
"Perutku udah sering sakit, Mas." Kata Dara memegang perutnya yang sudah hamil tua. Wanita itu hanya tinggal tunggu hari saja akan melahirkan.
"Kalau begitu, kita ke rumah sakit saja sayang. Mas takut jika nanti kau tiba-tiba saja mau melahirkan," jawab Adam sangat khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.
Menggeleng, "Enggak deh, Mas. Aku maunya sama kamu saja, Mas. Kalau aku ke rumah sakit, ya jelas kamu akan meninggalkan aku di sana sendirian. Tidak ah, Mas" tolak Dara.
"Kan aku temani disana, sayang..."
"Nggak ah, Mas"
Adam hanya bisa menarik nafas berat. Ini bukan pertama kali ia menyuruh wanita itu ke rumah sakit, tapi Dara-nya saja yang tak ingin ke rumah sakit, dan sering beralasan yang sama. Adam hanya bisa menggeleng saat sang istri menolak seperti itu.
"Mas" panggil Dara tiba-tiba.
"Iya, sayang? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Sahut Adam yang sedang memijat lembut betis sang istri, karena wanita itu sering mengeluh sakit di bahagian sana.
"Kok kita tidak pernah lagi ke rumah, Mami? Perasaan terakhir kali kita kesana waktu 7 bulan yang lalu deh kalau tidak silap," ujar Dara merasa aneh kerana Adam tak pernah ingin lagi ke Mension Papinya untuk menginap. Ia hanya biasa datang berkunjung sendiri, dan tak pernah membawa Dara bersamanya.
Dara tak tahu, jika sebenarnya suaminya sedang melindunginya dari kejahatan sang Mami yang sangat pintar bersandiwara. Yunda juga sudah berkali-kali menghubungi Adam, dan meminta anaknya itu untuk datang menginap di Mension. Tapi Adam sama sekali tak pernah menanggapi Maminya. Ia sering memberi alasan yang sama pada Yunda, dengan alasan ia sering sibuk dan terlambat pulang bekerja.
"Mas kan sibuk akhir-akhir ini sayang, tidak ada kesempatan untuk berkunjung ke Mension, Papi" jawab Adam bohong.
__ADS_1
"Sibuk? Kayaknya tidak juga. Buktinya, Mas Adam tidak pernah keluar negeri lagikan?"
Adam jadi gemes dengan jawaban sang istri.
"Assalamualaikum." Terdengar seseorang memberi salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Dara dan Adam serentak melihat ke arah Vano.
"Kak Vano?" Dara tersenyum manis melihat kakaknya yang melangkah masuk ke dalam Villa.
"Ini pesanan-mu," kata Vano memberikan Dara martabak yang ia bawa.
"Apa itu, kak?" Tanya Adam mengerut.
"Kenapa tidak suruh Mas saja? Kamu itu semenjak ada kak Vano, aku sudah kamu suami tiri-kan!" Ketus Adam cemberut.
Semenjak hubungan mereka menjadi akur 7 bulan yang lalu. Dara lebih suka meminta tolong dengan vano di banding suaminya. Sebenarnya Dara hanya tak ingin menggangu waktu bekerja suaminya, maka itu dia lebih suka meminta bantuan kakaknya yang lebih banyak waktu free setelah pulang sekolah.
Dara dan Vano saling lempar pandang kemudian tertawa bersama saat melihat wajah cemberut Adam.
"Ya sudah, merajuk saja sampai besok, malam nanti jangan lupa tidurnya juga di luar ya." Sindir Dara.
__ADS_1
"Kau!! Bukannya di bujuk, malah di suruh tidur di luar," Adam bertambah cemberut membuat Vano dan Dara kembali tertawa sumbang.
"Kak Vano pulang saja deh," kata Adam mengusir kakaknya.
"Sudah tua, tapi masih suka ngambekan," sahut Papi Angkasa yang sedang berkunjung.
Mereka bertiga sama-sama mengalih pandangan ke arah Papi Angkasa.
Vano menghindari tatapan sang Ayah padanya saat mereka bertemu pandang. Ternyata Ayah dan anak itu belum juga akur. Karena Angkasa tak pernah menceritakan hal sebenarnya apa yang terjadi, sehingga ia meninggalkan ibu Vano.
"Papi, Papi baru datang?" Tanya Dara melirik Vano, karena mereka tahu jika Ayah dan anak itu belum juga akur.
"Iya, ini Papi bawakan kamu buah-buahan segar, agar calon cucu Papi nanti akan jadi sehat dan kuat," tersenyum.
"Kakak pamit dulu iya," ucap Vano pamitan pada Dara dan Adam, tentu saja ia tak ingin berlama-lama di sana karena ada sang Ayah.
"Lah, kakak merajuk?" Canda Adam karena tadi dia bercanda mengusir kakaknya.
"Tidak, kakak capek. Mau pulang dan beristirahat." Jawabnya tersenyum.
"Besok malam kakak kesini lagi dong ya?" Ucap Dara.
__ADS_1
"Maaf dek, besok malam, kakak ada kondangan soalnya," jawab Vano.
Besok adalah hari pernikahan Laras. Ternyata Laras juga mengundang Vano untuk datang ke acara pernikahannya, di mana nanti Icha juga akan datang ke acara itu tentunya.