
"Mas kamu tahu pohon mangga di pertigaan depan milik pak anas gak?" tanya Aileen kepada Gara yang saat ini tengah tiduran dengan bantalan paha Aileen.
"Hmm." balas Gara hanya bergumam saja karena dianggap tengah asik menikmati pijatan di pelipisnya yang tengah Aileen pijatin.
"Kamu mau gak ambilin buat aku, nanti bilang aja sama pak Anas kalau aku yang minta." pinta Aileen.
"Gak usah aneh aneh deh yang, mending beli di pasar aja banyak." balas Gara yang malu kalau harus di suruh meminta kepada orang, karena seumur umur Gara tidak pernah kekurangan apapun.
"Iih mangga milik pak anas itu enak loh, dulu waktu aku kecil sering minta sama pak Anas buat rujak manis."
"Ya itukan dulu sayang, beda dengan sekarang." balas Gara lagi.
"Iih aku pengen mangga itu loh, ayo plis ambilin ya." rengek Aileen agar Gara mau memintakannya kepada pak anas pemilik mangga yang ada di pertigaan.
"Gak ah, mending kamu suruh aku beli aja di pasar, dari pada harus minta minta sama orang." tolak Gara.
"Iiihh...."
"Auw, aduh sakit yang, aduh." lengkuh Gara karena Aileen menjambak rambutnya dengan kasar.
"Bodo amat." Aileen memindahkan kepala Gara dengan kasar ke atas tempat duduknya tadi, dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Gara di ruang tamu.
"Kok gini sih, kan niat aku baik nawarin beli di pasar aja dari pada minta sama orang," grutu Gara menatap kepergian Aileen yang sudah masuk ke dalam kamar.
Gara pun merubah posisi tidurnya menjadi duduk, "Biarlah nanti aja bujuknya." ucap Gara yang sedang malas berdebat dengan Aileen hanya karena sebuah mangga saja.
Karena gabut Gara pun mengambil handphone miliknya, dan langsung membukanya untuk melihat berita seputar bisnis agar dia tidak ketinggalan informasi meskipun dia tidak berada di kota.
Ceklek.
Bunyi pintu kamar terbuka yang membuat Gara menoleh ke arah pintu kamar.
"Loh, kamu mau kemana yang?" tanya Gara yang melihat Aileen sudah berganti pakaian.
Tadi Aileen menggunakan daster rumahan, dan sekarang Aileen sudah berganti kaos lengan pendek dengan di padukan celana pendek se lutut.
"Manjat pohon mangga." jawab Aileen dan berlalu pergi keluar rumah meninggalkan Gara.
__ADS_1
Gara melongo, otaknya loading untuk mencerna apa yang akan Aileen lakukan, sesaat setelah itu dia tersadar dan langsung lari ngibrit pergi ke kamar untuk mengambil kaos.
"Sayang tungguin aku." teriak Gara mengejar Aileen yang sudah berjalan jauh dari rumahnya.
"Bisa gaswat ini mah." gumam Gara sambil berjalan cepat menyusul Aileen.
Aileen hanya menoleh sebentar ke belakang menengok Gara, dan tetap melanjutkan langkahnya menuju rumah pak Anas untuk meminta mangga muda.
"Assalamualaikum pak Anas." ucap salam Aileen kepada sang pemilik rumah setelah sampai di depan rumah pak Anas.
"Waalaikum salam, eh nak Aileen ada apa ya siang siang gini main ke sini?" tanya pak Anas yang membukakan pintu untuk Aileen.
"Eemmm... Aileen mau minta buah mangga mudanya boleh kan?" pinta Aileen.
"Sayang, kok aku di tinggal sih."
Hos hos hos.
Ucap Gara sambil ngos ngosan karena mengejar Aileen.
Aileen tak menghiraukan keberadaan Gara di belakangnya, dia hanya menoleh sebentar dan kembali lagi menatap pak Anas.
"Aileen mau manjat pak." jawab Aileen membuat pak Anas dan Gara yang ada di belakang Aileen melongo.
Benarkah Aileen mau manjat, pohon mangga itu tinggi banget loh, sedangkan Aileen itu cewek, masak iya mau manjat pohon mangga setinggi itu.
"Kamu yakin?" tanya pak Anas memastikan.
"Yaki...n pak."
"Maksud Aileen itu saya yang akan memanjat pak, Aileen hanya bercanda tadi." potong Gara sambil tersenyum kepada pak Anas.
"Ooh gitu saya kira tadi Aileen serius, ya sudah sana ambil aja sesuka kalian bentar bapak ambilkan kresek dulu buat wadah." balas pak Anas kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil mereka berdua kresek.
Setelah kepergian pak Anas, hawa di sana terasa sangat hormat bagi Gara, dia bisa melihat ada tatapan tajam yang mengarah kepadanya.
Siapa lagi kalau bukan Aileen, Aileen lah yang memberikan tatapan yang sangat horor buat Gara.
__ADS_1
"Ini kreseknya, bapak gak bisa menemani kalian karena ayam bapak di belakang waktunya ngasih makan, kalian hati hati ya ambilnya." ucap pak Anas yang sudah kembali dan memberikan kresek hitam buat Aileen.
"Iya pak tidak apa apa, terimakasih ya pak." balas Aileen.
"Iya Leen kayak sama siapa aja kamu ini." balas pak Anas dan masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Nih." Aileen menyodorkan kresek hitam itu kepada Gara.
"Buat apa?" tanya Gara dengan dahi yang mengernyit heran.
"Buat ambil mangga muda lah, tadi katanya mau manjat." jelas Aileen memaksa Gara agar menerima kantong kresek yang ada di tangannya.
"Kamu serius yang suruh aku manjat pohon ini?" tanya Gara sambil memandangi pohon mangga yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu yang mau manjat, aku gak pernah suruh kamu buat manjat kok, kamu sendiri yang mau." balas Aileen santai dan berlalu menuju bawah pohon mangga yang sangat lebat daun dan buahnya.
Glek.
Gara menelan ludahnya kasar, seumur umur dia tidak pernah memanjat pohon, dan ini kali pertama dia harus memanjat pohon, mana pohonnya segede ini lagi.
"Ya Allah tolong lindungi hamba." doa Gara sebelum melangkahkan kakinya mendekati pohon mangga.
"Cepat tunggu apa lagi." garang Aileen menatap Gara yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Iya sayang, sebentar." balas Gara dan dengan ragu melangkahkan kakinya mendekati Aileen.
Sampai di bawah pohon mangga, Gara menatap ke atas dan nyalinya semakin menciut saat melihat betapa tingginya pohon mangga itu.
Gara menoleh ke Aileen yang terlihat sangat antusias melihat buah buah mangga muda yang bergelantungan di atas sana. Ingin rasanya Gara menyerah dan menyuruh Aileen saja yang naik, tapi Gara kembali teringat kalau Aileen itu takut ketinggian.
Kalau Gara biarkan Aileen yang naik, bisa bisa nanti terjadi sesuatu dengan Aileen saat berada di atas sana, dan dia tidak bisa menolong Aileen.
Tapi kalau dia yang manjat, dia tidak bisa, dan mau berkata jujur juga dia malu. Masakan iya manjat pohon gitu aja gak bisa, apa kata Aileen nanti, pikir Gara.
"Kamu bisa manjat gak sih?" tanya Aileen yang melihat Gara masih juga belum mulai memanjat pohon.
"Bi-bisa lah, manjat pohon segini doang mah kecil." balas Gara.
__ADS_1
Mulut dan hati Gara berbeda, mulutnya bilang bisa, tapi dalam hatinya dia menjerit meminta tolong.
...***...