
Pagi harinya, Gara sudah bangun dari tidurnya. Saat ini dia tengah menyiapkan sarapan pagi buat keluarganya, dan setelah selesai dia langsung pergi ke kamar Fatin hendak membangunkan Fatin.
"Fatin sayang, bangun yuk." ucap Gara membangunkan Fatin dengan lembut.
"Bentar yah, hari ini Minggu Fatin mau bangun siang." balas Fatin menolak untuk bangun pagi karena dia juga libur sekolah hari ini.
"Ya sudah, nanti kalau bangun langsung mandi ya, ayah mau bangunin Buna dulu." balas Gara dan tak di hiraukan oleh Fatin karena dia sudah tidur kembali.
Gara yang melihat itu bukannya marah, dia malah gemas dengan Fatin. Sebelum pergi meninggalkan kamar Fatin, Gara lebih dulu memberikan kecupan di kening Fatin dan setelah itu dia langsung pergi ke dalam kamar Aileen.
Ceklek.
Gara masuk ke dalam kamar Aileen, pemandangan yang sama dia lihat saat memasuki kamar Fatin tadi. Malah Aileen lebih parah, karena dia meringkukkan tubuhnya di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya yang hanya menyisakan kepalanya saja.
Mungkin dia kedinginan karena sekarang dia masih belum mengenakan apa apa setelah semalam Gara menggempurnya lagi.
"Sayang bangun yuk." ucap Gara membangunkan Aileen sampai mengelus pipi Aileen yang lembut dan sedikit berisi.
"Eemmm... aku masih ngantuk." sama seperti Fatin, Aileen juga menolak saat Gara membangunkannya.
"Huh, tahu gini tadi aku tidur lagi aja gak usah masak." grutu Gara.
Gara pun membaringkan tubuhnya kembali dan memeluk Aileen lagi agar Aileen merasa lebih nyaman dan nyenyak saat tidur.
Cup.
"Good morning sayang." ucap selamat pagi Gara kepada Aileen yang masih tidur sambil mengecup bibir Aileen.
Setelah itu Gara pun ikut tidur kembali bersama Aileen, meskipun ini sudah jam setengah tujuh pagi, tapi karena hari ini weekend jadi mereka bermalas malasan, padahal Aileen tidak libur kerjanya, tapi biarlah Gara juga tidak akan mengizinkan Aileen masuk kerja meskipun dia sudah bangun sekalipun.
...**...
Sementara itu, di apartemen Joan, mereka berdua masih belum membuka matanya. Joan memeluk Arumi dalam tidurnya dan begitu juga Arumi yang membalas pelukan Joan.
Mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang kelelahan sehabis perang di atas ranjang, tapi nyatanya memang seperti itu tapi bedanya tidak ada status di antara mereka berdua.
__ADS_1
Jam terus berputar, hingga pukul sembilan pagi barulah ada pergerakan dari Joan.
"Eugh." lengkuh Joan mengerakkan tubuhnya.
Joan merasa tidurnya saat nyaman malam ini, dan dia pun bisa merasakan betapa nyamannya guling yang dia peluk saat ini. Aneh, biasanya guling Joan tak segitu enaknya ketika dia peluk.
Karena merasa ada keanehan, Joan pun perlahan membuka matanya dan seketika matanya langsung melotot saat melihat ada bidadari cantik yang tidur dalam pelukannya.
"Aa... hmmtth." Joan langsung menutup mulutnya saat dia hendak berteriak.
"Siapa dia?" batin Joan bertanya tanya.
Joan pun memikirkan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini. Dan saat ingatan tentang semalam melintas di otaknya, Joan tidak tahu lagi harus bagiamana nanti meminta maaf kepada wanita yang ada di hadapannya ini.
"Aduh, bagaimana ini, bagiamana nanti kalau dia melaporkan ku ke polisi." gumam Joan takut.
Joan melupakan siapa dia dan seberkuasa apa dirinya, kalau pun nanti wanita itu melaporkan Joan ke polisi kan dia bisa menyogok polisi dengan uang, gitu aja repot.
