
"Baiklah. Ibu percaya sama kamu," ibu Ida tersenyum memaafkan kesalahan putranya.
,,,
Dara mengemudi mobil suaminya dengan sangat kencang. Ternyata semasa ia menarik tangan suaminya keluar dari dalam rumah mertuanya. Dia kembali mengambil kemudi dan melajukan mobil suaminya dengan kecepatan seperti tadi, semasa dia mengerjai kedua wanita itu. Dia sedang melepaskan amarahnya, bola mata wanita itu sudah membendung, menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.
"Sayang... Kurangi kecepatan mobilmu sayang... Ini sangat berbahaya," kata Adam pada Dara yang sedari tadi hanya diam tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
Dara menurunkan kelajuan mobil, dan memarkir mobil itu di pinggir jalan.
"Kenap?" Kata Dara tiba-tiba.
"Kenapa apa sayang?" Tanya Adam.
__ADS_1
"Kenapa dengan Mamimu itu!! Kenapa!! Apa begitu sulit dia mau menerimaku?? Apa begitu susah dia menerima kenyataan?? Sampai-sampai dia mencoba untuk menghancurkan rumah tangga kita? Kenapa??" Ucap Dara mengeluarkan rasa yang dari tadi ia tahan, semangkin lama, semangkin bergemuruh di dadanya. Bersamaan air matanya juga tumpah begitu saja.
"Sayang... Kamu jangan berpikiran negatif dulu, belum tentukan Mami mau merusak hubungan kita," kata Adam mencoba menenangkan istrinya. Meski dia sendiri juga tau jika Maminya tak pernah berhenti dan terus berusaha untuk memisahkan dia dengan istrinya.
"Apa kau bodoh Mas? Mamimu itu membawa wanita itu datang kemari, hanya untuk masuk ke dalam hubungan kita! Menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kita, Mas!" Seru Dara mengusap kasar air matanya.
Adam mendekat pada istrinya, dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Sssttt... Jangan menangis sayang... Tidak ada siapapun yang bisa merusak hubungan kita... Kamu jangan sedih seperti ini... Cintaku itu hanya untuk kamu, kau tidak perlu meragukan perasaanku," ujar Adam lembut mengusap-usap punggung istrinya yang terguncang.
Dara mendongak melihat wajah suaminya. "Kamu janji Mas, jika kamu tidak akan pernah memadukan aku lagi? Aku tidak mau di madu lagi Mas," lirih Dara menatap wajah tampan suaminya penuh harap.
Laki-laki itu mengusap air matanya dan mengangguk. "Aku tidak akan pernah menikah lagi sayang... Aku berjanji padamu,"
__ADS_1
Andaikan saja kamu tau, jika sebenarnya aku tidak punya rasa pada wanita lain. Mungkin kau tidak akan sekhawatir ini... Tapi mana mungkin aku mengatakan hal itu padamu, tentu saja aku malu. Selain dari itu, aku juga suka melihatmu yang sedang cemburu seperti ini. Tambah Adam dalam hati tersenyum senang karena istrinya itu, akhirnya menunjukkan rasa cemburunya.
,,,
Lamunan Icha buyar saat Vano duduk di dekat wanita itu, yang sedang melamun jauh entah kemana lamunannya.
"Di mana kau mengenal ibuku?" Tanya Vano pada gadis itu. Wajah gadis itu mulai terlihat pucat, tapi Vano tak sadar dengan perubahan wajah istrinya.
Gadis itu, mengukir senyuman termanisnya. "Di tempat jualan ibumu," jawab Icha melihat ke arah wajah Vano yang menatap lurus kedepan.
Vano menyandarkan dirinya di bangku. "Apa kau tidak penasaran, bagaimana aku bisa mempunyai ibu selain dari Mamah? Dan apa kau tidak ingin bertanya tentang aku yang sudah menikah atau belum, dan bagaimana aku bisa memilik anak?" Tanya Vano menoleh melihat wajah Icha yang menatapnya.
Gadis itu kembali tersenyum lebar dan melihat kedepan seperti Vano tadi.
__ADS_1
"Itu karena cintaku untuk kak Vano tanpa syarat," jawab Icha melihat kearah Vano dan menatap dalam bola mata laki-laki itu.
"Aku tidak perlu tau semua itu. Karena itu bukanlah satu musibah yang akan menghalangi cintaku buat kak Vano, karena rasa itu tulus, dan tanpa syarat apapun," tambah Icha membuat hati Vano bergetar saat mendengar ungkapan tulus dari gadis didepannya.