
"Tidak, ini bukan salah kamu, mari kita besok berusaha untuk meyakinkan anakku, kamu mau kan?" balas Joan meyakinkan Arumi agar tidak terus menyalahkan dirinya lagi.
"Tapi bagiamana kalau besok tetap sama, anak kamu tidak mau sama aku, apakah kamu akan meninggalkan ku?" tanya Arumi takut.
"Tidak, kita sudah sepakat untuk menjalani pernikahan ingin sekali bersama, jadi apapun masalah yang akan kita hadapi, kita harus menghadapinya bersama." balas Joan mantap.
"Sudah ayo kita makan, ini kamu yang masak sendiri?" lanjut Joan mengalihkan pembicaraan agar Arumi tak lagi khawatir dengan besok.
"Iya ini aku masak tadi khusus buat kamu." balas Arumi.
Akhirnya mereka berdua pun makan dengan tenang tapi pikiran Arumi tetap tertuju kepada anak Joan yang tidak menyukai keberadaan dirinya.
Doa harus siap besok apapun yang terjadi dia harus kuat dan bisa menerima keputusan besok, kalau pun Joan akan melepaskan dirinya mungkin udah takdirnya untuk tidak hidup bersama orang lain lagi, mungkin dia emang tidak pantas untuk bersama orang lain lagi.
...**...
Sementara itu di tempat Fatin, dia sedang uring iringan karena perkataan papanya tadi yang sudah mempunyai mama baru.
"Fatin udah ya, gak boleh marah marah gitu sama papa, kasian loh papa Joan kalau Fatin marah marah gini." ujar Aileen berusaha melunakkan hati Fatin.
"Enggak, Fatin gak mau punya mama baru, kata teman teman Fatin mama baru itu jahat." kekeh Fatin dengan keinginannya tidak ingin mempunyai mama baru.
"Sayang, tidak semua mama baru itu jahat," balas Aileen.
"Pokoknya Fatin tidak mau punya mama baru, titik." balas Fatin dan langsung berlari ke arah kamarnya.
"Huh." hela nafas Aileen yang melihat Fatin menutup pintu kamarnya.
"Sudah yang, besok juga kalau sudah ketemu mungkin Fatin akan luluh." ucap Gara yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Setelah insiden tadi di taman, Fatin mengajak Gara dan Aileen untuk pulang karena dia sudah tidak mood lagi buat jalan jalan. Gara dan Aileen yang mengerti dengan perasaan Fatin pun mengiyakan permintaan Fatin untuk pulang.
__ADS_1
Bahkan Aileen sampai lupa kalau dia ada masalah dengan Gara karena sibuk mengurusi Fatin yang sedang ngambek.
"Fatin dulu gak gini loh, dia selalu mengerti apa yang aku ucapkan, bahkan dia dulu juga tidak pernah minta yang aneh aneh sama aku." balas Aileen menatap sedu pintu kamar Fatin.
"Dia kan sekarang sudah mengerti dan mengetahui kalau sudah ada papanya, jadi dia mengungkapkan apa keinginannya yang mungkin dulu selalu dia simpan karena takut buat kamu kepikiran." balas Gara merangkul pundak Aileen.
"Itu juga teman kamu, kenapa gak bilang bilang dulu kalau punya temen wanita." Aileen melirik Gara sinis.
"Sayang ayo lah, itu yang salah Joan loh, aku gak ikut ikutan jadi jangan tatap aku seperti itu ya." Gara memelas karena Aileen sepertinya akan marah juga terhadap dirinya.
"Atau jangan jangan kamu juga sama lagi, kamu di kota punya wanita juga yang kamu sembunyikan dari aku?" tuduh Aileen menatap Gara tajam.
"Astaghfirullah hallazim sayang, aku gak seperti itu, aku cuma cinta sama kamu gak ada yang lain." bantah Gara tak membenarkan tuduhan Aileen.
"Udah ah, kalian semua para cowok sama aja." Aileen melepaskan tangan Gara yang ada di pundaknya dan berlalu pergi ke kamarnya.
