
"Buna, Fatin kangen sama Buna." ucap Fatin saat melihat ada Aileen yang sudah berdiri di depan sekolahnya.
"Sama Buna juga kangen banget sama Fatin," balas Aileen memeluk dan mencium Fatin.
"Yuk kita pulang, kasian ayah sudah menunggu lama di depan." ajak Aileen dan di angguki Fatin.
Mereka berdua pun akhirnya keluar dari halaman sekolah Fatin untuk menemui Gara. Banyak pasang mata yang melihat mereka berdua, terutama ibu ibu yang sejak awal tidak suka dengan Aileen.
Meskipun mereka sekarang sudah tidak pernah lagi terang terangan menjelekkan Aileen atau pun Fatin, tapi mereka masih suka diam diam membicarakan Aileen di belakang Aileen.
"Liat deh, sekarang sudah punya suami si Aileen makin sombong ya, sudah tidak pernah lagi menyapa kita kita." ucap salah satu ibu ibu mengimpori ibu ibu yang lainnya.
"Iya benar, apalagi sekarang Fatin sudah ketemu sama papanya, semakin sombong aja si Aileen." balas yang lainnya.
Hellooow, sepenting itukah Aileen menyapa kalian, kalian aja gak respect sama Aileen, masak iya Aileen harus menyapa kalian dengan ramah gitu.
Sementara itu Aileen bersama Fatin yang sudah sampai di tempat Gara menunggu mereka pun mulai menaiki motor Gara dengan Fatin yang berdiri di depan Gara.
"Gimana tadi ujiannya sayang?" tanya Gara sambil mulai menjalankan motornya.
"Lancar ayah, Fatin juga rajin kalau belajar." jawab Fatin antusias.
"Wah anak ayah pintar, kamu masih ingatkan dengan janji ayah kalau kamu dapat rangking satu ayah bakal ajak Fatin jalan jalan."
"Iya ayah Fatin ingat, jadi Fatin semakin semangat belajarnya." balas Fatin.
"Buna nanti sampai rumah langsung bantuin Fatin belajar ya." pinta Fatin kepada Aileen yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Iya sayang nanti Buna bantu." balas Aileen.
"Mas," pangil Aileen kepada Gara.
"Iya kenapa hmm?" balas Gara bertanya.
Gara yakin kalau Aileen memanggilnya pasti ada sesuatu yang ingin Aileen katakan.
"Nanti kita mampir dulu ke jalan besar di depan ya sebelum pulang, aku pengen beli gado gado di sana." perintah Aileen.
"Iya nanti kita beli." balas Gara.
__ADS_1
Untung saja mereka bawa uang, coba kalau tidak apakah Gara harus mengemis dan mencucikan piring penjualnya karena ingin membelikan istrinya ini gado gado.
Ah, itu ide yang buruk. pikir Gara.
Hingga akhirnya motor Gara berhenti di depan penjual gado gado dan Aileen pun turun untuk membelinya.
"Yang beli tiga ya sekalian." pinta Gara dan di angguki oleh Aileen.
"Fatin kamu mau pedas apa enggak?" tanya Aileen kepada Fatin yang masih setia duduk di atas motor Gara tidak ikut turun dengan Aileen.
"Fatin gak pakai cabe Buna." jawab Fatin.
"Aku biasa aja yang, gak pedes pedes banget." timpal Gara sebelum Aileen bertanya.
Aileen pun pergi menghampiri penjual gado gado itu dan segera memesankan pesanan mereka untuk di bungkus bawa pulang.
"Buk saya pesen gado gadonya tiga di bungkus, satu gak pakai cabe yang satu cabenya satu dan yang satunya lagi cabenya lima." ucap Aileen menyebutkan pesanannya.
"Iya neng tunggu sebentar ya." balas penjual gado gado menyuruh Aileen menunggu sebentar.
"Iya Bu." balas Aileen.
"Yah nanti papa gak pulang ya?" tanya Fatin kepada Gara.