Sedangkan di posisi Arumi, dia yang samar samar mendengar orang berbicara pun perlahan membuka matanya, dan bisa dia lihat wajah tampan Joan yang tengah melamun seperti tengah memikirkan sesuatu.
Berbeda dengan Joan yang panik, Arumi malah biasa biasa saja, toh semalam juga keinginan dia juga. Lagian dia kan mandul jadi mana bisa hamil karena berhubungan badan dengan Joan, pikir Arumi.
"Ehh...."
"Ka-kamu sudah bangun?" tanya Joan gugup.
"Ya, seperti yang kamu lihat." balas Arumi santai.
Joan bergerak untuk bangun, dan begitu juga dengan Arumi. Mereka sama sama masih telanjang bulat, alhasil selimut yang sedari tadi malam menutupi tubuh mereka berdua pun, mereka buat rebutan.
"Siniin selimutnya, aku malu." ucap Arumi meminta agar Joan memberikan selimut itu kepadanya.
"Bukan cuma kamu aja, aku juga malu." balas Joan menarik selimut dari Arumi.
Terjadilah tarik menarik selimut di antara mereka berdua, mungkin karena memang tenaga Joan yang lebih besar dari Arumi sehingga membuat Arumi kalah dan selimut itu memperlihatkan tubuh bagian atas Arumi.
__ADS_1
Glek.
Joan menelan ludahnya kasar, dan entah kenapa tubuh bagian bawahnya bereaksi begitu cepat hingga membuatnya mengerang karena harus menahan hasrat nya.
Arumi melihat Joan yang menatap tubuhnya tak berkedip, dan dia pun melihat ke arah tubuhnya dan seketika matanya melotot.
"Dasar mesum." garang Arumi menutupi tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya miliknya.
"Wajar aku lelaki normal yang sudah lama tidak merasakannya, nih pakai aja selimutnya." ucap Joan memberikan setengah selimut yang dia pakai kepada Arumi.
Arumi segera menerimanya dan tanpa di sengaja saat dia menarik selimut dari atas tubuh Joan, tangannya menyengol sesuatu yang sudah menjulang tinggi.
"**1*, Arumi tanganmu kenapa tidak di kondisikan." umpat Joan kesal.
Joan sudah berusaha untuk menahannya sedari tadi, tapi ini Arumi malah memancingnya.
"Ma-maaf aku tidak sengaja." balas Arumi.
"Gilak pantes aja rasanya semalam begitu nikmat, emang segede itu miliknya." batin Arumi mengagumi milik Joan.
Meskipun semalam dia dalam pengaruh obat perangsang, tapi dia juga tetap sadar tapi tidak bisa mengontrol nafsunya, dan dia juga bisa merasakan senikmat apa kegiatan mereka semalam.
"Ah aku harus berendam air dingin lagi kan." kesal Joan.
"Maaf." hanya itu yang bisa Arumi katakan kepada Joan.
Joan melihat ke segala arah untuk mencari pakaian yang bisa dia kenakan, dan pandangannya jatuh ke celana boxer miliknya yang terletak tak jauh dari ranjang.
"Tutup matamu jangan ngintip." suruh Joan dan langsung di lakukan oleh Arumi.
Joan bangkit dari ranjang saat memastikan Arumi tak melihatnya, Joan segera mengambil celana boxer miliknya dan memakainya.
"Yah telat." batin Arumi saat menyipitkan matanya untuk mengintip Joan, tapi yang dia lihat Joan sudah mengenakan celananya.
"Sana cepat kamu mandi, habis itu kita bicara di depan. Aku mau mandi di kamar mandi dapur." suruh Joan dan langsung berlalu pergi keluar dari kamar meninggalkan Arumi.
__ADS_1
"Huh, ampuni hamba ya Allah, ampuni otak hamba yang kotor ini." Arumi langsung bangkit dari ranjang dan melilitkan selimut ke tubuhnya dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi dengan selimut yang melingkar di tubuhnya.
...***...