
"Iya Tante Fatin gak sedih kok." balas Fatin.
"Nah gitu dong, itu baru Fatin yang Tante kenal." Arumi mengelus rambut Fatin penuh kasih sayang.
Mereka berbincang bincang sampai waktu adzan isya' barulah Arumi pamit pulang.
"Fatin tante pulang dulu ya, mungkin nanti kita akan lama gak ketemu. Tante pasti nanti akan kangen banget sama Fatin." pamit Arumi.
"Iya Tante Fatin pasti juga akan kangen sama Tante, Tante nanti di sana hati hati ya." balas Fatin.
"Iya sayang." balas Arumi.
"Leen aku pamit dulu ya, kamu baik baik ya di sini, nanti kalau ada apa apa kamu bisa langsung hubungi aku ke nomor yang sudah aku kasih." pamit Arumi pada Aileen.
"Iya mbak, mbak Rumi nanti hati hatinya ya di sana, jaga diri mbak Rumi baik baik. Aileen doakan semoga besok persidangannya lancar." balas Aileen.
"Aamiin leen, makasih ya doanya."
"Aku titip Fatin sama Aileen ya, jaga mereka baik baik dan buat mereka bahagia karena selama ini hidup mereka sudah menderita." ucap Arumi pada Gara.
"Iya aku pasti bakal menjaga mereka kok." balas Gara.
"Ya sudah aku pamit dulu ya, dadaaah Fatin sampai ketemu nanti."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." balas mereka bertiga.
Mereka memandangi Arumi yang sudah menaiki motor miliknya meninggalkan halaman rumah Aileen.
"Sudah jangan sedih, nantikan kita bisa pinjam handphone paman buat telfon Tante Arumi." ucap Aileen pada Fatin yang sedih memandangi kepergian Arumi.
"Beneran Buna?"
"Iya dong."
"Tidak perlu pinjam punya paman Joko, aku ada kok handphone, nanti bisa kalian pakai sepuas kalian." sahut Gara menengahi pembicaraan ibu dan anak itu.
"Beneran ayah?"
"Iya dong, kan ayah kalau ngojek juga butuh handphone." balas Gara.
__ADS_1
"Horeee nanti bisa telfon Tante Arumi." senang Fatin.
Aileen yang melihat itupun tersenyum, "Ya udah yuk kita masuk, kita sholat isya berjamaah." ajak Aileen pada suami dan anaknya.
"Yuk." balas Fatin dan Gara.
Mereka bertiga pun masuk kedalam rumah, tak lupa Aileen langsung mengunci pintu rumahnya karena memang sudah malam hari jadi tidak mungkin akan ada tamu yang datang.
Mereka bertiga sholat isya'berjamaah dengan Gara yang menjadi imam, dan Fatin juga Aileen yang menjadi makmum.
Mereka terlihat sudah seperti keluarga yang lengkap, andai saja rasa cinta itu sudah hadir di antara keduanya, mungkin akan ada kebahagiaan yang ada di tengah tengah mereka.
"Makan malam sama mie rebus mau kan?" tanya Aileen pada Gara dan Fatin.
"Iya Buna mau." balas Fatin antusias.
Fatin sangat menyukai olah makanan yang berunsur mie, apalagi mie instan dia sangat menyukainya.
"Kenapa harus mie lagi, kan kemaren lusa udah makan mie?" ucap Gara membuat ibu dan anak itu seketika menatap ke arahnya.
"Emang kenapa ayah kalau makan mie, mie itu enak loh, apalagi mie instan." tanya Fatin.
"Mie itu tidak baik buat kesehatan sayang, emang mie itu enak tapi itu sangat berbahaya buat tubuh kita kelak." balas Gara memberikan pengertian buat Fatin.
Aileen memang tahu kalau mie itu tak baik buat tubuh, tapi mau bagaimana lagi, yang murah dan mudah itu hanya mie.
"Kita cari makanan diluar aja yuk." ajak Gara.