"Enggak sayang, pekerjaan ayah kalau hari Sabtu seperti ini bakalan bertambah banyak, jadi papa tidak pulang dulu. Mungkin besok papa sama mama Fatin pulang." jawab Gara karena memang kalau hari Sabtu seperti ini Joan akan lemburan.
"Fatin nginap di rumah Buna kan?" tanya Fatin lagi.
"Iya dong, buna sama ayah udah kangen sama Fatin, makanya ayah sama Buna tadi yang jemput Fatin sekolah bukan nenek Maya." jawab Gara.
"Terus nanti kalau Fatin tidur di rumah Buna, nenek sama siapa di rumah?" Fatin kasian karena nenek Maya sendirian di rumah karena papa dan mamanya gak pulang.
"Kan nenek udah biasa sendirian dulu sebelum Fatin suka tinggal di sana." balas Gara.
"Ya sudah, tapi besok Fatin pulang ke rumah nenek ya ayah, kasian neneknya kalau sendirian."
"Iya sayang terserah kamu." balas Gara.
Fatin sekarang memegang sudah krasan tidur di rumah ibu Maya, dan kalau Fatin tinggal di rumah Aileen pasti dia akan kepikiran kalau ibu Maya akan tidur seorang diri.
__ADS_1
Fatin bukannya tidak sayang lagi kepada Aileen, tapi dia tahu kalau sekarang bunanya sudah ada yang menemani tidur jadi Buna Aileen aman kalau Fatin tinggal. Berbeda dengan ibu Maya yang kalau dia tinggal malah akan sendirian di rumah karena tidak ada teman.
"Dah yuk kita pulang." ajak Aileen yang sudah mendapatkan gado gado miliknya.
Gara melihat sebentar tangan Aileen yang sudah menenteng satu kantong kresek yang mungkin berisi gado gado milik mereka, dan setelah itu dia langsung menghidupkan mesin motor miliknya.
Mereka pulang menuju rumah Aileen sambil bercanda di jalan, sampai di rumah Aileen langsung menyuruh Fatin agar berganti baju sebelum nenti mereka makan gado gado.
"Punya kamu cabenya berapa yang?" tanya Gara yang sudah duduk di meja makan dengan di hadapannya ada gado gado yang sudah Aileen siapkan untuknya.
"Lima." jawab Aileen santai membuat Gara kaget.
"Yang jangan becanda deh," tak percaya Gara.
"Coba aja kalau gak percaya, emang tadi aku kasih cabe lima kok." balas Aileen.
"Kamu yakin mau makan makanan sepedas itu, nanti gimana kalau perut kamu sakit?" khawatir Gara.
"Halah cuma cabe segitu mana kerasa sih, lagian aku juga udah kebal jadi gak bakalan sakit perut." balas Aileen yang mengganggap sepele makanan pedas.
"Tetap aja aku khawatir yang, jangan kamu makan ya, kita makan punya aku aja berdua." pinta Gara yang khawatir dengan keadaan Aileen nantinya.
"Gak mau, aku maunya makan punya aku kok." tolak Aileen yang memang dari awal ingin makan makanan yang pedas pedas.
"Tapi sayang, bagaimana nanti kalau perut kamu sakit?"
"Gak bakalan mas, udah deh kamu makan punya kamu aja." balas Aileen yang mulai greget dengan Gara karena terlalu cerewet menurutnya.
"Buna Fatin udah selesai." ucap Fatin setelah selesai berganti pakaian.
"Sini sayang kita makan," ajak Aileen yang sudah menyiapkan gado gado milik Fatin.
Fatin pun langsung mengambil tempat duduk di samping Aileen dan sebelum mulai makan dia tak lupa berdoa dulu.
Mereka pun mulai makan dengan Gara yang sesekali melirik ke arah Aileen takut kalau nanti Aileen kepedesan. Tapi yang Gara lihat Aileen biasa biasa saja seperti makan makanan yang tidak pedas, mungkin benar kata Aileen kalau dia sudah terbiasa makan makanan yang pedas.
"Hah hah hah, mas pedas mas pedas."
Tuh kan, baru juga Gara pikirkan sekarang sudah teriak kepedesan, dasar.
__ADS_1
...***...