
Tak kehabisan akal, Gara pergi ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya dan ternyata pintu itu terkunci.
Tok tok tok.
"Sayang buka pintunya, aku jelasin semuanya sama kamu, plis bukain pintunya." teriak Gara sambil terus mengetuk pintu rumah Aileen agar Aileen membuka pintu rumahnya.
"Sudah Gar, nanti di dengar tetangga gak enak." ucap Joan agar Gara tenang.
"Emang dasar jal*** pengecut, kemana dia sekarang, seharusnya aku tadi langsung bunuh dia aja." marah Gara kepada Agnes.
"Gar tahan emosi Lo, lo harus tetap tenang agar lo bisa berfikir dengan jernih." ucap Joan lagi mencoba untuk menyadarkan Gara.
"Papa, ayah Fatin pulang." ucap riang Fatin saat melihat ayah dan papanya ada di depan rumah buna Aileen.
"Ehh anaknya papa udah pulang, gimana tadi ujiannya lancar gak?" Joan menyapa Fatin sambil mencium pipi Fatin.
"Iya pa lancar, tadi Fatin juga bisa mengerjakan semua soalnya." jawab Fatin memberitahukan kegiatannya saat di sekolah tadi.
"Wah pintarnya anak ayah," puji Joan.
"Ayah kenapa, kok dia diam aja gak ajak Fatin ngobrol?" tanya Fatin karena melihat Gara diam menatap pintu rumah Aileen.
"Ayah tidak apa apa kok, ayah hanya banyak pikiran saja. Sekarang kamu pulang ke rumah nenek dulu ya sama mama, papa sama ayah masih ada urusan." balas Joan menyuruh Fatin agar pulang ke rumah ibu Maya agar Fatin tidak curiga dengan apa yang sudah terjadi di sana.
"Sayang kamu ajak Fatin pulang ke rumah kamu gak papa kan?" tanya Joan kepada Arumi.
"Iya mas, kalau gitu aku sama Fatin pulang dulu ya, kalian hati hati dan kalau ada apa apa kasih tahu aku." balas Arumi.
Cup.
__ADS_1
"Iya nanti kau kasih tahu." balas Joan sambil mencuri ciuman di bibir Arumi.
Dasar Joan sudah bucin, di tengah pertengkaran bosnya malah sempat sempatnya ngebucin.
"Da ayah da papa Fatin pergi dulu." dadaaa Fatin kepada Joan dan Gara, tapi yang merespon hanya Joan saja.
"Terus sekarang lo mau gimana?" tanya Joan kepada Gara setelah kepergian Fatin dan istrinya.
"Entahlah, mungkin aku akan menunggu di sini sampai dia membukakan pintu." jawab Gara tak mengalihkan pandangannya dari pintu rumah Aileen sedikitpun.
"Aku gak bisa bantu apa apa kalau sudah masalah rumah tangga, aku hanya bisa bantu doa semoga Aileen cepat cepat membukakan pintu buat tuan." balas Joan yang tidak bisa memberikan saran, karena dia juga belum pro dengan masalah rumah tangga.
Gara berjalan menuju tempat duduk yang ada di depan rumah Aileen di ikuti Joan.
"Padahal hari ini aku sudah sangat bahagia banget karena tahu ternyata Aileen sedang hamil, tapi semuanya harus hancur karena kehadiran wanita gila tadi." ucap Gara memberitahu Joan tentang perasaannya hari ini.
"Aileen hamil?" tanya Joan memastikan dan di balas anggukan oleh Gara.
"Kau pasti tahu kan sebahagia apa saat mendapatkan kabar seperti itu, ehh saat pulang ke rumah malah mendapatkan pesan yang sangat membuatku bingung harus melakukan apa karena masalah itu datang bersamaan di saat aku belum menyiapkan apa apa." lanjut Gara dengan memandang lurus ke depan.
