
"Jangan jangan...."
"Pak, pak Anas tolongin saya pak." pangil Gara dengan suara keras saat melihat keberadaan pak Anas di depan rumah.
"Loh kok manggil manggil nama saya," Pak Anas semakin di buat merinding karena ada yang memangil namanya.
"Woy pak saya di sini." teriak Gara lagi.
"Siapa ya itu?" tanya pak Anas berteriak.
"Ini saya pak Gara suami Aileen." balas Gara.
"Loh nak Gara, kamu ada di mana?" tanya pak Anas mencari keberadaan Gara.
"Saya ada di atas pohon pak, tolong bantuin saya turun dari sini." balas Gara.
Pak Anas yang mendengar itupun langsung berlari menuju pohon mangga yang ada di depan rumahnya dan langsung melihat ke atas pohon dan menemukan Gara yang ada di atas sana.
"Astaga nak Gara ngapain masih di sana?" kaget pak Anas karena dia kira Aileen dan Gara sudah pergi dari depan rumahnya.
"Saya gak bisa turun dari sini pak, tolong bantuin Gara." pinta Gara memelas.
"Astaga, bentar bentar saya ambil tangga dulu." pak Anas langsung pergi kembali ke dalam rumahnya untuk mengambilkan Gara tangga.
"Awas aja nanti ya kelinci kucing kecilku sudah berani meninggalkan aku sendiri di sini." tersenyum sambil memikirkan hukuman apa yang nanti akan dia berikan kepada Aileen.
...**...
Sementara itu di tempat lain semua warga pada heboh mengejar mobil pemadam kebakaran yang datang ke kampung mereka sambil berteriak memberi tahu kepada yang lainnya kalau ada kebakaran di sana.
"Kebakaran kebakaran." teriak para warga.
Mereka lupa, kalau tugas pemadam kebakaran bukan hanya memadamkan api, tapi mereka juga memiliki tugas yang lainnya.
"Dimana kebakarannya pak?" tanya Aileen kepada bapak bapak yang juga ikutan berteriak kebakaran.
"Tidak tahu Lin, kita masih mengikuti kemana mobil pemadam kebakaran itu pergi." jawab tetangga Aileen dan di balas anggukan dari Aileen.
Drrtt drrtt drrtt.
Handphone yang ada di tangan Aileen bergetar, Aileen pun langsung menjawab panggilan telefon di handphone Gara itu.
"Halo mbak."
__ADS_1
"Iya pak halo," balas Aileen.
"Ini tempatnya di mana ya?" tanya orang itu yang ternyata adalah salah satu personil pemadam kebakaran yang Aileen telfon tadi.
"Tempat apa ya pak?" tanya Aileen bingung.
"Loh, kan tadi mbaknya yang telfon kita untuk meminta bantuan." balas orang itu.
"Aduh mampus aku." Aileen langsung menepuk jidatnya saat baru mengingat kalau dialah yang menciptakan kerusuhan di kampungnya.
Dan Aileen juga baru ingat kalau dia sudah meninggalkan Gara sendirian di atas pohon.
"Halo mbak, mbaknya masih di sana kan?" tanya pemadam kebakaran itu karena Aileen hanya diam saja.
"Ah iya pak, saya akan samperin mobil bapak, ini saya ada di belakang mobil bapak kok." jawab Aileen.
"Iya mbak kita tunggu." balas pemadam kebakaran.
Telfon pun di matikan dan sebelum berjalan menuju mobil pemadam kebakaran itu, Aileen menarik nafasnya dalam dan pergi ke sana.
"Loh mobilnya kok berhenti, ini di mana kebakarannya?" tanya salah satu warga yang melihat mobil itu berhenti.
"Iya ya, di sini kok gak ada asap sama sekali?" balas warga yang lainnya bingung.
"Permisi pak." ucap Aileen menghampiri para petugas pemadam kebakaran yang sudah keluar dari mobil.
"Mbaknya yang telfon kami?" tanya mereka.
"Iya pak benar." jawab Aileen.
