
"Nah ya, ya ya, horeee masukkkk...." teriak Gara heboh saat bisa memasukkan satu boneka yang Aileen inginkan.
Orang orang yang ada di sana pun memperhatikan mereka bertiga, karena tingkah mereka bertiga sangat heboh seperti orang yang tidak pernah main di Timezone, padahal memang Iya.
Gara tak peduli itu, sedangkan Aileen dan Fatin tidak menyadari kalau mereka menjadi tontonan banyak orang.
"Nah ini untuk kamu sayang." gara memberikan boneka panda keinginan Aileen kepada Aileen.
"Kok buna sih yah, kan kita main ke sini itu karena Fatin, seharusnya buat Fatin dong." protes Fatin karena yang Gara beri boneka malah Aileen.
"Iya dong, kan ayah cinta Buna." balas Aileen sombong sambil memamerkan Bonekanya kepada Fatin.
"Fatin juga mau ayah, pokoknya ayah harus ambilkan juga buat Fatin." pinta Fatin.
"Iya sayang sabar, ayah akan mengambilkan Boneka yang besar buat Fatin." balas Gara dan mulai menjalankan mesin capit lagi.
Mereka main di Timezone sampai puas, hingga Aileen merasa kelelahan barulah mereka berhenti, Gara mengajak mereka makan di cafe yang ada di dalam mall untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Klunting.
Handphone Gara berbunyi, Gara segera melihat handphonenya dan membaca pesan yang masuk.
Tangan Gara langsung terkepal kuat saat membaca pesan yang ada di handphonenya.
"Sayang habis makan kita langsung pulang ya " ajak Gara kepada Aileen dan juga Fatin.
"Kok pulang sih yah, Fatin kan belum puas mainnya." protes Fatin.
"Iya sayang, kan sekarang buna lagi hamil jadi Buna gak boleh kecapekan. Lain kali kalau ayah libur kerja lagi kita main ke sini ya, sekarang pulang dulu istirahat di rumah." jelas Gara memberikan pengertian buat Fatin.
"Ya udah deh gak papa, nanti Fatin mau ajak mama sama papa juga buat main bersama." balas Fatin yang sudah mau di ajak pulang.
"Emang ada apa mas?" tanya Aileen yang tahu pasti ada sesuatu yang terjadi.
Karena dia Yadi melihat raut wajah Gara seketika berubah setelah membaca pesan dari seseorang, dan Aileen yakin itu pasti isi pesannya sangatlah penting.
__ADS_1
"Nanti aku ceritakan di rumah." jawab Gara dan di angguki Aileen.
Mereka bertiga pun makan, dan setelah makan Gara langsung mengajak mereka pulang dan mengantarkan Fatin pergi keluar rumah ibu Maya, baru setelah itu dia pergi menuju rumahnya.
"Emang ada apa sih mas?" tanya Aileen setelah mereka sampai di rumah dan saat ini mereka tengah duduk di atas ranjang dengan Gara yang sudah mulai merangkul bahu Aileen.
"Kamu janji ya tidak boleh menangis setelah mas cerita nanti." pinta Gara Agat Aileen berjanji tidak menangis setelah Gara menceritakan isi pesan yang dia terima tadi saat makan di cafe.
"Iya iya aku gak akan nangis kok, aku kan kuat." balas Aileen yang sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari Gara.
"Ini tentang paman Joko." balas Gara.
Deg.
Jantung Aileen mulai berdetak tidak karuan saat mendengar nama pamannya di sebut oleh suaminya.
"Orang suruhan Joan memberikan kabar kalau paman Joko mengalami kecelakaan kapal laut saat akan pergi ke luar negeri beberapa hari yang lalu di perairan Australia." jelas Gara.
Deg.
"Dan seluruh penumpang tidak ada yang selamat, bahkan sampai sekarang seluruh badan kapal masih belum bisa di angkat karena kedalaman air yang begitu dalam." lanjut Gara.