"Sayang tungguin aku." teriak Gara menyusul Aileen.
"Tetap di sana aku ambilkan pakaian kamu, ingat perkataanku tadi kalau kamu tidur di luar." garang Aileen menghentikan langkah Gara yang akan mengejarnya.
Aileen menutup pintu kamarnya dengan kasar membuat Gara hampir jantungan.
"Sabar sabar, mungkin dia lagi dapet." gumam Gara mengelus dadanya.
Gara pun memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering.
...**...
Hari pun berlalu, saat ini Joan dan Arumi sudah ada di dalam pesawat pribadi milik Gara untuk pergi menuju kota tempat Arumi tinggal.
"Sekaya apa sih kamu sampai sampai bisa punya pesawat ini?" tanya Arumi penasaran dengan kekayaan Joan.
__ADS_1
"Ini bukan punya aku, tapi punya bos ku yang gila. Dan untuk jumlah kekayaanku aku tidak tahu karena aku tidak bisa menghitungnya." jawab Joan jujur.
"Hah, bos kamu gila?" kaget sekaligus penasaran Arumi.
Seorang bos bisa gila, wah ini sebuah pernyataan yang sangat langka. Kekayaan Joan aja sudah sebanyak ini, apalagi punya bos-nya. Tapi yang jadi pertanyaan Arumi kenapa bos Joan bisa gila, apakah dia gila karena kebanyakan harta? kalau iya Arumi siap kok bantu untuk menghabiskan hartanya.
"Bukan begitu maksudku, dia gak gila seperti orang gila, tapi dia gila karena cinta." ralat Joan.
"Ooh jadi gilanya karena cinta, pasti cinta banget ya sampai sampai gila seperti itu cuma karena masalah percintaan." balas Arumi menyimpulkan maksud Joan.
"Maksud kamu gimana ini?" tanya Joan karena dia merasa ada yang aneh dengan kesimpulan Arumi istrinya.
"Iya, maksud kamu dia gila karena masalah percintaan kan, emang sih aku sering denger ada banyak orang gila karena kasus percintaannya kandas di tengah jalan atau cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi untung saja ya bos kamu tidak bunuh diri, karena aku juga sering denger kalau banyak orang yang putus cinta terus bunuh diri." jelas Arumi panjang lebar.
Joan yang mendengar itu pun melongo, bagiamana bisa dia memiliki istri yang pemikirannya seserius itu. Padahalkan tadi maksud Joan gila itu bukan gila seperti orang gila, tapi gilanya Gara itu rela hidup miskin padahal harta melimpah, dan semua itu hanya karena cinta.
"Kamu gak mau ngunjungi bos kamu di rumah sakit jiwa, nanti kalau kamu ke sana aku ikut ya, aku pengen bilang terimakasih sama dia karena udah kasih kami gaji yang gede sampai kamu sekaya ini." lanjut Arumi yang semakin membuat Joan melongo.
"Kamu kenapa, pasti kamu teringat sama bos kamu ya, maaf ya aku jadi membuat kamu sedih seperti ini." lagi dan lagi Arumi menyimpulkan sesuatu yang salah.
"Kamu dari tadi ngomong apa sih?" tanya Joan.
"Loh kamu gak denger dari tadi aku tuh ngomongin kalau bos kamu itu gil..... hemmmmtt."
Ucapan Arumi terhenti karena Joan tiba tiba langsung menyambar bibirnya yang sedari tadi ngoceh.
Cup.
"Bos aku gak gila seperti itu sayang." gemas Joan setelah mengakhiri ciumannya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri dia seperti apa padahal uangnya banyak." lanjut Joan membuat Arumi bingung.
__ADS_1
"Udah gak usah bengong gitu, gak usah dipikirin bos aku seperti apa orangnya, sekarang yang perlu kamu pikirkan bagaimana nanti caranya meyakinkan anak aku." lanjut Joan lagi.
...***...