Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Sedih


__ADS_3

"Kau sedang menangis?" Tanya Anim lagi.


"Tidak." Singkat laki-laki itu ingin berdiri dari duduknya, tapi Anim segera memegang lengannya.


"Kau mau kemana?"


Vano melihat ke arah jari-jari Anim yang memegangnya. Kemudian laki-laki itu melepas tangan Anim.


"Pulang." singkatnya melangkah meninggalkan wanita itu.


Ada kekecewaan dari dalam hati Anim. Saat Vano sama sekali tak pernah melihat ke wajahnya meski hanya sekilas. Wanita itu juga berdiri, bergegas mengejar Vano.


"Vano!" Panggil Anim saat tiba di luar bar.


laki-laki itu menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu mobil. "Ada apa?" Tanya Vano, pria itu sudah sangat jauh berbeda di mata Anim. Tak lagi seperti laki-laki yang sering mengejar-ngejarnya dulu.


Anim tak menjawabnya. Ia mendekat pada Vano, kemudian ingin mencium bib*r laki-laki itu.


Vano menarik wajahnya kebelakang. "Maaf, aku ingin segera pulang," Vano mendorong tubuh Anim untuk menjauhinya.


"Selama ini kau tidak pernah menolak-ku Vano? Kenapa sekarang kau berubah?" Wanita itu menatapnya.


"Aku sudah menikah, Anim." Jawab Vano, ia mengira jika wanita itu tak tahu jika istrinya sudah meninggal.


"Istrimu sudah meninggal, Vano. Aku rasa itu bukan lagi sesuatu yang bisa kau jadikan alasan untuk menolak,"

__ADS_1


"Kau yang menolak ku 4 tahun yang lalu, Anim. Kenapa sekarang kau malah datang lagi? Apa kau ingin aku menjadi pemu*s ranjangmu seperti dulu lagi? Dan kau jadikan aku seperti laki-laki yang tidak punya hati lagi?"


"Maaf Anim, kau bisa mencari laki-laki lain jika kau mau, jangan aku, karena aku tidak tertarik lagi padamu. Cintaku untukmu sudah pudar oleh kekejaman yang pernah kau lakukan pada putraku di masa lalu, kau bukan ibu yang baik untuk anak-anak, Anim." Ujar Vano membuka pintu mobil, masuk ke dalam kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Anim yang masih diam membisu mencerna ucapan Vano.


Kenapa aku merasa sakit mendengar semua ucapannya? Ada apa dengan hatiku? Apa aku.......... Batin Anim menggantung ucapan dalam hati, tak mampu mengutarakan sesuatu aneh yang dia rasakan saat mendengar ucapan laki-laki tadi.


,,,


Di Mension Angkasa.


Saat ini sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi Adam belum juga bisa melelapkan kedua bola matanya, ia memilih duduk di dapur sambil termenung jauh.


"Adam, kau belum tidur?" Tanya Papi Angkasa menghampirinya.


Menggeleng pelan. "Belum, Pi." Jawabnya terlihat tak bersemangat.


"Adam kecewa sama, Mami. Adam berpikir jika Mami sudah benar-benar berubah, Pi. Tapi Mami masih saja berusaha untuk memisahkan aku dengan istriku," jawab Adam terdengar sedih memikirkan sikap Maminya yang benar-benar sudah keterlaluan.


Papi Angkasa di buat heran saat mendengar ucapannya.


"Apa maksudmu, Adam? Kenapa kau bisa mengatakan itu?" Tanya Papi Angkasa.


Flash Back.


Saat masih di luar negeri, Adam mendapat panggilan dari sahabatnya.

__ADS_1


"Hello, Marco? Ada apa? Tumben kau menghubungiku jam kerja seperti ini?" Tanya Adam beruntun saat sahabatnya itu menghubunginya.


"Dam, kau di mana?" Bukannya menjawab, tapi Marco balik bertanya.


"Aku masih diluar negeri, ada apa Co?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kau jangan langsung marah dulu," ucap Marco.


"Apa? Sepertinya penting?"


"Iya, ini soal Mamimu,"


"Mamiku? Ada apa dengan Mami?"


"Tadi Mamimu menelponku, katanya, sebentar lagi istrimu akan datang ke rumah sakit, dan mungkin dia akan memeriksa kandunganya gitu, Mami kamu menyuruh aku, untuk bilang pada istrimu kalau dia sedang mengandung 4 minggu begitu. Aku juga tidak mengerti, kenapa Mamimu mengatakan itu." Ucap Marco.


Ternyata Marco adalah sahabat Adam. Untung Yunda tidak mengenali Marco. Tapi laki-l;aki itu tentu saja tahu jika Yunda yang baru saja menghubunginya adalah Mami temannya.


Tak lama kemudian, Dara akhirnya tiba di rumah sakit, Marco-pun langsung memeriksanya, kemudian memberitahu pada Dara jika dia sedang hamil jalan 4 minggu, sesuai yang di katakan Yunda.


Setelah Dara pulang, Marco kembali menghubungi Adam. Ia memberitahukan pada temannya itu, jika istrinya sudah hamil jalan 9 minggu.


Akhirnya Adam tahu, ternyata kebaikan sang Mami pada istrinya, hanya sebuah sandiwara saja.


Saat di meja makan itu. Adam memang sengaja bertanya pada istrinya tentang usia kandungannya, ia hanya ingin melihat seperti apa reaksi Maminya.

__ADS_1


Selesai Flash Back.


__ADS_2