"Sayang kamu jangan sedih ya, aku gak mau kamu menangis lagi. Doakan saja paman Joko semoga dia sudah tenang di sana." Gara langsung memeluk dan menciumi kening Aileen sebagai bentuk cintanya kepada Aileen.
"Aku tidak sedih mas, mungkin ini memang karma untuk paman yang sudah berbuat jahat kepada bibi. Yang aku pikirkan hanya sekarang akun sudah tidak mempunyai keluarga lagi, aku hanya punya kamu dan Fatin." balas Aileen memeluk Gara.
"Kamu salah, kita masih punya keluarga yang lain kok, kan sebentar lagi kita akan punya anak." balas Gara mengelus perut Aileen yang sekarang sudah mulai terlihat karena sudah usia sepuluh Minggu lebih.
"Kamu nanti mau jenis anak kelamin anaknya kita apa?" lanjut Gara bertanya.
Gara mencoba menghibur Aileen dan mengalihkan pembicaraan mereka agar Aileen tidak stres, karena ibu hamil tidak boleh stress.
"Aku apa aja asal sehat dan bisa berkumpul bersama kita di sini." balas Aileen memegang perutnya.
"Lihat deh mas, udah mulai kelihatan." lanjut Aileen menaikkan bajunya sehingga terlihatlah perut Aileen yang sangat putih mulus.
__ADS_1
Gara menunduk untuk mendekatkan kepalanya ke perut Aileen.
"Halo anak papa, gimana di sana seru gak?" tanya Gara mengajak anaknya berbicara.
"Apaan sih kamu mas, mereka masih kecil jadi belum bisa mendengarkan suara kamu." balas Aileen yang merasa tingkah Gara sangat aneh.
"Biarin, orang aku mau ngobrol sama anak aku kok." balas Gara bodo amat.
"Sayang papa sudah lama ya gak jengukin kalian, kalian kangen gak sama papa?" tanya Gara yang mulai melantur tidak jelas.
Aileen yang mendengar ucapan Gara hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tahu sebenarnya Gara sudah lama menahannya dan mungkin malam nanti Aileen akan mengajak gara untuk bermain, tapi dengan posisi yang aman untuk ibu hamil.
"Iya ayah, nanti makam kita akan bertemu kok." balas Aileen menirukan suara seperti anak kecil.
"Iiih kok ayah sih, aku gak mau di pangil ayah. Cukup Fatin aja ya pangil aku ayah anak calon adiknya jangan." protes Gara.
"Ehh tadi kamu bilang apa, kita malam ini akankah bertemu, berarti nanti malam kita main dong." lanjut Gara yang mulai sadar dengan apa yang Aileen ucapkan tadi.
"Ada deh, salah sendiri Yadi gak denger. Lagian kenapa sih kamu kok gak mau di pangil ayah, padahalkan bagus." heran Aileen.
"Ya gak mau aja, aku tuh pengen di pangil papa seperti Joan tauk." balas Gara.
"Ya sudah terserah papa aja," balas Aileen mengalah.
"Yang, besok aku ngadain konferensi pers, kamu ikut ya sama aku, aku mau memperkenalkan kamu kenapa seluruh negri biar tahu kalau kamu adalah istri aku." ucap Gara yang mengingat dengan rencananya bersama Joan.
"Loh kenapa kami bilangnya mendadak seperti ini, aku kan belum siap siap?" Aileen belum siap kalau tiba tiba besok Gara akan memperkenalkan dirinya di depan umum.
"Semuanya sudah di siapkan, dan ini memang sudah waktunya karena yang orang orang tahu aku masih hilang dan belum menikah." balas Gara.
"Tapi aku takut,"
"Udah kamu tenang aja, aku ada di samping kamu." balas Gara kembali memeluk Aileen sambil tangannya mengelus perut Aileen yang tak terhalang apapun.
...***...
__ADS_1