Kekasihku CEO Gila

Kekasihku CEO Gila
KCG#84


__ADS_3

Hari pun berlalu, Aileen masih nyaman dengan tidurnya, Arumi dan Fatin pun tak ada niatan untuk membangunkan Aileen karena mereka tahu semalaman Aileen tidak bisa tidur.


"Mama Fatin titip Buna ya, tolong jagain Buna Fatin sama calon adek Fatin." ucap Fatin kepada Arumi sebelum dia berangkat sekolah di antar ibu Maya.


"Iya sayang pasti mama bakal jaga Buna sama adek Fatin kok." balas Arumi.


"Sudah yuk kita berangkat, nanti kamu telat loh hari ini kan hari terakhir kami ujian." ajak ibu Maya agar Fatin segera berangkat sekolah karena hari semakin beranjak siang.


"Iya nenek." balas Fatin.


"Mama Fatin pergi dulu ya." pamit Fatin salim kepada Arumi dan Arumi juga mencium kedua pipi Fatin.


"Iya Fatin semangat ya ujiannya biar dapat juara satu." balas Arumi memberikan semangat untuk Fatin.


"Ibu pergi dulu ya, nanti kalau ada apa apa kasih tahu ibu." pamit ibu Maya.


"Iya Bu, ibu hati hati, maaf Arumi jadi merepotkan ibu." balas Arumi.


"Kamu ngomong apa sih, ibu malah senang kalau bisa bersama Fatin." balas ibu Maya.


Akhirnya ibu Maya dan Fatin pun mulai pergi meninggalkan rumah Aileen, setelah tak melihat Fatin dan ibu Maya lagi, Arumi memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


Arumi akan memasakkan makanan yang sehat untuk ibu hamil, spesial untuk sarapan Aileen nanti.


Kemaren sorenya Joan memberikan kabar kalau dia kembali lagian pergi kerja kota bersama Gara karena ada masalah di perusahaan, dan Joan juga berpesan agar Arumi menjaga Aileen karena Aileen saat ini tengah mengandung.


Dan semalam Aileen tidak bisa tidur, entah karena memang dia sudah kebanyakan tidur atau karena dianggap merindukan pelukan Gara.


Aileen sekarang sudah terbiasa tidur sambil di peluk Gara, jadi kalau Gara tidak ada rasanya ada yang kurang. Aileen baru bisa tidur setelah melakukan sholat subuh, itupun dia masih harus mencari posisi yang ternyaman.


Arumi yang tahu itu semalam juga menemani Aileen begadang, tapi tak sampai lama karena dia juga sudah mengantuk.


Selesai masak dan menyiapkan makanan di meja, Arumi pergi ke kamar Aileen untuk melihat keadaan Aileen.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya leen, aku yakin akan ada kebahagiaan di masa depan kelak. Aku pernah berada di posisi kamu, jadi aku tahu apa yang sekarang kamu rasakan." gumam Arumi menatap Aileen yang masih tidur.


Karena tak ingin mengganggu tidur Aileen, Arumi pun memutuskan untuk kembali ke depan, dia duduk di sofa ruang tamu rumah Aileen sambil bermain handphone, berharap kalau Joan ada memberikan kabar untuk dirinya karena sedari semalam Joan tidak mengirimkan kabar sama sekali.


"Mungkin masalahnya begitu berat untuk kalian hadapi, aku hanya bisa bantuin doa dari sini semoga kalian menemukan jalan keluar dari masalah yang kalian hadapi." ucap Arumi memandangi foto dirinya dan Joan.


Terbiasa selalu bersama Joan setiap hari membuat Arumi jadi merindukan Joan, padahal dia hanya tidak bertemu Joan sehari tapi dua sudah sangat merindukan Joan. Mungkin sudah ada rasa cinta di hatinya untuk Joan.


...**...


Sementara itu di tempat Gara, perusahaan Gara tengah di sibukkan dengan gemparnya uang perusahaan yang di korupsi dalam jumlah banyak.