"Tuan yang sabar ya, saya yakin kalau pasti ada jalan keluarnya dari masalah yang menimpa tuan saat ini." balas Joan memberikan semangat pada Gara.
"Terus gimana masalah orang itu?" tanya Gara penasaran dengan seseorang yang sudah membuat dia terjebak di sini.
"Apakah dia ada di rumahnya?" balas Joan balik bertanya.
"Sepertinya tidak, tadi pagi aku lihat dia keluar pagi pagi." jawab Gara.
"Aku bingung kenapa dia sampai melakukan ini hanya karena masalah kalah saing saja." tak habis pikir Joan dengan apa yang sudah di lakukan orang itu kepada dirinya dan Gara, padahal masalahnya hanya sepele saja.
__ADS_1
"Mungkin bagi kita masalah itu sepele karena kita sudah biasa memenangkan persaingan itu, tapi bagi mereka yang jarang sekali ada di sana pasti persaingan itu sangatlah berharga." balas Gara.
Mereka asik bercerita masalah perusahaan, Joan terus mengajak Gara ngobrol agar sedikit meringankan beban Gara dengan masalah rumah tangganya.
Berbeda dengan di depan rumah yang kering, di dalam rumah wajah Aileen sudah banjir dengan air mata. Aileen menangis di dalam kamarnya setelah mengetahui semuanya tentang Gara dari wanita yang tadi.
Apalagi tadi saat di melihat dari arah jendela, dia bisa melihat kalau Gara dan wanita itu berhadapan sangat dekat. Aileen yakin pasti apa yang wanita itu bilang benar, kalau dia ada apa apa dengan Gara. Kalau tidak, mana mungkin tadi mereka berdua sedekat itu.
Memang tadi kalau di lihat dari arah jendela, Gara dan Agnes seperti tengah berhadapan dengan posisi yang sangat dekat, karena Aileen hanya bisa melihat dari punggung Gara saja, dia tidak bisa melihat tangan Gara yang tengah mencekik leher Agnes.
Dari sana kesalahpahaman Aileen semakin bertambah, dia jadi semakin yakin kalau wanita tadi adalah kekasih Gara yang ada di kota.
Oh dia tidak bisa melupakan kasusnya Joan, mereka sama sama laki laki, dan Aileen yakin pasti Gara juga sama mempunyai wanita lain seperti Joan yang dulu menduakan kakaknya.
"Kamu jahat gar, kamu bohongin aku, aku gak percaya lagi sama kamu, hiks hiks." Tangis Aileen yang membenci Gara.
"Kamu bilang kamu hanya orang biasa yang menjual rumah kamu di kota, nyatanya kamu adalah orang kaya yang bahkan mungkin kekayaan kamu sangatlah berlimpah beberapa kali lipat dari uang yang kamu berikan kepadaku."
"Aku tahu aku memang orang tidak punya, aku memang orang miskin, tapi aku tidak matre gar, kenapa kamu gak jujur aja sama aku, aku juga gak bakalan minta uang sama kamu seperti apa yang wanita tadi katakan."
"Sekarang aku tahu kenapa kamu berbicara seperti itu seolah olah kamu takut kehilanganku, tapi nyatanya kamu sudah menyiapkan semuanya untuk pergi meninggalkanku dan hidup dengan keluargamu di kota."
"Sekarang di perutku sudah ada calon anak kamu, dan aku ikhlas melepaskan kamu demi wanita tadi dan calon anak kalian."
"Mungkin ini memang jalan hidupku yang tidak pernah di takdirkan untuk bahagia, aku memang pantas hidup menderita seperti ini."
Aileen terus meracuni di dalam kamarnya, hingga sampai dia kelelahan dan tertidur di atas ranjang miliknya.
Entah bagaimana nanti perasaan Aileen ketika bangun, apakah dia akan baik baik saja setelah apa yang dia dengar tadi dari wanita itu.
__ADS_1
...***...