Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Buku Diary


__ADS_3

Tuan Abimanyu terduduk lemah, saat dokter mengatakan. Jika sudah tidak ada harapan lagi untuk mengharapkan putrinya hidup, apa lagi sampai saat ini, ginjal yang cocok untuk gadis itu belum ditemukan.


Ia menangis sesungguhan, putri satu-satunya yang sering memberikannya semangat, kini hanya tinggal menunggu saat sakaratul maut saja menjemputnya. Tak ada lagi usaha, karena fisik gadis yang terbaring dengan kedua mata yang tertutup itu, sudah tak mampu lagi untuk bertahan.


Sudah dua jam Laras menunggu kedatangan Vano. Tapi laki-laki itu belum datang juga dari luar kota.


Wanita itu sudah seperti setrikaan yang mondar mandir di depan Mension tuan Abimanyu, sambil sesekali ia mengusap air mata. Karena tuan Abimanyu sudah menghubunginya, dan memberi tahu tentang keadaan Icha yang tak bisa lagi bertahan hidup.


Setelah menunggu waktu yang cukup lama, akhirnya orang yang di tunggupun akhirnya tiba.


Laras berlari menghampiri Vano yang memarkir mobil. "Kak Vano!" Panggil Laras mendekati laki-laki itu.


Mengerut, "Ada apa Laras?" Tanya Vano turun dari mobil.


"Kau kenapa?" Lanjut Vano saat melihat Laras mengusap air matanya.


Menggeleng, "Aku tidak apa-apa, tapi aku hanya ingin, kak Vano membaca buku diary ini." Kata Laras memberikan buku diary Icha. Gadis itu juga tak memberi tahukan padanya tentang keadaan Icha yang masuk rumah sakit.


Vano semangkin heran dengan wanita yang dia ketahui adalah sahabat istrinya.


"Apa maksudmu? Kenapa aku harus membaca ini?"


"Bacalah, sebelum terlambat untuk mengatakan 'maaf' pada pemilik buku itu." Laras langsung pergi dari hadapan Vano, sebaik saja menyelesaikan kalimatnya.


Vano yang penasaran, melangkah ke bangku yang berada di taman. Beruntung di sana ada lampu yang menerangi, jadi dia bisa melihat isi hati istrinya melalui tulisan yang berada dalam buku diary.


Dia mulai membaca buku tersebut.

__ADS_1


đź“–Assalamualaikum. Hari kamis, tanggal 10 juni, adalah hari ulang tahunku yang ke14, saat itu, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang pria dewasa yang menarik perhatianku, namanya kak Vano. Aku baru tau namanya dari Daddy. Jujur saja aku sangat mengaguminya. Dia orangnya sangat ramah. Pertama kali aku mengenalnya, dia mengikat tali sepatuku yang terbuka.


đź“–Seiring berjalannya waktu. Rasa kagum-ku pada laki-laki dewasa itu mulai berubah menjadi sebuah perasaan yang aku sendiri tidak mengerti.


đź“–Di usai ke15 tahun hidupku mulai di uji dengan sakit, perlahan sakit yang ku deritai semangkin parah, aku mengalami gagal ginjal.


DEG!


Jantung Vano mulai tak karuan saat membaca poin satu itu. Dia semangkin tertarik untuk membaca lebih lanjut apa yang berada dalam isi buku tersebut.


đź“–Satu ginjalku terpaksa di angkat. Setelah itu aku bisa hidup normal selama dua tahun, tentunya aku tidak akan membuang sia-sia waktu itu saat aku sembuh. Aku juga suka memaksa Daddy menyuruhnya untuk memerintahkan kak Vano yang bukan supir, tapi malah menjemputku setiap hari di sekolah. Aku sangat bahagia jika aku bisa membuatnya kesal atas semua tingkah yang aku lakukan.


đź“–Aku mulai menyadari, jika sebenarnya aku mencintai laki-laki itu, sayangnya dia sering memanggilku 'bocah' Hahahaha.


đź“–Saat usiaku beranjak 17 tahun. Aku kembali di uji dengan ujian yang sama, dimana aku kembali gagal ginjal, ginjal ini adalah ginjal terakhir yang aku punya.


đź“–Di usia ke18 tahun. Ayah bertanya padaku, apa aku benar-benar menyukai kak Vano. Aku berkata jujur pada Daddy, jika aku memang mencintainya, tapi aku tau cinta tidak harus memiliki.


đź“–Daddy memutuskan untuk menjodohkan aku dengan Mas Enal. Akhirnya aku setuju, karena aku sadar, jika aku tidak akan pernah bisa hadir dalam hati kak Vano sampai kapanpun.


đź“–Menghabiskan waktu bersamanya dan membuatnya kesal itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku, dan sudah lebih dari cukup.


đź“–Di usiaku yang ke19 tahun. Akhirnya sebentar lagi aku akan menikah dengan Mas Enal, saat itu fisikku untuk bertahan hidup sudah sangat lemah. Tapi Daddy hanya ingin melihat aku menikah, sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini.


Icha menulis semua apa yang terjadi dengannya sehingga dia tidak jadi menikah dengan Enal. Tak ada satupun yang gadis itu lewatkan. Vano dapat membaca dengan jelas apa yang terjadi pada wanita itu.


Flash Back.

__ADS_1


Icha berlari masuk ke dalam Mension Daddynya sambil menangis saat dia baru saja dari bertemu dengan Enal, laki-laki yang akan menikah dengannya besok.


"Icha, kamu kenapa sayang?" Tanya Tuan Abimanyu pada putrinya. Icha menceritakan semua yang terjadi pada Daddy, dia tidak menyembunyikan apapun pada Daddy Abimanyu.


Pria paruh baya itu sangat marah. Tapi saat melihat kesedihan anaknya, dia mencoba meredakan amarahnya.


"Maafkan Daddy sayang. Daddy telah salah memilih laki-laki untuk kamu," merasa sangat bersedih sambil memeluk erat putri kesayangannya.


Icha tak menjawab, Tapi dia terus menangis. Setelah puas menumpahkan kesedihannya, dia akhirnya bisa tenang.


"Apa kau benar-benar mencintai Vano?" Tanya Tuan Abimanyu lagi.


"Aku memang mencintainya Daddy, tapi aku tidak mau memaksakan sesuatu, yang mungkin tidak di takdirkan untukku, dia tidak mencintaiku..." Lirih Icha.


"Ya sudah, kamu diam saja sayang. Besokkan kamu akan menikah," mantap Tuan Abimanyu.


Icha menyerjit. "Menikah dengan siapa Daddy? Apa Daddy masih ingin aku menikah dengan laki-laki brengsek itu?" Tanya Icha mengusap kasar air matanya yang mulai kembali mengalir.


"Aku tidak mau Daddy" lanjutnya menggeleng keras.


Tersenyum lembut. "Tidak, kamu dengar saja yang Daddy katakan, semua akan baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir"


"Tap-------


"Sssttttt istirahatlah sayang,"


Flash Back Bersambung

__ADS_1


__ADS_2