Banyak karyawan yang panik karena mereka takut terkena PHK. Bekerja di S2X Crop adalah impian semua orang karena gaji yang di berikan disana sangatlah menjanjikan, jadi banyak orang yang berlomba lomba untuk bisa bekerja di sana.


Tapi saat ini perusahaan besar yang cabangnya ada di mana mana itu tengah mengalami masalah yang begitu pelik, bahkan bisa jadi perusahaan itu akan bangkrut kalau sampai Gara tidak melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.


"Gimana gar, apakah lo udah dapat?" tanya Joan yang merasa matanya sudah lelah karena sedari kemarin memandangi laptop mulu.


"Bentar bentar, ini dikit lagi gw dapat." balas Gara yang tengah fokus menatap layar laptop miliknya.


"Permisi tuan, ini sarapan buat anda." ucapan Riski yang membawakan makanan sarapan untuk Gara dan Joan.


"Hmm, taruh di atas meja aja." balas Gara karena dia masih fokus dengan laptop miliknya.


Sedangkan Joan yang memang sudah kelaparan pun langsung menyantap makanan miliknya.


"Kami udah makan Ki?" tanya Joan kepada Riski.


"Sudah tuan, tadi saya sarapan di rumah." jawab Riski.


"Kalau kamu gak ada kerjaan bantuin kita gih, ini kamu tinggal baca baca aja dan cocokin nomornya nanti kalau sama kasih tahu aku." suruh Joan meminta bantuan Riski.


"Baik tuan." balas Riski dan mulai melakukan apa yang Joan perintahkan kepadanya.

__ADS_1


Semalam Riski pulang karena di paksa Joan sama Gara, mereka berdua tidak enak kalau harus mengikutkan Riski untuk berfikir jalan keluar dari masalah ini.


Dan Riski yang memang orangnya penurut pun langsung memilih pulang, dan tadi pagi dia beranggapan pagi pagi ke perusahaan untuk melihat keadaan kedua bosnya.


Riski kaget karena kedua bosnya itu masih dengan pekerjaan yang sama seperti semalam, ternyata mencari nomor rekening orang jahat itu tidak mudah, mungkin orang itu sudah mengantisipasi dengan baik sehingga mereka kesusahan harus mencarinya satu persatu.


"Apakah habis ini tuan akan mandi?" tanya Riski.


Bukan bermaksud untuk menyindir mereka yang memang belum mandi, tapi Riski takut nanti kalau ada karyawan yang lain melihat keadaan Gara dan Joan yang acak acakan seperti ini.


"Ah aku baru sadar kalau aku belum mandi." balas Gara melihat penampilannya yang sangat tidak layak di katakan sebagai CEO perusahaan.


"Kalau tuan mau mandi saya bisa membantu menyiapkan air hangat buat anda." ucap Riski menawarkan bantuan.


"Tidak usah, saya nanti bisa menyiapkannya sendiri. Kami fokus cari itu aja, mataku sudah mulai burem liat layar laptop." balas Gara menolak tawaran Riski.


"Baik tuan." balas Riski patuh.


Gara kembali diam, dia fokus kembali ke laptop miliknya bukannya mandi seperti apa yang akan dia lakukan tadi.


"Nah, nah nah ketemu...." sorak Gara heboh saat akhirnya dia bisa menemukan nama pemilik akun nomor rekening yang ada di berkas yang Riski bawa kemaren.


"Mana mana?" tanya Joan ikutan heboh dan penasaran.


"Joko Wijayanto." ucap Joan mengejar nama yang ada di layar laptop gara.


"Tuh kan apa yang aku bilang, kalau pelakunya itulah sudah pasti dia, karena hanya dia musuhnya kita." ucap Joan yang merasa tebakannya kemaren benar.


Sedangkan Gara hanya diam saja, tapi tangannya meremas kuat jari jari yang ada di tangannya hingga memerah.


"Apa yang akan kamu lakukan kepadanya gar?" tanya Joan dengan mode sahabat.


"Kita lihat saja nanti." balas Gara dengan seringai liciknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2