
"Diam!" Sentak
Rico saat Ayya masih berusaha mengambil uang yang berada di tangannya.
"Tapi itu uang buat beli obat Nenek, kak Rico." Ayya menahan lengan Rico yang ingin melangkah keluar dari kamar Ayya setelah mengambil uang gadis itu.
"Kau bisa mencari uang lagi yang lain," jawab Rico.
"Tidak mudah untuk mendapat uang lagi, kak,"
"Ada yang mudah dan cepat, kau jual saja tubuhmu, pasti laku. Kau kan masih perawan." Ujar Rico tanpa rasa bersalah keluar dari kamar Ayya.
"Astagfirullah... Dasar tidak waras." Gumam Ayya tak ingin menahan Rico lagi.
,,,
Di Mall.
"Ini cocok deh untuk Mama," kata Arkan mengambil gamis dan mencocokkan di tubuh wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu.
"Itu memang cocok banget buat Mama kak Arkan." Sahut Frey tersenyum.
Ternyata Dara dan kedua anak laki-lakinya yang sudah tumbuh dewasa, saat ini sedang berbelanja di Mall.
Dara tersenyum manis melihat kedua anak-anaknya yang begitu mencintainya. Frey juga masih bersama dengannya. Karena ia memang tak memberikan hak asuh pada Vano, bukan tidak mahu, tapi kedua anak itu memang tak bisa di pisahkan.
__ADS_1
Dara juga sudah sembuh dari sakit mentalnya beberapa tahun yang lalu.
Dara tersenyum manis "Kalau kedua anak-anak Mama ini yang pilihkan, pasti semuanya cantik-cantik deh," ucap Dara.
"Iya, iya dong, Ma. Kitakan tau yang Mama suka itu seperti apa" ucap Frey bangga.
"Dara" terdengar suara seseorang memanggil namanya.
Dara Arkan dan Frey, melihat ke sumber suara.
Wajah Dara yang tadinya terseyum manis, tiba-tiba saja berubah muram seketika saat melihat wanita itu.
Arkan dan juga Frey terdiam melihat Nenek mereka berdua. Ternyata yang memanggil Dara adalah Yunda. Yunda memang sudah bebas beberapa tahun yang lalu dari penjara, dan dia juga sudah bisa berjalan normal seperti sedia kala karena sudah sembuh dari kecamatannya.
"Kalian di sini juga?" Tanya Yunda dengan bola mata yang sudah mulai membendung. Karena menantunya belum juga bisa memanfaatkan dia sampai saat ini. Tak beda jauh dengan kedua anak-anak yang sudah ia lukai perasaannya itu. Mereka seperti asing dengan Nenek mereka.
"Kalian beli apa?" Yunda mencoba untuk mendekati mereka bertiga, karena ketiga ibu dan anak itu selalu berusaha menghindarinya.
"Beli baju buat Mama Nek." Lagi-lagi hanya Frey yang menjawab.
"Mama tunggu di luar." Kata Dara pada Frey tiba-tiba.
"Ayo Arkan." Lanjutnya memegang pergelangan tangan putranya.
Saat Dara ingin melewati Yunda, wanita itu menahan lengannya.
__ADS_1
"Apa Mami bisa bicara sama kamu, Dara?" Terlihat penyesalan yang mendalam dari kedua bola mata wanita itu.
Dara menarik lengannya yang di pegang oleh Yunda. "Hanya sebentar, Dara. Mami mohon," terdengar suara Yunda yang bergetar menahan tangis.
Dara menarik dalam nafas Kemudian mengangguk dengan pelan.
Yunda dan Dara memilih berbicara di sebuah bangku yang berada di luar Mall. Sedangkan Arkan dan Frey, tetap mengawasi Mama mereka dari kejauhan.
"Dara, maafkan Mami. Mami tau bukan mudah untuk kalian bisa memaafkan semua yang pernah Mami lakukan, mungkin jika Mami yang berada di posisi kamu, mami juga sama seperti kamu yang tidak ingin memaafkan Mami, tapi Mami mohon. Maafkan, Mami Dara" kata Yunda memberanikan diri memegang tangan menantunya yang tak ingin melihat ke wajahnya. Dosa-dosa yang pernah ia lakukan di masa lalu, membuat Yunda menderita di hari tuanya, karena anak dan menantunya sampai saat ini belum bisa memaafkan kesalahan fatal yang dia perbuat 17 tahun yang lalu.
Dara masih memilih diam, hanya bola mata yang terlihat sudah berkaca.
"Dara, berikan Mami kesempatan untuk mendapatkan maafmu... Maafkan Mami..." lanjut Yunda tak bisa lagi menahan air matanya.
"Kenapa anda melakukan ini pada aku, aku salah apa dengan anda..." bulir-bulir bening sudah membasahi pipi.
"Apa sebegitu bencinya anda pada aku? Sampa anda tega ingin melenyapkan aku dan cucu anda... Lihatlah buah dari kejahatan anda, aku sudah kehilangan anakku, dan sampai saat ini kami belum menemukan buah hati kami... Kenapa anda begitu tega..." Dara menangis tersedu-sedu.
Frey yang melihat itu, ia ingin mendekati Mama Dara. Tapi di tahan oleh Arkan.
"Biarkan Nenek berbicara pada Mami, berikan kesempatan Nenek untuk meminta maaf." Kata Arkan yang jauh lebih berpikiran dewasa di banding adiknya.
"Gimana kalau Mama kenapa-kenapa, kak" cemas Frey, takut jika Mamanya kembali depresi.
"Tidak, sekalian kita lihat, seperti apa reaksi Mama"
__ADS_1
Hanya bisa pasrah mendengar ucapan Arkan.