
"Apakah ini foto mama kamu?" Joan menunjukkan foto Fenny kepada Fatin.
"Emmm...." Fatin melihat foto yang ada di handphone Joan.
"Iya itu mama, kok Om bisa punya foto mama sih?" antusias Fatin saat melihat foto mamanya ada di handphone Joan.
Deg.
Seketika jantung Joan rasanya berhenti berdetak, otak Joan bekerja sangat lambat, benarkah ini semua, apakah ini hanya mimpi? pikir Joan.
"Om, om kenapa diam?" ucap Fatin membuyarkan lamunan Joan.
Grep.
Setelah tersadar Joan langsung memeluk Fatin dengan sangat erat, dia bahkan menangis dalam diam agar Fatin tidak mengetahuinya.
Fatin yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun hanya diam saja menerima pelukan Joan, kalau boleh jujur Fatin merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Joan, dia merasa berada di dalam pelukan seorang papanya.
Kalau Fatin ini anak Fenny, berarti Fatin ini adalah....
Joan ingat dulu waktu melakukan malam pertama bersama Fenny di sebuah rumah kosan milik Fenny.
Ya, sebenarnya dulu Fenny dan Joan sudah menikah siri, mereka berdua menikah tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan kedua orang tua Fenny pun tidak ada yang tahu.
__ADS_1
Dulu Fenny merantau ke kota untuk bekerja, dan dia di pertemukan dengan Joan yang waktu itu masih baru menjadi asisten Gara.
Mereka berdua saling mencintai hingga akhirnya Joan mengajak Fenny untuk menikah. Fenny yang waktu itu masih ingin bekerja pun setuju tapi dia tidak mau kedua orang tuanya tahu, sehingga mereka berdua hanya menikah siri saja.
Karena sebuah kesalahpahaman membuat Fenny pergi meninggalkan Joan di sana, Joan yang mendapati istrinya sudah pergi meninggalkan dirinya karena kesalahan yang dia buat pun merasa terpukul dan merasa sangat kehilangan Fenny.
Bahkan Joan juga tidak tahu kalau dia dan Fenny sudah mempunyai anak secantik Fatin, Joan sangat yakin kalau Fatin adalah anak Fenny, karena dari mata dan hidungnya saja itu sangat mirip dengan miliknya.
"Om." pangil Fatin pada Joan yang masih setia memeluk dirinya dengan erat.
"Fatin engap om." lanjut Fatin yang merasa Joan sudah terlalu erat memeluknya.
Mendengar itu Joan dengan cepat menghapus air matanya sebelum melepaskan pelukannya dengan Fatin, dia menatap Fatin sambil tersenyum.
"Om kenapa kok matanya merah?" tanya Fatin memegang pipi Joan yang masih ada sedikit sisa air matanya.
"Om habis nangis ya?" tanya Fatin menatap Joan dalam.
"Enggak kok, ini Om habis kelilipan." bohong Joan sambil tersenyum sangat manis kepada Fatin.
"Kata Buna kalau bohong itu dosa loh."
"Iiihh gemes banget sih sama kamu, kamu itu sama persis seperti mama kamu yang selalu bikin papa gemas." ucap Joan tanpa sadar karena dia terlalu gemas dengan Fatin.
__ADS_1
"Papa?" Fatin menatap Joan penuh tanya.
"Ehh... itu...." Joan bingung harus bagiamana sekarang, apakah dia harus menjelaskan siapa dirinya kepada Fatin.
Tapi dia juga harus membicarakan ini kepada Gara dan Aileen, dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan yang sangat besar ini. Dia juga takut nanti kalau Fatin malah akan benci kepadanya, dan akhirnya tidak mau dekat dengan dirinya lagi.
"Assalamualaikum."
Akhirnya, ada yang menyelamatkan Joan juga.
"Waalaikum salam Buna ayah." balas Fatin dan langsung berlari menghampiri Gara dan Aileen yang baru sampai di rumah.
"Aduh anak Buna, maaf ya tadi Buna sama ayah gak bisa jemput Fatin sekolah." Aileen menggendong Fatin dan membawa Fatin masuk ke dalam rumah kembali.
"Iya Buna gak papa, tadi Fatin pulang sama om Joan kok naik mobil." balas Fatin senang saat mengingat tadi dia pulang dari sekolah di jemput pakai mobil milik Joan.
"Wah benarkah?"
"Iya Buna."
Mereka bertiga pun masuk dan langsung bergabung bersama Joan yang ada di ruang tamu.
...***...
__ADS_1