"Lalu di mana yang harus kita tolong mbak, dan siapa yang harus kita tolong, apakah kucing atau siapa?" tanya mereka beruntun yang membuat Aileen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"I-itu...."
"Sayang, kamu kok tega sih tinggalin aku sendirian di sana." ucap seseorang memanggil Aileen yang membuat Aileen berbalik dan kaget melihat keberadaan Gara di sana.
"Loh kamu kok sudah ada di sini?" kaget dan bingung Aileen.
"Mbak gimana, siapa yang harus kita tolong?" tanya mereka karena Aileen belum menjawab pertanyaan mereka tadi.
"Udah pak gak jadi, saya sudah bisa turun dari pohon." balas Gara membuat mereka bingung menatap Gara.
"Sebenarnya tadi saya ingin meminta bantuan kalian untuk membantu suami saya yang tidak bisa turun dari pohon mangga, tapi ternyata sekarang suami saya sudah bisa turun." jelas Aileen dengan muka yang sudah sangat malu, apalagi sekarang banyak warga yang bergerombol mengerubungi mereka.
__ADS_1
"Huuuu... bikin orang heboh aja." sorak para warga setelah mendengarkan penjelasan Aileen.
"Maaf pak Bu, maaf." ucap Aileen meminta maaf dengan menahan rasa malunya.
"Bubar bubar." ucap mereka dan mulai bubar sambil membicarakan kelakuan Aileen.
"Jadi gimana ini mbak, kita di sini ngapain?" tanya pemadam kebakaran kepada Aileen.
"Ya, ya gak ngapa-ngapain pak, orang saya udah bisa turun." jawab Gara.
"Maaf pak, sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuat kalian datang ke sini tapi ternyata suami saya sudah bisa turun dari pohon. Saya minta maaf, bukan maksud saya untuk mempermainkan pekerjaan kalian." ucap permintaan maaf Aileen karena merasa sudah mempermainkan mereka.
"Oalah mbak mbak, lain kali kalau ada apa apa itu jangan asal panggil kita. Pikirkan dulu ada yang bisa bantu gak di sekitar kalian, baru kalau tidak ada cara lain lagi kalian bisa panggil kami." pesan mereka kepada Aileen dan Gara.
Aileen yang mendengar itu merasa sangat malu, berbeda dengan Gara yang biasa biasa saja.
"Ya udah mbak, kalau begitu kita pamit pergi dulu, ingat pesan kami tadi." pamit mereka kepada Aileen.
"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf." balas Aileen.
"Ehh tunggu pak." tahan Gara saat para pemadam kebakaran akan menaiki mobil.
"Iya mas ada yang bisa kami bantu?" tanya mereka menatap Gara.
"Saya sini handphone aku." pinta Gara kepada Aileen.
Aileen pun memberikan handphone Gara, dan Gara langsung mengotak atik handphonenya.
"Tulis nomor rekening kalian, biar saya ganti waktu kalian yang terbuang sia sia ini." suruh Gara menyodorkan handphonenya agar salah satu dari mereka menuliskan nomor rekeningnya.
Meskipun bingung, tapi salah satu dari mereka tetap mengetikkan nomor rekeningnya di handphone Gara.
"Ini sudah saya transfer uang untuk kalian, dan jangan menyalahkan istri saya karena ini bukan salahnya." ucap Gara dengan wajah datar menatap mereka.
Klunting.
Salah satu dari para pemadam kebakaran itu melihat handphonenya yang berbunyi dan matanya langsung melotot melihat notifikasi yang masuk di handphonenya.
"Jangan bilang berapa jumlahnya, dan silahkan pergi dari sini, dan ingat ini bukan salah istri saya." peringat Gara.
"Ayo sayang kita pergi." ajak Gara merangkul bahu Aileen pergi dari sana.
Gara memberikan uang seratus juta sebagai gantinya, Gara tidak suka kalau ada yang menyalahgunakan istrinya seperti tadi. Itu bukan salah Aileen, tapi salah dirinya yang tidak bisa turun dari atas pohon.
__ADS_1
...***...