
Dara sudah bersiap, dan buru-buru ingin berangkat ke kubur istri kakaknya.
Yunda yang melihat itu, ia menghentikannya. "Dara, kau mau kemana?" Tanya Yunda.
Wanita berhijab itu menghentikan langkah. "Dara mau keluar sebentar Mi," jawab Dara.
"Keluar kemana?" Mulai kepo.
"Mau ke--------" Dara menggantung ucapannya. Ia baru teringat, jika Mami suaminya itu belum tau jika dia mempunyai seorang kakak laki-laki. Tadinya dia ingin bilang, jika dia mau ke makam isteri kakanya.
"Dara mau ke rumah ibu sebenar Mi," lanjutnya.
"Kau mau pergi sama siapa?"
"Sendiri"
Galih kebetulan lewat ingin keluar. Yunda yang melihat Galih, segera memanggilnya.
"Galih" Panggil Yunda.
Menoleh. "Iya tante?"
"Galih tolong antar Dara dulu ke rumah ibunya, bolehkan?" Ujar Yunda tersenyum.
Dara yang mendengar itu, langsung menggeleng, "T-tidak perlu Mi, aku bisa pergi sendiri, lagi pula aku hanya pergi sebentar," kata Dara cepat, karena tujuannya bukanlah untuk ke rumah ibu, melainkan ke kuburan.
"Tidak apa-apa Dara, Galih juga lagi tidak mau kemana-mana kan?" Tanya Yunda pada Galih.
__ADS_1
Laki-laki yang di tanya itu, tersenyum kaku dan mengangguk.
"Lihat, Galih juga tidak mau kemana-mana, biar dia saja yang antar kamu,," lanjut Yunda.
"Buruan sana, hati-hati dijalan." Tambah Mami Yunda membuat kedua manusia itu tidak bisa menolak.
"B-baik Mi, Dara pergi dulu." Pamit Dara.
"Galih juga pamit tante"
"iya."
Di mobil, seperti biasa. Mereka berdua hanya diam saja, tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Setelah berlalu beberapa menit. Dara mulai membuka pembicaraan.
Galih menoleh sekilas. "Santai saja, aku juga lagi free" jawabnya santai, lebih tepatnya, berpura-pura santai.
Kembali sunyi diantara mereka berdua.
Drrrtt Drrrtt Drrtt
Ponsel Dara berdering. Saat melihat siapa yang menghubunginya, tak sadar seulas senyuman indah terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Hello Mas,"
"Hello sayang, kau dimana sayang hm?" Tanya Adam tersenyum dari nada yang di dengar Dara.
__ADS_1
"Aku masih di mobil, Mas. Mungkin sebentar lagi aku sampai," jawab wanita cantik itu tanpa memudar senyumannya. Tadi dia juga sudah pamit tentunya pada Adam, sebelum dia keluar rumah.
"Kau mengemudi sendiri sayang?"
Melihat ke arah Galih yang fokus pada jalan di depan. "Tidak, Mas. Aku pergi bersama kak Galih,"
Menyerjit saat mendengar jawaban istrinya. "Galih? Sejak kapan kalian dekat?" Adam mulai menimbulkan pemikiran negatif. Apa lagi karakternya yang sangat posesif pada istrinya itu.
Dara gelagapan, dia bingung ingin berkata apa.
"Apa yang kau pikirkan? Singkirkan pemikiran mu itu!" Terdengar suara Galih yang berkata pada Adam. Ternyata laki-laki itu dapat mendengar percakapan Dara dan Adam barusan.
"Aku tidak akan mengantar istrimu, jika bukan di suruh sama tante Yunda. Kamu ini seperti tidak kenal aku saja," kata Galih tanpa mengalih pandangan dari jalan. Ia sengaja sering menghindar dari melihat wajah istri sepupunya, karena ia sendiri tidak bisa memungkiri, jika istri sepupunya itu memang sangat cantik.
"Siapa tau saja kau tergoda dengan istriku, istriku-kan sangat cantik," sombong Adam membanggakan istrinya.
"Hati-hati, ucapan adalah doa," jawab Galih bercanda sambil tersenyum tipis.
"Kau!!!" Geram Adam yang membuat Galih tertawa. Dara ikut tersenyum menyimak pembicaraan mereka berdua.
,,,
Vano sudah tiba di makam istrinya yang masih basah. Ia berjalan pelan sambil di bantu oleh Ayahnya. Vano juga tidak menolak bantuan dari Angkasa.
Ternyata di makam, Daddy Abimanyu masih berada di sana.
Vano menjatuhkan dirinya di atas tanah, tempat peristirahatan terakhir istrinya.
__ADS_1
"Kau benar-benar pergi..." Ia kembali mulai menangis lagi sambil memeluk batu nisan Icha.