadari ucapannya barusan, ia juga terdiam. Tak sangka akhirnya kata-kata itu lolos juga dari mulutnya.
Tak ada lagi yang bersuara diantara mereka berdua. Setelah cukup lama berdiam diri, Adam mulai menghidupkan mesin mobilnya, melaju ke Villanya.
Hanya beberapa menit saja mereka sudah tiba di Villa. Masih sama seperti tadi, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Mereka melangkah masuk kedalam Villa. Terlihat Frey yang duduk di sofa seperti sedang menahan sakit.
"Frey? Kau tidak apa-apa nak?" Tanya Dara karena anak itu terlihat pucat. Memegang dahinya.
"Astagfirullah. Mas, Frey sakit," kata Dara pada Adam seolah diantara mereka berdua tak pernah bertengkar.
Adam menghampiri dan memegang kepala Frey. Benar anak itu sedang sakit. Adam menggendong tubuh Frey.
"Kau hubungi dokter untuk datang kemari Dara," kata Adam. Suara laki-laki itu sudah terdengar lembut.
"Iya," jawab Dara mengeluarkan ponselnya sambil berjalan ke dapur untuk mengambil kompres buat Frey.
Sedangkan Adam melangkah naik keatas sambil menggendong Frey menuju kamar Dara. Karena Adam tau Anim tak akan peduli dengan anak itu, berbeda dengan Dara yang sangat keibuan.
__ADS_1
Tiba dikamar Adam membaringkan tubuh Frey diatas ranjang kemudian membuka jasnya.
"Ibumu mana sayang?" Tanya Adam menyelimuti Frey.
Menggeleng, "Ibu belum pulang Pa," lirih anak itu terlihat sangat memprihatikan.
Anim benar-benar sudah melewati batasnya. Batin Adam geram dengan Anim yang tak pernah ambil tau sama sekali seperti apa kondisi anak yang dia lahirkan hampir lima tahun yang lalu itu.
Tak lama Dara masuk kedalam kamar membawa air hangat dengan handuk kecil. Menghampiri Adam bersama Frey langsung mengompres dahi anak kecil itu.
"Kau sudah menghubungi dokter?" Tanya Adam.
"Iya, mungkin sebentar lagi dokter akan sampai," Dara.
"Kenapa berterima kasih, tantekan Mama kamu juga sayang?" Dara mengusap sayang kepala Frey, tersenyum lembut.
"Apa Frey bisa peluk tante?" selamat ini anak kecil itu hanya mendapat kasih sayang dari Dara.
Dara mengangguk, "Tentu sayang," Dara membaringkan dirinya di ranjang sambil memeluk tubuh Frey dan menepuk-nepuk pundaknya lembut.
Pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Jujur saja Adam merasa sangat bersyukur karena mempertahankan wanita seperti Dara yang sangat penyayang. Sangat jauh berbeda dengan Anim.
__ADS_1
"Pa, Ma," Arkan masuk kedalam kamar kedua orang tuannya.
"Arkan. Sini sayang." Adam memanggil Arkan naik kepangkuannya.
"Loh, adik Frey kenapa Ma?" Tanya Arkan.
"Adik sakit sayang. Kamu sudah makan?" jawab Dara lembut.
"Belum, Arkan mau makan sama Papa dengan Mama, juga sama adik Frey. Tapi adik Frey-nya sakit," Arkan sedih melihat Frey sakit.
"Bentar lagi dokter akan datang kok sayang, untuk mengobati adik," jawab Adam memeluk putranya, dengan satu tangan memegang tangan mungil Frey yang sudah mulai ketiduran dalam pelukan Dara.
Setelah menunggu sebentar akhirnya dokter datang juga, langsung memeriksa tubuh Frey yang sudah terlelap. Dokter juga memberikan beberapa obat untuk diberikan pada anak itu nanti.
"Kau mau mandi Mas? Aku siapkan air hangat," tanya Dara pada Adam. Kamar itu jadi terasa bertambah canggung.
Dokter tadi juga sudah pamit pulang. Sedangkan Arkan kembali kekamarnya.
"Boleh," singkat Adam.
Dara langsung masuk kedalam kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya.
__ADS_1
Saat membalik badan, ia sangat kaget karena Adam sudah berdiri dibelakang sambil bertelanjang dada hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.