
Dara termenung duduk di atas Mobil. Mirna yang melihat itu, langsung bertanya.
"Kau kenapa?" Tanya Mirna terlihat angkuh.
Dara tak menyahutinya. Karena wanita itu sedang melamun memikirkan kandungannya, ia benar-benar tak percaya, jika benar usia kandungannya 4 minggu, ada ketakutan dari dasar hatinya, ia takut jika nanti Adam akan berpikiran negatif.
"Dara!" Panggil Mirna, karena Dara tak menyahutinya.
Dara kaget, langsung melihat ke arah Mirna. "Kau sedang memanggilku?" Tanya Dara.
"Iya, kau kenapa?" Jawab Mirna kesal.
"T-tidak, aku tidak apa-apa," Dara tersenyum kecut.
Tak berapa lama, mereka sudah tiba di Mension. Yunda tersenyum penuh arti saat melihat Dara sudah tiba, "Dara, bagaimana keadaanmu? Apa kau sakit?" Tanya Yunda pada menantunya.
"Dara tidak sakit, tante. Kata dokter, Dara hamil," Mirna yang menyahutinya.
Yunda tersenyum terlihat begitu bahagia, entah dia tersenyum bahagia karena Dara hamil, atau tersenyum bahagia kerana sebentar lagi ia akan melihat kemarahan Adam saat mengetahui usia kandungan istrinya. Hanya dia yang tau seperti apa hatinya saat ini.
"Benarkah? Berapa usia kandunganmu kata dokter, sayang?" Tanya Yunda. Lebih tepatnya, berpura-pura bertanya.
__ADS_1
GLEK
Dara terdiam mendengar pertanyaan mertuanya. Ia berusaha memutar otak, apa yang ingin dia katakan.
"Dara masih pusing, tante. Mungkin saja dia mau beristirahat sebentar," Mirna kembali bersuara, karena ia merasa seperti ada yang tak beres.
Yunda memang sengaja menyembunyikan rencananya dari Mirna dan juga Kinanti, ia tak mau jika semua jadi berantakan karena ada yang tau selain dirinya.
"Oh, maafkan Mami, Mami terlupa kalau kau baru saja pulang. Iya sudah, kau istirahat saja dulu." Kata Yunda tersenyum manis.
"Baik, Mi." Jawab Dara ingin melangkah naik ke lantai atas.
Yunda melihat ke arah Kinanti. "Kinanti, ayo kita keluar, kau bisakan, antar tante sebentar?" Tanya Yunda pada Mirna.
Tersenyum manis. "Tentu saja bisa, tante" Andai saja aku tidak lagi mengincar hartamu, mana mungkin aku mau dekat-dekat sama wanita cacat sepertimu. Lanjut Kinanti sinis dalam hatinya.
Ternyata dia hanya baik pada Yunda selama ini, itu karena ia hanya mengincar Adam. Agar dia bisa menjadi nyonya Adam, dan menguasai harta mereka.
Ternyata kata pepatah itu benar adanya ya. Apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai. Tak perlu bersusah payah menghancurkan seseorang yang nyinyir pada kehidupan kita, karena dia akan hancur dan terjatuh dengan sendirinya jika sudah tiba waktunya. Karena Allah melihat, apa yang tidak manusia lihat. Begitupun yang terjadi pada Yunda saat ini, dimana ia juga di dekati oleh orang-orang jahat seperti dirinya.
,,,
__ADS_1
Mirna masuk ke dalam kamar Dara. Wanita itu mengunci pintu dengan rapat, yang membuat Dara keheranan.
Wanita itu mendekati Dara. "Apa benar kau tidak pernah melakukan apapun dengan kak Galih, atau laki-laki lain?" Tanya Mirna membuat Dara kaget.
"Astagfirullah, apa yang kau katakan itu? Jangan sembarangan bicara kamu! Mana mungkin aku melakukan itu pada kakak, mu. Apa lagi dengan laki-laki lain!" Jawab Dara sedikit emosi mendengar pertanyaan Mirna.
Mirna duduk di dekatnya. "Hati-hatilah, perhatikan sekelilingmu," ujar gadis itu tiba-tiba.
"Apa maksud dari ucapanmu itu?" Dara.
Menggeleng. "Aku hanya tidak ingin jika kak Galih terlibat, hanya itu."
Dara semangkin bingung mendengar ucapan Mirna. "Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" Tanya Dara serius.
"Aku hanya ingin berpesan padamu, lebih waspadalah kedepannya." Ucap Mirna berdiri dan langsung keluar dari kamar Dara.
Dara bertambah gelisah saat mendengar ucapan Mirna barusan.
,,,
Yunda sudah tiba di depan rumah ibu Ida. "Ini rumah siapa tante?" Tanya Kinanti melihat rumah sederhana di depannya.
__ADS_1