"Beli makan di luar itu mahal, emang kamu ada uang?" balas Aileen.
Aduh, sepertinya Gara lupa kalau dia saat ini tengah pura pura menjadi orang biasa.
"A-ada kok, kan tadi aku narik ojek." gagap Gara.
"Benarkah, bukannya tadi kamu sibuk jalan jalan sama Fatin?" selidik Aileen.
"Itu, anu...." Gara bingung harus memberikan alasan apa biar Aileen tidak curiga kepadanya.
"Jangan bilang kalau kamu pinjam uang lagi pada Joan?" tuduh Aileen.
"Hehehe." cengir Gara.
__ADS_1
Sepertinya itu tidak buruk, dia bilang saja nanti kalau Joan yang memaksa dia buat menerima pinjaman uang dari Joan.
"Kamu kenapa sih suka banget pinjam uang sama orang, emang kamu gak takut kalau suatu saat nanti Joan menagih uangnya dan kamu belum ada uang buat bayar." tegas Aileen.
"Ya, a-aku...."
"Stop ya, mulai sekarang aku gak mau lagi kamu pinjam uang sama Joan, uang yang kemaren aja belum kamu balikin, ini kamu sudah pinjam uang lagi." potong Aileen.
"Kamu harus terbiasa hidup seperti ini, makan apa yang ada, mie memang gak baik buat tubuh, tapi cuma itu yang harganya murah." lanjut Aileen memberikan wejangan pada Gara.
"Kalau kamu tidak biasa hidup seperti ini, maaf dengan berat hati aku mengatakan kamu bisa pergi dari sini." lanjut Aileen lagi.
Perkataan terakhir Aileen itu membuat mataku Gara melotot, masak hanya perkara utang saja Gara mau di usir dari rumah ini. Tidak bisa, oh tidak bisa. Gara tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Aku minta maaf, kalau kaku usir aku, aku mau tinggal di mana. Sebenarnya uang aku itu bukan pinjam sama Joan, tapi itu uang hasil dari aku jual rumah."
Tuh kan ada aja alasan Gara buat berbohong, emang ya kalau udah sekali berbohong maka akan ada kebohongan kebohongan lagi di belakangnya.
"Astaghfirullah, kamu seriusan jual rumah kamu?" tak percaya Aileen.
"I-iya." gagap Gara.
"Kenapa kamu melakukan itu, rumah itu tempat tinggal kita, kalau rumah itu kamu jual kamu mau tinggal di mana?" tak habis pikir Aileen dengan cara berfikir Gara.
"Ya kan aku fikir aku udah tinggal di sini sama kamu, dari pada rumah itu gak kepakai ya mending aku jual buat beli motor sama yang lainnya." balas Gara.
Benar juga sih apa yang Gara bilang, karena rumah kalau tidak di tempati itu pasti lama kelamaan akan rusak karena tidak kepakai, jadi ya apa yang Gara lakukan itu menurut Aileen sudah benar.
Tapi tetap saja bagi Aileen itu salah, karena Gara sudah menghamburkan uang hasil jual rumahnya, kan uangnya bisa buat buka usaha dari pada harus buat beli ini itu.
"Kamu tenang aja, uangnya masih ada banyak kok, besok aku ambil di bank dan aku kasih ke kamu semuanya biar kamu yang pegang." ucap Gara yang tahu kalau di pikiran Aileen pasti uangnya sudah habis.
"Huh, terserah kamu sajalah." pasrah Aileen.
"Kali ini aja ya kita cari makan diluar, plis." mohon Gara.
Gara sangat ingin pergi jalan jalan bertiga, karena tadi siang tidak kesampaian karena Aileen harus kerja, maka malam ini dia harus bisa mengajak Aileen jalan jalan.
"Ya udah ayo." balas Aileen membuat Gara senang.
"Horeee kita makan di luar lagi." senang Fatin yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya.
__ADS_1
...***...