
"Kamu udah bangun?" tanya Gara saat melihat Aileen berjalan menghampiri dirinya dan Fatin yang tengah melakukan sarapan pagi.
"Kenapa kalian tidak membangunkan ku?" Aileen mengambil tempat duduk di samping Gara.
"Kata ayah biarkan Buna tidur, Buna pasti capek kan. Lagian juga Buna kan pergi kerjanya jam delapan, kalau Fatin kan jam tujuh harus sudah ada di sekolah, jadi ya gak papa Buna bangun siang, tapi kalau Fatin ya harus bangun pagi." balas Fatin.
"Mana bisa seperti itu, Buna juga harus melakukan persiapan, Buna juga harus masak buat sarapan kalian." balas Aileen tak setuju dengan apa yang Gara katakan pada Fatin.
"Tapi kata ayah tadi begitu kok, iya kan yah?" balas Fatin bertanya pada Gara.
"Udahlah mendingan sekarang kamu sarapan, lagian juga tadikan makanan sisa semalam masih ada jadi ya aku tadi tinggal panasin aja." ucap Gar pada Aileen.
"Hufft... lain kali jangan seperti itu lagi, kalau kamu bangun kamu juga harus bangunkan aku."
"Iya bunanya Fatin yang cerewet." balas Gara membuat Fatin terkekeh.
"Hahaha ayah kalau ngomong suka bener." kekeh Fatin.
"Udahlah kalian berdua sama saja." kesal Aileen dan mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri, karena Gara dan Fatin sudah menggambil untuk mereka sendiri.
Mereka makan dengan tenang, tapi terkadang Aileen harus teringat dengan kejadian yang ada di kamar tadi, entah kenapa otak Aileen tidak bisa melupakan kejadian yang terjadi tadi di dalam kamarnya.
Selesai sarapan Gara dan Fatin pun langsung berangkat, sedangkan Fatin harus membersihkan rumah terlebih dahulu dan setelah selesai dengan pekerjaan rumah dia baru pergi ke tempat kerjanya.
...**...
Selesai mengantarkan Fatin ke sekolah, Gara langsung melajukan motornya menuju kota, dia sudah membuat janji dengan Joan untuk bertemu di sebuah tempat yang aman, yang pastinya tidak akan ada orang yang tahu nanti.
__ADS_1
Sampai di tempat itu, Gara langsung turun dari motornya dan langsung menghampiri Joan yang sudah ada di dalam sana.
"Apakah kau menungguku lama?" ucap Gara saat sampai di hadapan Joan.
"Tidak kok, aku juga baru sampai." balas Joan.
Gara duduk di samping Joan dan Joan pun langsung menunjukkan sesuatu dari laptop yang dia bawa.
"Coba kamu lihat ini." pinta Joan menyerahkan laptop miliknya.
Gara pun melihat video rekaman cctv yang ada di dalam laptop milik Joan, di sana terlihat ada dua orang yang satu tengah mengotak atik mobil Gara yang ada di parkiran cafe, dan yang satunya lagi tengah memantau keadaan.
"S1alan, siapa mereka berdua?" umpat Gara.
Gara geram karena bisa bisanya dia sampai kecolongan seperti ini, hingga mengakibatkan dirinya hampir celaka.
"Kamu harus terus memantau semuanya, dan bagiamana keadaan perusahaan, apakah ada masalah?" tanya Gara khawatir dengan kondisi perusahaannya.
"Kamu tenang saja, perusahaan aman aman saja, yang ada malah harga saham semakin hari semakin naik." jawab Joan.
"Baguslah kalau seperti itu, oh iya mana handphoneku kemaren?" pinta Gara.
"Ini, aku juga sudah mengseting semuanya jadi aman gak bakal ada yang bisa merentas handphone kamu." balas Joan menyerahkan handphone yang Gara beli kemaren.
"Nanti kalau terjadi sesuatu dengan perusahaan kamu harus cepat cepat hubungi aku, karena bagaimanapun sekarang keadaan sedang tidak aman, apalagi setelah kamu memberikan kabar kalau aku menghilang, pasti banyak orang diluar sana yang ingin mengambil posisiku di perusahaan."
"Baik tuan, saya akan melakukannya." balas Joan patuh.
__ADS_1
"Kenapa kamu memakai bahasa formal lagi?" tegur Gara tidak suka.
"Maaf tuan, tapi rasanya tidak enak kalau saya bicara seperti tadi dengan anda, rasanya kayak ada yang aneh." Joan merasa kalau dia tidak sopan kalau berbicara mengunakan bahasa yang santai kepada Gara.
"Ah, sudahlah terserah kamu saja, capek aku terus terusan mengingatkanmu." kesal Gara.
"Hehehe, maaf tuan jangan potong gaji saya ya." cengir Joan.
"Tergantung." balas Gara bangkit dari duduknya.
"Ah, tuan mah begitu, kalau sampai tuan potong gaji saya, saya bakal bocorkan rahasia tuan kepada nyonya Aileen." Joan balik mengancam Gara.
"Kau...."
"Apa tuan, kita sana sama punya senjata sekarang." potong Joan berani.
"Ah sudahlah, aku pergi saja." Gara mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Tuan mau kemana?" teriak Joan bertanya.
Gara tak menghiraukan Joan, tapi dia melambaikan tangannya tanpa berbalik menatap Joan.
"Aish... tuan mah." decak Joan dan juga ikutan pergi dari sana.
Beruntungnya ada pesawat pribadi milik Gara, jadi Joan bisa cepat cepat terbang ke kota tepat dimanakah Gara berada, coba kalau tidak, bisa bisa dia kena amuk Gara karena lama tak datang datang.
...***...
__ADS_1